Latest Program: Indef: Struktur ekspor perlu diubah berbasis nilai tambah industri

Latest Program: Indef Usulkan Transformasi Struktur Ekspor Berbasis Nilai Tambah

Latest Program, yang diumumkan oleh Institute for Development of Economics and Finance (Indef), menyoroti perlunya perubahan mendasar dalam struktur ekspor Indonesia. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, menjelaskan bahwa negara ini harus beralih dari mengandalkan komoditas mentah ke produk yang memiliki nilai tambah industri. Pernyataan ini disampaikan dalam rangka mengatasi defisit neraca perdagangan yang terjadi pada Mei 2026, mencapai 1,61 miliar dolar AS. Defisit ini menandai akhir dari tren surplus berkelanjutan selama 72 bulan, sejak Mei 2020.

Struktur Ekspor yang Rentan Perlu Diperbaiki

Rizal menyatakan bahwa kinerja ekspor Indonesia bergantung pada pergeseran struktur yang lebih seimbang. “Jika tidak diubah, ekspor Indonesia akan tetap rentan terhadap pelemahan harga komoditas dan kenaikan impor energi,” kata Rizal kepada ANTARA. Ia menegaskan bahwa defisit neraca perdagangan menjadi indikator bahwa struktur ekspor saat ini belum kuat, terutama karena masih terpusat pada sumber daya alam mentah.

Menurutnya, komoditas nonmigas—seperti pertanian, perikanan, dan industri pengolahan—masih menjadi tulang punggung ekspor Indonesia. BPS mencatat kontribusi sektor ini mencapai 110,19 miliar dolar AS, atau 95,5 persen dari total ekspor Januari–Mei 2026. Namun, ia menambahkan bahwa fokus ekspor harus beralih dari batu bara dan minyak kelapa sawit mentah (CPO) menuju produk yang lebih bernilai tambah. “Pertumbuhan ekspor nonmigas terutama didorong oleh industri hilirisasi, seperti nikel, kimia dasar, dan turunan sawit,” tambahnya.

“Kuncinya bukan hanya menaikkan volume ekspor, tetapi mengubah struktur ekspor dari berbasis komoditas mentah menjadi berlandaskan nilai tambah industri. Kalau tidak, setiap kali harga komoditas turun atau impor energi melonjak, neraca perdagangan Indonesia akan kembali rapuh,”

Ekspor Berbasis Nilai Tambah: Strategi Keberlanjutan

Rizal menekankan bahwa defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 adalah tanda bahwa ekspor Indonesia belum sepenuhnya tangguh. Ketergantungan pada barang mentah membuatnya rentan terhadap volatilitas pasar internasional, terutama jika harga komoditas turun atau permintaan impor meningkat.

Menurutnya, keberlanjutan ekspor harus didasarkan pada keberagaman produk yang diolah secara lebih lanjut. “Kita perlu mengubah struktur ekspor agar lebih seimbang dan bertenaga, seperti yang disarankan dalam Latest Program,” jelas Rizal. Ia mencontohkan bahwa hilirisasi nikel, besi-baja, serta turunan sawit adalah sektor yang potensial untuk dikembangkan, sehingga mengurangi risiko fluktuasi harga dan meningkatkan daya saing.

“Pemerintah perlu memperkuat diplomasi dagang, percepatan PTA/FTA, pembiayaan ekspor, standardisasi ESG dan traceability, serta agregasi UMKM ekspor agar produk Indonesia bisa masuk ke rantai pasok baru yang sedang terbentuk akibat fragmentasi global,”

Di sisi lain, Rizal mengingatkan bahwa sektor industri pengolahan harus diperkuat untuk meminimalkan ketergantungan pada komoditas mentah. Ia menambahkan bahwa ekspor nonmigas yang saat ini masih terpusat di pasar tradisional—yaitu Tiongkok, Jepang, dan Australia—memperbesar risiko jika terjadi perlambatan permintaan di kawasan tersebut. “Latest Program menekankan pentingnya ekspor berbasis nilai tambah sebagai solusi jangka panjang untuk menjaga stabilitas ekonomi,” ujarnya.

Latest Program juga menyoroti kebutuhan pengembangan ekosistem pendukung, seperti pemberian insentif fiskal, pendidikan keterampilan, dan peningkatan infrastruktur logistik. “Ketersediaan rantai pasok yang efisien akan mempercepat proses hilirisasi dan meningkatkan daya tawar produk Indonesia di pasar internasional,” jelas Rizal. Ia menekankan bahwa transformasi ini membutuhkan kebijakan jangka panjang, bukan sekadar perubahan sementara.

Menurut Rizal, pemerintah juga harus memperluas strategi ekspor ke pasar baru, seperti Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, Amerika Latin, dan kawasan ASEAN. “Strategi ini diperlukan untuk menghadapi fragmentasi global yang semakin terasa,” tambahnya. Dengan memperkaya pilihan pasar, Indonesia bisa mengurangi risiko terhadap perubahan kebijakan atau ketidakstabilan ekonomi di kawasan tradisional.

Latest Program berharap perubahan struktur ekspor akan menjadi fokus utama dalam mendekati target pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan. Dengan mengoptimalkan sektor hilirisasi dan memperluas diversifikasi produk, Indonesia bisa mengurangi ketergantungan pada harga pasar internasional serta meningkatkan daya tahan ekonomi. “Ekspor berbasis nilai tambah adalah jalan keluar untuk menjaga keseimbangan neraca perdagangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” pungkas Rizal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *