Key Strategy: Jubir Gerindra: Program MBG buka jutaan lapangan kerja
Jubir Gerindra: Program MBG buka jutaan lapangan kerja
Key Strategy –
Dari Jakarta, Bahtra Banong, perwakilan Partai Gerindra yang juga menjabat Wakil Ketua Komisi II DPR RI, menyampaikan bahwa inisiatif Makan Bergizi Gratis (MBG) berdampak signifikan dalam membuka peluang kerja bagi rakyat. Ia menekankan bahwa program ini bukan hanya sekadar bantuan sosial, tetapi menjadi penggerak ekonomi yang mampu menciptakan keterlibatan langsung masyarakat dalam proses perekrutan tenaga kerja. “MBG memberikan kontribusi signifikan terhadap perekrutan tenaga kerja, karena setiap dapur dalam program ini diperkirakan melibatkan sekitar 50 orang. Dengan mengalikan jumlah tersebut dengan total dapur yang terlibat, jumlah tenaga kerja yang dihasilkan mencapai hampir satu juta tiga ratus ribu orang,” katanya di kawasan Jakarta Pusat, Sabtu.
Manfaat MBG Dibandingkan Sektor Industri
Menurut Bahtra, jumlah lapangan kerja yang tercipta melalui MBG hampir setara dengan peluang kerja di sektor manufaktur. Ia menambahkan bahwa selama ini masyarakat lebih fokus pada aspek ketepatan sasaran dan efisiensi pengelolaan MBG, tetapi manfaat program ini dalam menyerap tenaga kerja tidak cukup diperhatikan. “Kita lihat selama ini kan bagaimana pengelolaan MBG yang dianggap carut-marut, bagaimana pengelolaan MBG yang dianggap kurang tepat sasaran. Padahal, di sana banyak sekali kemanfaatannya yang perlu dicermati oleh teman-teman,” ujarnya.
Kinerja Pemerintahan Prabowo Dinilai Melalui MBG
Lebih lanjut, Bahtra memaparkan hasil survei Pusat Polling (Puspoll) Indonesia periode 18-26 Mei 2026 yang menunjukkan dukungan publik terhadap MBG. “Survei menunjukkan 55,5 persen responden mengapresiasi MBG sebagai program yang memberikan dampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat,” jelasnya. Ia menyoroti bahwa program ini menjadi salah satu inisiatif yang paling dirasakan manfaatnya oleh rakyat, meskipun ada anggapan bahwa MBG perlu dihentikan karena dinilai tidak efektif.
Bahtra menegaskan bahwa survei tersebut merupakan indikator positif atas kinerja pemerintahan Prabowo. “Jika hasil survei ini mencerminkan dukungan yang tinggi, maka framing publik yang saat ini sangat masif, yaitu bahwa MBG harus diberhentikan, tidak selaras dengan realitas di lapangan. Sebaliknya, MBG justru menunjukkan manfaat yang signifikan bagi sebagian besar masyarakat,” tegasnya.
Metodologi Survei dan Validasi Data
Adapun survei Puspoll Indonesia melibatkan 2.400 peserta dengan toleransi kesalahan sekitar 2 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen. Sampel yang digunakan dipilih secara acak (probability sampling) dengan metode penarikan sampel bertingkat (multistage random sampling), memperhatikan perbandingan antara wilayah perkotaan dan pedesaan, serta distribusi jumlah peserta sesuai jumlah pemilih di setiap provinsi. “Metodologi ini memastikan representasi yang seimbang, sehingga data yang diperoleh dapat dianggap valid dan mencerminkan kepuasan sebagian besar masyarakat,” kata Bahtra.
Bahtra juga membandingkan MBG dengan program lain yang sering disebutkan sebagai stimulus ekonomi. Ia menilai bahwa MBG menawarkan solusi yang lebih inklusif, karena tidak hanya melibatkan sektor pemerintahan, tetapi juga memperkuat ekosistem usaha kecil dan menengah (UKM) dalam rangka menyediakan makanan bergizi secara rutin. “MBG memberikan ruang bagi pengusaha lokal untuk berkembang sekaligus memastikan akses pangan yang sehat bagi masyarakat miskin dan rentan,” ujarnya.
Framing Publik yang Dikritik
Bahtra mengkritik persepsi publik yang lebih fokus pada aspek kritik daripada manfaat nyata program MBG. Ia mengatakan bahwa meskipun ada kelemahan dalam pengelolaan, tetapi hasil survei menunjukkan bahwa keberhasilan program ini tetap diakui oleh sebagian besar masyarakat. “Jika kita hanya melihat MBG sebagai program yang disalahgunakan, kita akan melewatkan peran besar dalam mendorong keterlibatan warga dalam proses perekonomian,” jelasnya.
Dalam kesimpulannya, Bahtra menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kritik dan apresiasi. “MBG seharusnya menjadi contoh bagaimana program pemerintah dapat memberikan dampak langsung ke masyarakat, terutama dalam menyerap tenaga kerja dan meningkatkan kesejahteraan. Jika framing publik terus mengarah pada kekecewaan, kita akan mengabaikan potensi besar program ini untuk menjadi fondasi pembangunan yang berkelanjutan,” tambahnya.
Analisis Lebih Lanjut tentang Manfaat MBG
Dalam konteks ekonomi, Bahtra menyoroti bahwa MBG tidak hanya mengurangi beban pengeluaran keluarga miskin, tetapi juga menciptakan rantai nilai baru yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Program ini diduga mendorong peningkatan permintaan terhadap bahan pangan lokal, yang secara tidak langsung mampu memperkuat sektor pertanian dan perdagangan. “Dengan memperluas akses pangan bergizi, MBG menjadi penggerak ekonomi yang mampu menyerap tenaga kerja di berbagai tingkat, mulai dari pekerjaan langsung di dapur hingga pengusaha yang menyuplai bahan baku,” kata dia.
Bahtra juga menyinggung peran kementerian terkait dalam mengoptimalkan pelaksanaan program ini. Menurutnya, selama ini banyak pertanyaan yang muncul terkait efektivitas MB