Meeting Results: Mendikdasmen: Deep learning dapat tingkatkan minat baca murid
Mendikdasmen: Deep Learning Mampu Tingkatkan Minat Baca Murid
Meeting Results – Jakarta, Selasa — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengungkapkan bahwa pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) berpotensi meningkatkan literasi di kalangan murid dengan cara memperkuat minat baca mereka. Menurutnya, metode ini tidak hanya sekadar mengajarkan materi pelajaran, tetapi juga mendorong peserta didik untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif melalui pengalaman belajar yang lebih bermakna.
Dalam sebuah acara bertajuk Bedah Buku Bermutu: Presiden Solusi, Problem Solving ala Prabowo Subianto di Gedung A Kemendikdasmen, Mu’ti menjelaskan bahwa deep learning bertujuan memungkinkan murid merasa lebih percaya diri dalam membaca dan mereview buku. Dengan memahami konsep ini, mereka diharapkan mampu mengekspresikan isi bacaan dalam bahasa sendiri, sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih dalam dan berkelanjutan.
“Karena itu dalam deep learning, kami dorong agar anak-anak lebih berani untuk membaca buku, mereview buku itu, dan menjelaskannya dengan bahasa mereka sendiri,” kata Mu’ti.
Menurutnya, proses deep learning juga mengintegrasikan pengalaman sehari-hari dan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Dengan cara ini, murid diharapkan mampu menghubungkan pengetahuan teoritis dengan praktik nyata, yang selanjutnya dijadikan bahan tulisan atau karya lainnya. Hal ini, lanjut Mu’ti, menjadi strategi untuk meningkatkan literasi secara holistik, baik secara intelektual maupun emosional.
Implementasi pendekatan ini, jelas Mu’ti, tidak bisa terlepas dari peran perpustakaan yang lebih aktif. Ia menekankan bahwa ruang perpustakaan tidak boleh hanya dianggap sebagai pelengkap sarana pendidikan, tetapi harus menjadi pusat pengembangan minat baca dan kreativitas murid. “Kami berkomitmen agar perpustakaan tidak sekadar menjadi ruang yang sering kali hanya ada di sudut sekolah, yang kadang-kadang hanya memenuhi persyaratan akreditasi belaka,” ujarnya.
Dalam konteks ini, Mu’ti menyoroti pentingnya memperkuat formasi pustakawan di lingkungan sekolah. Ia menyatakan bahwa tenaga profesional di bidang perpustakaan harus lebih diberdayakan untuk mendukung peran utama mereka dalam membimbing dan menginspirasi peserta didik. Dengan adanya pustakawan yang kompeten, perpustakaan bisa menjadi tempat yang dinamis, bukan hanya penyimpanan buku.
Mekanisme Deep Learning dalam Pendidikan
Deep learning, sebagai metode pendekatan pembelajaran, berbeda dengan metode konvensional yang sering kali bersifat satu arah. Dalam deep learning, murid tidak hanya menerima informasi, tetapi juga aktif mengeksplorasi, memproses, dan menyusun kembali pengetahuan yang mereka peroleh. Hal ini memicu proses belajar yang lebih mendalam, karena peserta didik diberi ruang untuk berinteraksi langsung dengan materi dan membangun pemahaman sendiri.
Menurut Mu’ti, deep learning juga mendorong murid untuk mengeksplorasi lingkungan sekitar sebagai bagian dari pembelajaran. Misalnya, dengan memanfaatkan pengalaman sehari-hari sebagai bahan bacaan atau topik diskusi, mereka bisa mengembangkan keterampilan menulis dan berbicara yang lebih baik. Ini menunjukkan bahwa minat baca bukan hanya tentang menghabiskan waktu dengan buku, tetapi juga tentang menggali makna dari pengalaman hidup mereka.
Lebih dari itu, Mu’ti menegaskan bahwa deep learning menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif. Dengan menggabungkan teknologi, metode pengajaran, dan lingkungan sosial, murid bisa lebih terlibat dalam proses belajar. Misalnya, menggunakan aplikasi digital atau media interaktif untuk memperkaya pengalaman baca, atau mengadakan diskusi kelompok yang memperkuat kemampuan berpikir kolaboratif.
Transformasi Perpustakaan Sebagai Pusat Kreativitas
Pendekatan deep learning juga memerlukan perubahan paradigma dalam peran perpustakaan. Mu’ti menyatakan bahwa perpustakaan harus menjadi ruang yang mendorong eksplorasi dan kreativitas, bukan sekadar tempat penyimpanan buku. Ia mencontohkan, perpustakaan bisa digunakan untuk melaksanakan kegiatan seperti pemecahan masalah, presentasi, atau karya kolaboratif, yang selaras dengan tujuan mendorong minat baca.
Menurut Mu’ti, perpustakaan modern perlu dirancang dengan fasilitas yang lebih menarik, seperti ruang diskusi, perpustakaan digital, dan area interaktif. Selain itu, perpustakaan harus menjadi bagian integral dari kurikulum, di mana para pustakawan tidak hanya berperan sebagai pengelola buku, tetapi juga sebagai fasilitator belajar yang aktif. Dengan demikian, perpustakaan bisa menjadi tempat di mana murid merasa nyaman dan termotivasi untuk belajar mandiri.
Langkah-langkah untuk memperkuat peran perpustakaan ini, kata Mu’ti, merupakan bagian dari upaya besar menciptakan ekosistem belajar yang lebih inklusif dan inovatif. Ia menambahkan bahwa perpustakaan bukan hanya tempat untuk membaca, tetapi juga tempat untuk membangun karakter, meningkatkan kemampuan berkomunikasi, dan mengembangkan kreativitas.
Dalam konteks pendidikan nasional, Mu’ti menyatakan bahwa penguatan perpustakaan harus menjadi prioritas. Ia menekankan bahwa jika perpustakaan tidak dikelola dengan baik, maka potensi literasi murid akan terabaikan. “Dengan deep learning, kita bisa memastikan bahwa setiap murid memiliki akses ke sumber daya belajar yang memadai dan diberi kesempatan untuk mengembangkan minat baca secara alami,” ujarnya.
Perpustakaan, menurut Mu’ti, juga menjadi medium untuk mendorong partisipasi aktif murid dalam pembelajaran. Dengan fasilitas yang memadai dan pendampingan pustakawan, murid tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga belajar bagaimana menyusun ide, berdiskusi, dan berbagi pengetahuan. Ini berarti bahwa perpustakaan harus menjadi tempat yang dinamis, dengan kegiatan rutin yang menarik dan relevan dengan kebutuhan peserta didik.
Dengan penerapan deep learning dan penguatan peran perpustakaan, Mu’ti berharap bahwa minat baca murid akan meningkat secara signifikan. Ia menyatakan bahwa ini adalah langkah penting dalam menghadapi tantangan dunia pendidikan yang semakin kompleks, di mana literasi menjadi kunci keberhasilan dalam membangun generasi yang berpikir kritis dan kreatif. “Menciptakan ekosistem belajar yang aktif dan berpusat pada peserta didik adalah visi yang ingin kami wujudkan melalui perpustakaan,” pungkasnya.