Main Agenda: Wamen P2MI: UMM Migrant Center yang terlengkap di Indonesia

Wamen P2MI: UMM Migrant Center yang terlengkap di Indonesia

Main Agenda – Di tengah upaya pemerintah meningkatkan kualitas tenaga kerja migran, Malang menjadi sorotan setelah Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Dzulfikar Ahmad Tawalla, mengakui bahwa Migrant Center Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memiliki infrastruktur paling canggih di antara 24 pusat pelatihan migran yang beroperasi di Indonesia. “Dari total 24 pusat pelatihan di negeri ini, UMM berhasil menampilkan sistem yang siap, komprehensif, dan mendukung langkah-langkah modernisasi keilmuan,” jelas Dzulfikar saat menghadiri peresmian Migrant Center tersebut di area GKB 5 kampus UMM, Selasa lalu.

Program Pelatihan dengan Standar Internasional

Dalam kunjungan yang dilakukan bersama tim, Dzulfikar menegaskan bahwa UMM Migrant Center tidak hanya menjadi salah satu dari perguruan tinggi swasta (PTS) terbaik, tetapi juga menawarkan fasilitas lengkap untuk memenuhi kebutuhan pelatihan yang kompleks. Ia menyoroti kelas bahasa Jepang yang mencakup level N3 dan N4, yang dianggap penting dalam memperkuat kemampuan komunikasi para pekerja migran. “Saya bersama tim sangat terbantu dengan hadirnya Migrant Center ini,” ujarnya, menambahkan bahwa fasilitas tersebut menjadi acuan dalam peningkatan keterampilan sebanyak 40.000 pekerja migran pada tahun ini, dengan target bertahap hingga 500.000 orang pada 2029.

“Keunggulan utama UMM terletak pada jaringan korespondensi langsung ke Jepang yang sudah berjalan stabil, bukan sekadar coba-coba. Sistem ini akan kita duplikasi ke seluruh daerah untuk mendukung program pemerintah,” tambah Dzulfikar.

Dalam upaya memperkuat citra pekerja migran Indonesia, pemerintah menekankan pentingnya pendekatan terstruktur dan profesional. Dzulfikar menekankan bahwa Migrant Center UMM menjadi model yang menjanjikan dalam menghasilkan tenaga kerja yang siap menghadapi tantangan global. “Kita berharap UMM menjadi penopang utama keberhasilan program direktif dari Bapak Presiden. Sistem yang sudah ada akan kita tingkatkan lagi agar mampu mendukung sampai proses visa engineer,” imbuhnya.

Komitmen Kampus untuk Masa Depan

Rektor UMM, Prof Dr Nazaruddin Malik, mengungkapkan bahwa pendirian Migrant Center merupakan respons dari kampus terhadap perubahan dinamika dunia. “Pusat kajian transdisiplin ini dibuat untuk menghadapi era Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity (VUCA) dan Brittle, Anxious, Non-linear, Incomprehensible (BANI), di mana kebutuhan untuk menggabungkan ilmu akademis dengan praktik langsung semakin krusial,” terang Nazaruddin. Ia menjelaskan bahwa program ini bertujuan memperkuat disiplin, pembentukan karakter, serta penguatan ketangguhan mental para pelatih.

“Pendekatan ini melibatkan pemanfaatan pengalaman langsung di lapangan, manajemen waktu, dan peningkatan kompetensi yang berkelanjutan,” ujarnya.

Nazaruddin menegaskan bahwa kehadiran Migrant Center menjadi bukti nyata komitmen kampus dalam menghasilkan SDM Indonesia yang unggul. “Prestasi sejati sebuah institusi pendidikan bukan hanya dari trofi, tetapi dari kemampuan lulusannya memenangkan ujian kehidupan,” tambahnya. Ia menambahkan bahwa fasilitas yang disediakan akan berkontribusi pada kemajuan bangsa, membangun profesionalisme di kancah internasional, serta menjaga nama baik Indonesia di mata dunia.

