Polda Papua ungkap 111 kasus narkotika – sita 40,7 Kg ganja

Polda Papua Tangani 111 Kasus Narkotika, Sita 40,7 Kg Ganja

Kapolda Papua: Operasi Berhasil Menangkap 157 Tersangka

Polda Papua ungkap 111 kasus narkotika – Kepolisian Daerah Papua (Polda Papua) berhasil menemukan 111 kasus penggunaan narkotika selama periode Januari hingga awal bulan Juni 2026. Operasi ini mengungkap keberadaan 157 pelaku yang terlibat dalam distribusi dan konsumsi narkoba, serta menemukan barang bukti berupa ganja, sabu, dan obat keras. Angka tersebut mencerminkan intensifikasi upaya pihak berwenang dalam menekan peredaran narkotika di wilayah Papua, yang dikenal sebagai area rawan penggunaan zat berbahaya.

Menurut laporan terbaru, operasi antinarkoba yang dilakukan Polda Papua menghasilkan penemuan ganja seberat 40,7 kilogram. Selain itu, petugas juga menyita 134 gram sabu dan 3.745 butir pil keras. Barang-barang tersebut ditemukan dari berbagai titik penangkapan, termasuk di daerah-daerah yang memiliki akses terbatas ke pasar global. Angka tersebut menunjukkan peningkatan dari tahun sebelumnya, di mana penangkapan kasus narkoba di Papua mencapai rekor tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.

“Kami berhasil mengungkap 111 kasus narkotika selama Januari hingga Juni 2026, dengan total 157 tersangka. Barang bukti yang disita mencakup 40,7 kg ganja, 134 gram sabu, serta 3.745 butir obat keras,” ujar Kombes Alfian, Kepala Unit Reserse Narkoba (Dirresnarkoba) Polda Papua, Selasa (16/6) di Jayapura. Menurutnya, operasi ini merupakan bagian dari strategi terpadu yang dilakukan oleh kepolisian untuk memerangi narkoba di wilayah terpencil.

Kombes Alfian menambahkan bahwa pihaknya terus memperkuat koordinasi dengan lembaga lain, seperti badan narkotika nasional dan pihak berwenang setempat, guna menutup rantai peredaran narkoba. Ia menekankan bahwa ganja adalah bahan narkoba yang paling dominan ditemukan, terutama di daerah pegunungan yang sering menjadi tempat produksi dan penyimpanan. Sabu, di sisi lain, lebih sering dikaitkan dengan peredaran di kota-kota besar, sementara pil keras lebih banyak terdapat di lingkungan pemuda dan remaja.

Operasi ini juga menyoroti peran masyarakat dalam mengungkap kasus-kasus narkoba. Alfian menyebut bahwa informasi dari warga setempat menjadi kunci dalam menemukan pelaku dan barang bukti. “Masyarakat harus terus berperan aktif, karena keberhasilan operasi ini tidak hanya bergantung pada tim kepolisian,” katanya. Polda Papua juga memberikan penjelasan bahwa pengungkapan kasus dilakukan melalui penyelidikan menyeluruh, termasuk menggali informasi dari jalur perdagangan ilegal.

Pelaksanaan operasi ini tidak hanya berfokus pada penangkapan, tetapi juga memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya narkoba. Kombes Alfian menyatakan bahwa setiap kasus yang diungkapkan diiringi dengan sosialisasi yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan dampak negatif dari penggunaan narkotika. Dalam beberapa bulan terakhir, Polda Papua telah mengadakan lebih dari 50 acara penyuluhan, yang melibatkan puluhan ribu peserta dari berbagai kalangan.

Sebagai tindak lanjut dari penemuan ganja dan sabu, Polda Papua berencana memperluas operasi ke daerah-daerah lain yang memiliki potensi risiko tinggi. Alfian menegaskan bahwa peningkatan jumlah kasus menunjukkan bahwa narkoba masih menjadi ancaman besar, terutama di tengah momentum pembangunan ekonomi yang menarik minat para pengguna. “Kami berkomitmen untuk terus bergerak, karena narkoba bisa merusak generasi muda dan mengganggu kestabilan wilayah,” ujarnya.

Operasi antinarkoba Polda Papua juga mendapat dukungan dari pihak internasional, termasuk organisasi penangkapan narkoba global. Kombes Alfian menjelaskan bahwa kolaborasi dengan negara tetangga membantu mempercepat penangkapan pelaku yang beroperasi secara lintas batas. Dalam tahun ini, Polda Papua telah menetapkan target penangkapan 200 tersangka, dan angka yang diungkapkan saat ini sudah mencapai lebih dari separuh dari jumlah tersebut.

Sementara itu, angka 40,7 kg ganja yang disita menunjukkan keberhasilan pengawasan di sumber produksi. Dirresnarkoba menegaskan bahwa penyitaan tersebut didukung oleh teknologi pemantauan dan analisis data yang lebih canggih. “Kami menggunakan teknik baru untuk mengidentifikasi pelaku sebelum mereka melakukan transaksi,” jelasnya. Ini memperlihatkan upaya polda untuk meningkatkan efisiensi dalam menangani kasus narkoba.

Kombes Alfian juga menyebutkan bahwa operasi ini berdampak positif terhadap penurunan jumlah pemakai narkoba di Papua. “Dengan menangkap pelaku, kami memutus mata rantai distribusi dan mengurangi akses masyarakat ke narkoba,” ujarnya. Meski demikian, ia menekankan bahwa keterlibatan masyarakat masih diperlukan untuk memastikan keberhasilan jangka panjang. “Kami berharap masyarakat bisa bekerja sama dan melaporkan kegiatan mencurigakan,” tambahnya.

Sebagai sumber informasi, tim peliputan dari Antaranews melaporkan bahwa seluruh barang bukti berhasil disita oleh petugas sebelum penyelidikan lebih lanjut. Pengungkapan ini juga memperlihatkan kinerja petugas yang konsisten dalam mengatasi masalah narkoba. “Setiap penangkapan adalah langkah penting untuk melindungi kesehatan dan masa depan generasi muda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *