Ading Suhana selamatkan hutan lewat gerakan berkebun durian

21 hours ago  ·  4 min read
By Emily Garcia - pemandanganindah.com

Empat Ribu Bibit Durian yang Mengubah Nasib Satu Desa di Gorontalo Utara

Pemandanganindah.com – Di lereng-lereng hutan yang mengelilingi Desa Cempaka Putih, Kecamatan Tolinggula, Kabupaten Gorontalo Utara, kebiasaan turun ke rimba untuk menebang kayu atau memetik rotan pernah menjadi rutinitas yang tak terpisahkan dari kehidupan warga. Bagi sebagian besar penduduk, rimba bukan sekadar tutupan hijau di ujung jalan — ia adalah dapur, gudang, dan sekaligus bank yang menampung seluruh kebutuhan ekonomi keluarga. Pola ketergantungan semacam ini, yang masih melekat pada sekitar 70 persen warga desa pada pertengahan dekade 2010-an, menyimpan risiko jangka panjang yang jarang dibicarakan di ruang-ruang musyawarah desa.

Satu Orang yang Menolak Menunggu Hutan Habis

Ading Suhana, yang pada masa itu menjabat sebagai aparat desa, mengamati dinamika tersebut dari dekat. Ia tidak berniat memaksa warga menjauh dari hutan; yang mengganggunya adalah satu kalkulasi sederhana: jika laju eksploitasi terus berjalan tanpa jeda, maka pada titik tertentu tidak akan tersisa lagi yang bisa diambil, sementara generasi berikutnya belum memiliki alternatif mata pencaharian. Kesadaran itulah yang mendorongnya merancang sebuah intervensi pada tahun 2017 — sebuah langkah kecil yang kelak bergulir menjadi transformasi ekonomi dan ekologis bagi seluruh komunitas.

“Saya dan teman-teman berpikir, kalau keadaan ini dipertahankan, di samping hutan akan habis, kami juga tidak ada tabungan untuk masa depan anak cucu.”

Pernyataan tersebut merangkum inti dari kegelisahan yang mendorong Ading bertindak. Baginya, menghentikan aktivitas pengambilan hasil hutan tanpa menyediakan pengganti yang layak hanyalah retorika. Warga membutuhkan penghasilan harian; tanpa opsi konkret, larangan hanya akan melahirkan konflik sosial di tingkat akar rumput.

Durian Montong sebagai Jalan Keluar

Pilihan yang jatuh pada Ading adalah budidaya durian varietas montong. Varietas ini dikenal luas di kawasan tropis Indonesia karena daya adaptasinya yang relatif baik terhadap berbagai kondisi tanah dan iklim, serta nilai ekonominya yang tinggi di pasar domestik maupun ekspor. Dengan memilih montong, Ading tidak sekadar menawarkan tanaman hias atau komoditas musiman, melainkan sebuah pohon yang mampu menghasilkan buah bernilai jual selama puluhan tahun setelah masa berbuah pertama.

Sebagaimana mekanisme pendanaan desa yang mulai berjalan pada periode tersebut, Ading menyampaikan usulannya kepada kepala desa agar sebagian anggaran dana desa dialokasikan untuk pengadaan sekitar 4.000 bibit durian. Angka itu bukan kecil bagi sebuah desa kecil di pegunungan Gorontalo Utara; ia mewakili investasi kolektif yang menuntut komitmen perawatan bertahun-tahun sebelum panen pertama tiba.

Keraguan yang Berubah Menjadi Pembuktian

Reaksi awal masyarakat tidak seragam. Sebagian warga mempertanyakan apakah durian benar-benar mampu beradaptasi dengan kondisi tanah dan curah hujan setempat, apalagi di ketinggian yang berbeda dari sentra-sentra durian tradisional di Kalimantan atau Sumatera. Keraguan semacam itu, dalam konteks ekonomi subsisten, bukan sekadar skeptisisme — ia mencerminkan ketakutan nyata akan kerugian modal dan waktu yang tidak dapat dikembalikan.

Ading memilih menjawab keraguan itu dengan tindakan, bukan debat. Bibit-bibit ditanam di lahan-lahan yang telah disiapkan. Pohon-pohon muda dirawat secara berkala: pemupukan, perajangan, perlindungan dari hama, dan pemantauan pertumbuhan. Waktu menjadi variabel yang tidak bisa dipercepat; setiap musim hujan dan kemarau menjadi ujian tersendiri bagi kelangsungan tanaman. Proses ini mengubah lanskap desa secara perlahan — dari tutupan hutan yang terus menipis menjadi barisan-barisan pohon buah yang tumbuh di antara permukiman.

Implikasi yang Melampaui Sekadar Pohon

Yang terjadi di Desa Cempaka Putih bukan sekadar penanaman tanaman perkebunan. Ia merupakan pergeseran paradigma: dari ekonomi ekstraktif yang mengambil apa yang sudah ada di alam, menuju ekonomi produktif yang menumbuhkan nilai tambah di atas lahan sendiri. Ketika pohon-pohon durian mulai berbuah, pendapatan rumah tangga tidak lagi bergantung pada ketersediaan kayu di rimba yang kian menipis. Hutan, pada gilirannya, dapat dipulihkan fungsinya sebagai penyangga ekologis — menahan erosi, menjaga siklus air, dan menjadi habitat satwa — karena tekanan ekonomi yang mendorong warga masuk ke dalamnya telah berkurang secara signifikan.

Model yang lahir dari kegelisahan satu aparat desa ini juga membuka pertanyaan yang lebih luas bagi wilayah-wilayah lain di Gorontalo Utara dan bahkan di kawasan pegunungan Sulawesi: bagaimana dana desa dapat diarahkan bukan hanya untuk infrastruktur fisik, tetapi untuk membangun ketahanan pangan dan ekonomi jangka panjang yang berakar pada potensi lokal? Pengalaman Desa Cempaka Putih menunjukkan bahwa jawaban atas pertanyaan itu tidak selalu membutuhkan teknologi canggih atau investasi miliaran rupiah; kadang yang dibutuhkan adalah keberanian untuk menanam empat ribu bibit dan kesabaran untuk menunggu mereka tumbuh.

Frequently Asked Questions

What is Ading Suhana selamatkan hutan lewat gerakan?

Ading Suhana selamatkan hutan lewat gerakan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Ading Suhana selamatkan hutan lewat gerakan matter?

Ading Suhana selamatkan hutan lewat gerakan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

More from this category