Latest Program: Mesir: Tak ada normalisasi dengan Israel tanpa negara Palestina
Mesir: Penormalan Hubungan dengan Israel Tidak Mungkin Tanpa Terbentuknya Negara Palestina
Kairo/Istanbul, ANTARA
Latest Program – Presiden Mesir, Abdel Fattah el-Sisi, menegaskan dalam pidatonya pada Sabtu (4/7) di upacara peresmian markas Komando Strategis Negara di Ibu Kota Administratif Baru Mesir, yang terletak di sebelah timur Kairo, bahwa normalisasi hubungan dengan Israel tidak akan tercapai sebelum terbentuknya negara Palestina yang merdeka. Pernyataan ini disampaikan melalui pernyataan resmi dari kepresidenan Mesir, yang menyoroti pentingnya peran Mesir dalam proses perdamaian Timur Tengah.
Dalam pidatonya, Sisi menyampaikan keyakinan bahwa tanpa perdamaian adil, stabilitas politik dan normalisasi antara Mesir dan Israel tidak akan mungkin terjadi. Ia menekankan bahwa keberhasilan penormalan hubungan dengan Israel harus didasari oleh penyelesaian masalah kemerdekaan Palestina. Menurut presiden, keberadaan negara Palestina adalah prasyarat untuk menciptakan keadaan yang aman dan adil bagi seluruh rakyat di wilayah tersebut.
“Tidak mungkin terjadi penormalan yang populer kecuali dengan perdamaian yang adil, yang mampu mengakhiri pendudukan, ketidakadilan, serta agresi terhadap Palestina. Perdamaian tersebut juga harus memperkuat hak-hak sah pemilik tanah dan memberikan jaminan keamanan bagi semua pihak,” ujar Sisi.
Pernyataan ini menunjukkan komitmen Mesir untuk memperjuangkan kepentingan Palestina sebagai bagian dari upaya menyelesaikan konflik berkepanjangan antara dua negara. Sisi menegaskan bahwa konflik ini tidak hanya memengaruhi kesejahteraan rakyat Palestina, tetapi juga memiliki dampak terhadap stabilitas regional secara keseluruhan. Ia menambahkan bahwa keberhasilan perdamaian adil akan membuka jalan bagi masyarakat wilayah tersebut untuk hidup dalam keadaan yang damai dan makmur.
Kebijakan penormalan dengan Israel yang ditunggu-tunggu oleh pihak Mesir dikaitkan dengan pencapaian kesepakatan internasional yang mengakui kemerdekaan Palestina. Presiden menegaskan bahwa negara Palestina harus memiliki kedaulatan penuh dan kebebasan untuk mengatur urusan dalam negerinya. Dalam pidatonya, Sisi juga mengingatkan bahwa proses penormalan harus berjalan secara bertahap dan berdasarkan prinsip-prinsip kemanusiaan serta keadilan.
Dalam upacara tersebut, Sisi menyampaikan beberapa inisiatif penting yang menunjukkan prioritasnya. Salah satunya adalah dukungan terhadap gencatan senjata di Gaza, yang dijadwalkan berlaku pada Oktober 2025. Ia menegaskan bahwa gencatan senjata ini adalah langkah krusial untuk mengurangi tekanan pada rakyat Palestina dan menciptakan ruang bagi dialog politik yang lebih luas. Selain itu, Sisi juga menyebutkan pentingnya kerangka kesepakatan baru antara Iran dan Amerika Serikat sebagai bagian dari upaya mengakhiri konflik antara dua negara tersebut.
Kebijakan luar negeri Mesir, terutama terkait hubungannya dengan Israel, sering kali menjadi sorotan internasional. Mesir dikenal sebagai salah satu negara Arab yang pertama kali melakukan normalisasi dengan Israel pada tahun 1979 melalui Perjanjian Camp David. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Mesir memperkuat posisinya sebagai penegak keadilan dan pelindung hak Palestina. Sisi, sebagai pemimpin tertinggi Mesir, kembali menegaskan bahwa penormalan dengan Israel harus selaras dengan kepentingan Palestina.
Sisi menekankan bahwa penormalan hubungan dengan Israel bukanlah tujuan akhir, tetapi merupakan bagian dari proses yang lebih luas menuju perdamaian abadi. Ia menyatakan bahwa tanpa adanya negara Palestina, segala bentuk penormalan hanya akan menjadi simbol keberhasilan sementara dan tidak mampu mengatasi akar masalah konflik. Dalam pidatonya, Sisi juga mendorong kerja sama internasional untuk memastikan bahwa kebijakan luar negeri Mesir tetap bersifat inklusif dan berkeadilan.
Perdamaian adil, menurut Sisi, adalah solusi yang terpadu dan berkelanjutan. Ia mencontohkan bahwa keberhasilan penormalan hubungan dengan Israel harus dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan rakyat Palestina, termasuk akses ke sumber daya alam dan peluang ekonomi. Selain itu, Sisi menyoroti bahwa perdamaian tersebut juga perlu mencakup pengakuan terhadap kemerdekaan Palestina dan kebebasan menentukan nasib sendiri.
Pidato Sisi menyampaikan pesan yang kuat kepada seluruh dunia bahwa Mesir tidak akan mengambil langkah penormalan tanpa jaminan bahwa keadilan telah dicapai. Ia menambahkan bahwa Mesir tetap menjadi pengawal perjuangan Palestina, terlepas dari hubungan dengan negara-negara lain. Kebijakan ini juga menunjukkan bahwa Mesir ingin menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional dan kemanusiaan.
Dalam konteks dunia internasional, Sisi meminta dukungan kepada negara-negara yang terlibat dalam proses perdamaian. Ia menyoroti pentingnya keterlibatan aktif PBB dan negara-negara Arab dalam mengawal pembentukan negara Palestina. Presiden menegaskan bahwa segala upaya yang melemahkan gencatan senjata atau kesepakatan damai harus dicegah, karena ini akan merusak kemajuan yang telah dicapai.
Kebijakan penormalan dengan Israel yang diusulkan oleh Mesir bukan hanya tentang hubungan diplomatik, tetapi juga mengandung makna politik dan ideologis yang mendalam. Sisi menegaskan bahwa Mesir akan terus berjuang untuk menjaga kesejahteraan Palestina, bahkan jika hal ini berdampak pada hubungan dengan negara-negara lain. Pernyataan ini mencerminkan keberanian Mesir dalam menjaga kepentingan kemerdekaan dan keadilan.
Sebagai negara yang memiliki peran strategis di Timur Tengah, Mesir diharapkan menjadi mediator yang efektif. Sisi menekankan bahwa keberhasilan penormalan dengan Israel akan menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan yang stabil dan damai. Namun, ia juga mengingatkan bahwa proses ini harus memulai dengan memperkuat keberadaan negara Palestina.
Dengan pidatonya pada hari Sabtu, Sisi mengingatkan dunia bahwa Mesir tidak akan menyerah dalam upayanya untuk membawa perdamaian adil. Ia menegaskan bahwa penormalan dengan Israel hanya akan terjadi jika Palestina memiliki kedaulatan penuh dan kebebasan menentukan nasib sendiri. Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bagi kesejahteraan rakyat Palestina dan keadilan bagi seluruh masyarakat Timur Tengah.