Kebijakan Baru: Tingkat Stress Air di Timur Tengah Paling Parah di Dunia, Kuwait No.1

Tingkat Stress Air di Timur Tengah Terparah Dunia, Kuwait Teratas

Air bersih yang tersedia saat ini berperan sebagai tantangan utama bagi operasional dan kehidupan di berbagai belahan dunia. Di beberapa wilayah, konsumsi air telah melebihi kemampuan alam untuk mengembalikan persediaannya. Data dari Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) tahun 2022 menunjukkan bahwa stres air diukur berdasarkan rasio penggunaan air tawar terhadap total sumber daya air yang dapat diperbarui.

Negara-negara dengan skor melebihi 100% menggambarkan penggunaan air yang lebih tinggi dari pasokan alami, sehingga memaksa mereka mengandalkan penipisan air tanah atau teknologi desalinasi. Di Timur Tengah, skor stres air mencapai tingkat ekstrem, dengan beberapa negara menggunakan air hingga 10-30 kali lipat lebih banyak dari yang bisa dipertahankan secara alami.

Kuwait menjadi negara terburuk dengan stres air mencapai 3.850%, sementara Uni Emirat Arab mengikuti dengan 1.509,9%. Arab Saudi menempati posisi ketiga dengan 974,2%, di mana Libya dan Qatar masing-masing mencatatkan rasio 817,1% dan 431%. Wilayah ini secara umum mengalami tekanan besar terhadap ketersediaan air karena kondisi iklim kering dan pertanian yang sangat boros sumber daya.

Sementara itu, negara-negara seperti Pakistan dan Yordania juga mengalami stres air di atas ambang 100%, masing-masing 110% dan 105%. Dalam perbandingan dengan kekuatan ekonomi global, Tiongkok menggunakan 41,5% air terbarukannya, sementara Amerika Serikat hanya 28,2%, menjadikannya negara dengan tingkat stres air ke-58 di dunia. Di sisi lain, negara dengan cadangan air melimpah, seperti Papua Nugini, Bolivia, dan Republik Demokratik Kongo, memiliki stres air yang sangat rendah.

Kongo, misalnya, menjadi satu-satunya negara dalam data ini dengan angka 0% stres air, karena menguasai 62% wilayah Lembah Kongo—sistem sungai terbesar kedua di dunia. Negara-negara yang melebihi batas anggaran air alaminya mengandalkan infrastruktur buatan untuk memenuhi kebutuhan, seperti penambangan air tanah fosil dari lapisan akuifer dalam yang tidak bisa terisi secara alami. Praktik ini tidak hanya terjadi di Timur Tengah, tetapi juga digunakan luas di Amerika Serikat dan Tiongkok.

Solusi yang digunakan oleh negara-negara kering adalah desalinasi, yaitu mengubah air laut atau air asin menjadi air minum. Meski proses ini dulu membutuhkan energi besar dan biaya tinggi, perkembangan teknologi saat ini membuatnya lebih efisien, membuka peluang investasi baru. Dengan perubahan iklim global dan permintaan air yang terus meningkat, ketersediaan air diprediksi akan menjadi faktor kritis dalam pengembangan ekonomi negara-negara di masa depan.

**Sanggahan:** Artikel ini merupakan hasil riset jurnalistik dari CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan untuk mendorong pembaca membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi tertentu. Keputusan berada sepenuhnya di tangan pembaca, sehingga CNBC Indonesia Research tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *