Solving Problems: Bupati Siak Riau minta BUMD migas PT BSP tekan biaya “cost recovery”

Bupati Siak Berharap PT BSP Optimalkan Efisiensi untuk Tingkatkan Pendapatan Daerah

Solving Problems – Dalam acara pelantikan direktur baru PT Bumi Siak Pusako (BSP) di Pekanbaru, Riau, Selasa (10/05), Bupati Siak, Afni Zulkifli, menyampaikan instruksi penting kepada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) migas tersebut. Ia menyoroti pentingnya mengurangi angka biaya pemulihan (cost recovery) yang kini mencapai 96-97 persen, menurutnya angka ini terlalu tinggi dibandingkan standar ideal sebesar 60-70 persen. “Kita perlu mengendalikan biaya ini secara profesional agar pendapatan dari dividen bisa meningkat,” tegas Afni Zulkifli dalam pidatonya.

PT BSP sebagai Pilar Pemprov Riau

Afni menjelaskan bahwa PT BSP merupakan salah satu pilar utama dalam mendukung perekonomian Provinsi Riau, terlebih di tengah tekanan fiskal yang dirasakan oleh pemerintah daerah. Sebagai pemegang saham utama, Pemerintah Kabupaten Siak berharap perusahaan tersebut mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan asli daerah (PAD). Ia menegaskan bahwa cost recovery yang tinggi berdampak langsung pada kinerja keuangan perusahaan, sehingga perlu ditekan agar efisiensi bisa ditingkatkan.

Bupati Siak juga menyebutkan bahwa tahun ini, yaitu 2026, PT BSP akan memberikan dividen sebesar Rp100 miliar. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, ketika dividen mencapai Rp300 miliar. “Dana itu telah digunakan untuk membangun infrastruktur seperti jembatan, jalan, dan kantor,” jelasnya. Meski demikian, Afni mengakui bahwa perusahaan masih menghadapi tantangan yang signifikan, terutama dalam mempertahankan kinerja yang optimal.

Permasalahan Produksi dan Biaya

Afni menyampaikan bahwa meskipun harga minyak mentah terus naik, biaya produksi perusahaan juga mengalami kenaikan yang signifikan. Hal ini membuat profitabilitas PT BSP menjadi terbatas. “Produksi kita baru mencapai 7.000-8.000 barel per hari, jauh dari target yang diharapkan,” ungkapnya. Dengan angka tersebut, PT BSP masih duduk di posisi nomor 12 dari 14 kontraktor kerja sama migas (KKKS) di Indonesia, sehingga perlu upaya lebih untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Menurut Bupati, salah satu kunci untuk memperbaiki kinerja perusahaan adalah dengan membenahi manajemen internal. Ia menekankan pentingnya komunikasi yang efektif antara PT BSP dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta SKK Migas. “Kita harus mampu menjawab tantangan dengan solusi yang profesional dan tepat waktu,” imbuh Afni. Ia juga menyebutkan bahwa komitmen kerja pasti (KKP) yang diminta oleh SKK Migas dan Kementerian ESDM merupakan bagian dari strategi untuk memperkuat keberlanjutan operasional perusahaan.

Permintaan Penyelesaian Masalah Pipa

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Siak juga menyoroti isu terkait pengangkutan minyak melalui pipa. Ia menekankan bahwa penggunaan truk sebagai metode utama pengangkutan masih menyebabkan biaya produksi yang tinggi. “Jika kita masih bergantung pada sistem truk, biaya operasional tidak akan berkurang,” ujarnya. Oleh karena itu, Afni meminta PT BSP untuk menyelesaikan masalah pipa sebelum tahun ini berakhir, meskipun SKK Migas dan Kementerian ESDM menginginkan penyelesaian dalam waktu satu tahun mendatang.

Menurut Bupati, membangun sistem pengangkutan minyak via pipa merupakan langkah strategis untuk mengoptimalkan efisiensi dan mengurangi risiko kelebihan beban. “Ini bisa mengurangi biaya logistik sebesar 30 persen, yang berdampak langsung pada peningkatan pendapatan daerah,” lanjutnya. Ia menambahkan bahwa PT BSP telah berkomitmen untuk menyelesaikan tujuh sumur baru dalam rangka memenuhi KKP, yang menjadi salah satu syarat utama dalam menjaga konsistensi produksi.

Peluang dan Tantangan untuk Masa Depan

Afni Zulkifli menegaskan bahwa PT BSP perlu melakukan transformasi dalam manajemen operasionalnya. “Kita harus meningkatkan produktivitas dengan inovasi yang lebih baik,” katanya. Ia juga meminta perusahaan memperkuat komunikasi dengan pihak terkait, termasuk SKK Migas, untuk memastikan proyek infrastruktur seperti pipa bisa terlaksana sesuai jadwal. “Kita memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu kontraktor terbaik di Indonesia jika bisa memperbaiki manajemen dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya,” tambahnya.

Di sisi lain, Bupati mengingatkan bahwa PT BSP tidak boleh hanya fokus pada peningkatan produksi, tetapi juga harus memperhatikan dampak lingkungan dan kesejahteraan masyarakat sekitar. “Kita perlu mencari keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan,” ujarnya. Dengan demikian, kontribusi dari PT BSP tidak hanya berupa pendapatan PAD, tetapi juga peningkatan kualitas hidup warga setempat.

Upaya Pemprov Riau untuk Perkuat Budaya Kerja

Bupati Siak juga menekankan pentingnya membangun budaya kerja yang profesional di PT BSP. “Kita harus memiliki visi jangka panjang, bukan hanya fokus pada target tahunan,” katanya. Dalam rangka mewujudkan hal ini, Afni Zulkifli berharap ada peningkatan keterlibatan para staf dan manajemen perusahaan. “Selain itu, kita perlu memastikan bahwa semua kebijakan yang diambil selaras dengan kebutuhan pemerintah daerah,” tambahnya.

Di samping itu, Afni mengapresiasi upaya yang telah dilakukan oleh PT BSP hingga saat ini, meskipun ia juga menyadari bahwa ada banyak hal yang masih perlu diperbaiki. “Kita harus terus berupaya agar seluruh aset migas di Riau bisa dimanfaatkan secara maksimal,” ujarnya. Ia menutup pidatonya dengan harapan bahwa dengan perubahan manajemen dan peningkatan efisiensi, PT BSP bisa menjadi pilar utama dalam mendukung pembangunan daerah secara berkelanjutan.

“Cost recovery yang terlalu tinggi membuat kita sulit menghasilkan keuntungan yang optimal. Jika bisa ditekan, dividen yang diberikan akan lebih besar lagi,” kata Bupati Siak, Afni Zulkifli.

Dalam konteks ini, penyelesaian masalah pipa menjadi prioritas utama. Bupati mengungkapkan bahwa penggunaan pipa tidak hanya mengurangi biaya transportasi, tetapi juga meningkatkan keandalan pasokan minyak ke pasar. “Sistem truk masih terbatas, sementara penggunaan pipa bisa mengakibatkan peningkatan efisiensi hingga 40 persen,” katanya. Dengan begitu, angka cost recovery bisa diturunkan, sehingga PAD Pemerintah Kabupaten Siak bisa meningkat.

Afni Zulkifli berharap pengurus PT BSP yang baru dilantik, Robi Junipa, mampu mengimplementasikan perubahan yang diperlukan. “Kita perlu kerja sama yang solid dan strategi yang tepat agar per

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *