Strategi Penting: Harga Perak Mulai Bergairah, Siap-Siap Meroket Lagi?

Harga Perak Mengalami Peningkatan, Kenaikan Lagi Diprediksi?

Minggu ini, harga perak kembali menunjukkan aktivitas positif di pasar, setelah sempat mengalami penurunan akibat investor mengambil jeda setelah mengalami kenaikan signifikan beberapa waktu lalu. Menurut data Refinitiv, harga perak ditutup di level US$84,33 per troy ons pada Jumat (6/3/2026), meningkat 2,63% dibandingkan hari sebelumnya.

Sebagai gambaran, meskipun ada peningkatan harian, harga perak justru turun 10,11% secara point-to-point sepanjang pekan ini. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi global, termasuk perang yang masih berlangsung. Perang tersebut telah memengaruhi dinamika harga energi, yang secara tidak langsung mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga.

Di sisi lain, data tenaga kerja AS turut menjadi perhatian. Laporan Challenger Job Cuts mencatat 48.307 pengangguran pada Februari, menurun 55% dari Januari yang mencapai 108.435. Namun, klaim awal tunjangan pengangguran (Initial Jobless Claims) untuk pekan berakhir 28 Februari mencapai 213 ribu, sesuai dengan angka sebelumnya dan lebih rendah dari perkiraan pasar 215 ribu.

Produktivitas tenaga kerja nonpertanian pada kuartal IV 2025 juga mencatatkan kenaikan 2,8%, melambat dari pertumbuhan 5,2% di kuartal III. Sementara biaya tenaga kerja per unit naik 2,8%, berbalik dari penurunan -1,8% pada periode sebelumnya. “Laporan penggajian yang melemah menunjukkan kehilangan pekerjaan masif di sektor swasta seiring kenaikan upah, yang mengisyaratkan stagflasi,” kata Tai Wong, pedagang logam independen, seperti dilaporkan Reuters, Minggu (8/3/2026).

Selain itu, perang Israel-Iran memicu ketegangan di Timur Tengah yang memperkuat ekspektasi tekanan inflasi. Serangan besar Israel terhadap infrastruktur Iran pada Kamis (5/3/2026) memperparah ketidakstabilan pasar, sekaligus memperkuat peran energi dalam memengaruhi harga logam. Dalam konteks ini, para pembuat kebijakan The Fed diperkirakan akan menggelar rapat pada 18 Maret 2026, dengan kemungkinan menahan suku bunga di tingkat yang sama.

Market saat ini memprediksi pemangkasan kebijakan moneter AS sekitar 40 basis poin tahun ini, karena lonjakan harga minyak global mengurangi harapan penurunan suku bunga. Meskipun harga perak melemah, seperti emas, potensinya untuk naik tetap terbuka, terutama jika konflik terus memperkuat tekanan inflasi.

CNBC INDONESIA RESEARCH [email protected] (chd) Add as a preferred source on Google

“Laporan penggajian yang sangat lemah yang menunjukkan kehilangan pekerjaan besar-besaran di sektor swasta bersamaan dengan kenaikan upah mengisyaratkan stagflasi,” kata Tai Wong, seorang pedagang logam independen, dikutip dari Reuters, Minggu (8/3/2026).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *