Today’s News: BMKG: Bediding bukan fenomena cuaca ekstrem
BMKG: Bediding bukan fenomena cuaca ekstrem
Jakarta, 28 Mei 2024
Today s News – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melakukan klarifikasi terhadap fenomena bediding yang belakangan ini ramai dibicarakan di berbagai platform media sosial. Dalam pernyataannya, BMKG menjelaskan bahwa bediding, atau penurunan suhu udara yang terjadi di malam hari hingga pagi, bukan termasuk kejadian cuaca ekstrem. Fenomena ini lebih bersifat kondisi musiman yang wajar, terutama ketika atmosfer mengalami perubahan tertentu.
“Penting untuk memahami bahwa bediding bukanlah fenomena yang ‘melanda’ secara mendadak seperti cuaca ekstrem, melainkan kondisi alami yang terjadi akibat perubahan pola radiasi dan kelembapan udara,” ujar Direktur Meteorologi Publik BMKG Ida Pramuwardani di Jakarta, Sabtu.
Menurut Ida, penurunan suhu ini terjadi karena radiasi balik dari permukaan bumi dapat mengalir langsung ke atmosfer tanpa hambatan awan. Hal ini membuat udara terasa lebih dingin, terutama pada malam hari dan dini hari. Faktor lain yang memperkuat kondisi tersebut adalah kelembapan udara yang rendah serta aliran massa udara kering dari Australia yang semakin intens.
BMKG menegaskan bahwa bediding memiliki pola yang khas, yaitu terjadi secara musiman dan tidak merata di seluruh wilayah Indonesia. Fenomena ini biasanya mulai terasa sejak bulan Juni, dengan puncak intensitas pada Juli hingga Agustus. Waktu tersebut dipengaruhi oleh kondisi cuaca cerah di malam hari dan perkuatan angin timur yang berasal dari Monsun Australia. “Dengan adanya angin timuran yang lebih kuat, suhu udara terasa lebih dingin terutama di daerah yang langitnya terang dan hujan mulai berkurang,” tambah Ida.
Wilayah yang paling rentan mengalami bediding menyebar ke bagian selatan Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, selatan Jawa, kawasan dataran tinggi di Pulau Jawa, serta sebagian wilayah Sumatera bagian selatan seperti Sumatera Selatan dan Lampung. BMKG menjelaskan bahwa variasi suhu ini tidak selalu memengaruhi seluruh wilayah, melainkan hanya daerah dengan karakteristik tertentu, seperti ketinggian dan kelembapan yang rendah.
Fenomena bediding sebelumnya menjadi topik diskusi hangat di berbagai media sosial, terutama di akun Instagram @4climate yang menyebutkan adanya penurunan suhu di beberapa wilayah Indonesia bagian selatan. Dalam unggahan tersebut, suhu di Batu, Malang, Jawa Timur, misalnya, disebut bisa mencapai 13-16 derajat Celcius pada rentang waktu 03.00 hingga 06.00 pagi. Meski definisi yang diberikan oleh akun media sosial tersebut secara umum selaras dengan penjelasan BMKG, institusi tersebut tetap menekankan pentingnya edukasi publik untuk membedakan bediding dengan fenomena cuaca ekstrem.
Menurut Ida, perbedaan utama antara bediding dan cuaca ekstrem terletak pada kejadian dan dampaknya. “Cuaca ekstrem seperti badai, hujan deras, atau angin kencang biasanya terjadi dalam waktu singkat dan memiliki dampak besar, sementara bediding adalah perubahan suhu yang bertahap dan tidak menyebabkan kerusakan signifikan,” jelasnya. Namun, ia mengakui bahwa bediding dapat menimbulkan kekhawatiran karena suhunya jauh lebih rendah dibandingkan biasanya.
BMKG juga menyoroti bahwa bediding bisa memengaruhi aktivitas harian masyarakat. Untuk itu, para ahli merekomendasikan beberapa langkah adaptasi, seperti memakai pakaian hangat, meningkatkan konsumsi air putih, dan memperhatikan kesehatan tubuh. “Dengan mempersiapkan diri sebelum cuaca dingin datang, masyarakat bisa tetap nyaman dalam menjalani rutinitas sehari-hari,” katanya. Tips ini khusus ditujukan bagi wilayah yang sedang mengalami fenomena tersebut.
Dalam beberapa hari terakhir, fenomena ini menarik perhatian banyak netizen yang menulis komentar di berbagai unggahan. Beberapa warganet menganggap bediding sebagai tanda perubahan iklim, sementara yang lain menilai ini sebagai bagian dari siklus musiman. BMKG berharap edukasi lebih lanjut dapat membantu masyarakat memahami bahwa suhu dingin di pagi hari bukanlah fenomena yang langka atau memerlukan peringatan darurat.
Menurut data BMKG, bediding terjadi karena kondisi atmosfer yang relatif stabil, di mana radiasi bumi tidak terhalang oleh awan. Hal ini memungkinkan panas dari permukaan bumi hilang ke luar, sehingga udara di sekitar kita menjadi lebih dingin. Proses ini disebut sebagai radiasi termal atau radiasi balik, yang biasanya lebih kuat pada musim kemarau ketika kelembapan udara menurun.
Ida juga menyoroti bahwa bediding tidak hanya terjadi di Indonesia bagian selatan, tetapi juga bisa berdampak di daerah lain jika kondisi cuaca memungkinkan. Misalnya, di kawasan dataran tinggi seperti Gunung Bromo atau Lembah Kaliurang, suhu udara cenderung lebih rendah karena ketinggian dan aliran udara dingin dari Australia. “Kondisi ini memperkuat efek bediding, terutama di daerah yang minim hujan dan tidak ada awan di langit,” kata direktur tersebut.
Kebanyakan masyarakat yang tinggal di wilayah yang terkena bediding mengeluhkan rasa dingin yang terasa jauh lebih kuat dari biasanya. Namun, BMKG menegaskan bahwa fenomena ini tidak disebabkan oleh perubahan iklim global, melainkan dinamika lokal dan siklus musiman. “Penting untuk tidak menganggap bediding sebagai tanda adanya cuaca ekstrem, meskipun suhunya bisa mencapai angka yang relatif rendah,” kata Ida.
BMKG berencana menyampaikan informasi lebih jelas mengenai bediding melalui berbagai media, termasuk website resmi dan akun media sosial. Tujuannya adalah agar masyarakat dapat membedakan antara kondisi alami dan peristiwa cuaca yang memerlukan respons darurat. Selain itu, lembaga tersebut juga berharap masyarakat dapat lebih siap menghadapi perubahan suhu di pagi hari dengan cara yang sederhana dan efektif.
Dengan penjelasan ini, BMKG menegaskan bahwa bediding adalah bagian dari siklus musiman dan bukan ancaman besar bagi kehidupan sehari-hari. Namun, edukasi yang tepat tetap dibutuhkan agar masyarakat tidak salah menginterpretasi fenomena ini. “Kita perlu menghargai kejadian alami ini sambil tetap waspada terhadap kondisi cuaca yang lebih ekstrem jika terjadi,” pungkas Ida.