Dalam konteks ini, UMM Migrant Center tidak hanya berperan sebagai pusat pelatihan, tetapi juga sebagai pintu masuk untuk membangun hubungan yang kuat antara pendidikan dan industri. Pusat tersebut dilengkapi dengan sumber daya manusia terlatih, kurikulum yang berfokus pada kebutuhan pasar, dan metode pembelajaran yang interaktif. Selain itu, fasilitas seperti kelas bahasa, konsultasi hukum, dan simulasi pemberangkatan memberikan pengalaman holistik bagi para peserta pelatihan.

Pendekatan UMM dalam pembinaan migran menggabungkan teori dan praktik. Selain program bahasa, peserta akan mempelajari teknik komunikasi, manajemen risiko, serta peran penting dalam menjaga keberlanjutan pekerjaan. “Ini adalah langkah strategis untuk memastikan bahwa setiap individu yang diberangkatkan memiliki persiapan matang dan kesadaran akan tanggung jawabnya sebagai warga negara,” kata Nazaruddin.

Menurut Dzulfikar, keberhasilan UMM Migrant Center akan menjadi inspirasi bagi institusi lain. “Kita berharap sistem yang telah terbangun di UMM bisa menjadi contoh yang diadopsi di berbagai daerah,” ujarnya. Ia menekankan bahwa program pelatihan yang komprehensif adalah kunci untuk mengurangi kebocoran tenaga kerja migran ilegal, yang selama ini mencemari reputasi Indonesia sebagai negara pengirim tenaga kerja.

Dalam jangka panjang, UMM Migrant Center diperkirakan menjadi pilar utama program penyiapan tenaga kerja luar negeri. Fasilitas yang diperkenalkan diharapkan mampu meningkatkan keterampilan teknis, memperkuat kepercayaan diri, serta membentuk mentalitas yang tangguh. “Kami berkomitmen untuk terus mengembangkan sistem ini agar mencakup semua aspek kebutuhan migran, baik dalam proses pemberangkatan maupun penyesuaian di luar negeri,” pungkas Nazaruddin.

Program ini juga berdampak pada penyederhanaan prosedur pengiriman tenaga kerja. Dengan sistem yang terintegrasi, para migran tidak hanya menerima pelatihan berbasis kurikulum, tetapi juga akses langsung ke informasi pasar, jaringan kerja, dan bimbingan karier. “Tujuan kami adalah menciptakan keterampilan yang kompeten, sehingga setiap individu mampu menjadi representasi terbaik Indonesia di luar negeri,” tambahnya.

Menurut Dzulfikar, penggunaan teknologi dalam pelatihan migran juga menjadi faktor penting. “UMM Migrant Center memiliki infrastruktur digital yang mendukung efisiensi dan transparansi seluruh proses pelatihan,” ujarnya. Hal ini memastikan bahwa keberangkatan pekerja migran tidak hanya terjadi secara massal, tetapi juga terarah dan berkelanjutan. Dengan adanya sistem yang terbukti berhasil, pemerintah optimis target peningkatan keterampilan bisa tercapai dengan lebih cepat dan efektif.

Rektor UMM mengakui bahwa kolaborasi antara universitas dan pemerintah menjadi kunci keberhasilan program ini. “Kami bersama Kementerian P2MI akan terus berupaya menyesuaikan kurikulum agar selaras dengan kebutuhan industri dan standar internasional,” jelas Nazaruddin. Ia menambahkan bahwa keberadaan Migrant Center akan mendorong integrasi pendidikan dengan dunia kerja, menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan efektif.

Dengan semua fasilitas dan keunggulan yang dimiliki, UMM Migrant Center diharapkan menjadi model yang bisa diadopsi oleh PTS lain. “Kita perlu menyiapkan SDM yang berkualitas, sehingga keberangkatan migran tidak hanya berupa jumlah, tetapi juga kontribusi nyata bagi perekonomian negara,” tutur Dzulfikar. Ia menyatakan bahwa keberhasilan program ini akan memberikan dampak positif yang luas, baik bagi individu maupun secara nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *