Key Strategy: Danantara mulai pembangunan PSEL Bali pastikan teknologi teruji
Danantara Mulai Pembangunan PSEL Bali, Teknologi Dipilih Setelah Diperiksa
Key Strategy – Denpasar, Rabu – Perusahaan teknologi pengolahan sampah, Danantara Indonesia, resmi memulai konstruksi Pembangkit Energi Listrik dari Sampah (PSEL) di Bali. Proyek ini menjadi langkah penting dalam upaya mengatasi masalah sampah di daerah itu. Sebelum memulai, perusahaan memastikan teknologi yang akan diterapkan sudah teruji dan layak digunakan. “Ini hari bersejarah bagi kami, karena hari ini kita meluncurkan groundbreaking pertama dari program PSEL di Bali,” kata Rosan Roeslani, CEO Danantara Indonesia, saat memberi pernyataan di Denpasar.
Respon terhadap Tantangan Lingkungan
Menurut Rosan, kebutuhan untuk mengimplementasikan teknologi ini muncul dari peran yang diberikan Presiden Prabowo Subianto dalam menyelesaikan masalah lingkungan, terutama pengelolaan sampah. Ia menjelaskan bahwa pemerintah ingin menghindari dampak negatif dari sampah yang menumpuk, sehingga solusi mengubah sampah menjadi energi menjadi pilihan yang tepat. “Kita ingin mengubah cara masyarakat melihat sampah, bukan hanya sebagai masalah, tapi sebagai sumber daya yang bisa dimanfaatkan,” tambahnya.
Danantara Indonesia bergerak cepat dalam mencari mitra teknologi yang terbukti berhasil. Teknologi yang dipilih telah teruji di 50 negara, termasuk Tiongkok dan Jepang. Rosan menyebutkan bahwa PSEL bisa diterapkan di berbagai lokasi, bahkan di tengah pemukiman elit. “Di Tiongkok, PSEL ditempatkan di pusat kota, dan hasilnya sangat bersih, tidak ada bau, bahkan area sekitarnya dirancang sebagai taman baca dan tempat rekreasi anak-anak,” ujarnya.
Proses Pemilihan Teknologi dan Mitra
Rosan menekankan bahwa proses pemilihan teknologi dan mitra dilakukan secara transparan. “Kami tidak hanya mengandalkan kelayakan teknis, tapi juga pertimbangan lingkungan, ekonomi, dan sosial,” katanya. Kemitraan dengan PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) dan PT Danantara Investment Management (DIM) menjadi langkah strategis dalam memastikan proyek ini berjalan mulus. Teknologi yang dipakai di Bali dirancang agar bisa menyerap berbagai jenis sampah, baik baru maupun lama, dengan hasil yang optimal.
CEO PT DIM, Pandu Patria Sjahrir, menambahkan bahwa pembangunan PSEL Bali berlangsung secara profesional. “Kami menggabungkan keahlian di bidang operasional, hukum, finansial, dan lingkungan, mulai dari perencanaan hingga pemasangan,” kata Pandu. Ia menjelaskan bahwa proyek ini diharapkan menjadi contoh sukses dalam mengelola sampah secara berkelanjutan. “Selain mengurangi volume sampah, PSEL juga mampu membangkitkan energi hijau yang bisa digunakan masyarakat,” katanya.
Target Operasional dan Manfaat Proyek
Pembangunan PSEL akan dimulai di Desa Pedungan, Denpasar, yang merupakan bagian dari aglomerasi Denpasar-Badung. Proyek ini dirancang untuk beroperasi sejak awal 2028, dengan kapasitas pengolahan sampah mencapai 1.500 ton per hari. Dengan kapasitas tersebut, diperkirakan PSEL Bali mampu mengolah lebih dari 500.000 ton sampah per tahun, atau sekitar 40% dari total sampah yang dihasilkan di Bali. “Ini akan memberi dampak signifikan pada pengelolaan sampah, energi, dan perekonomian lokal,” tambah Pandu.
Dari sisi lingkungan, PSEL diharapkan menurunkan emisi gas rumah kaca dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hingga 80%. Selain itu, proyek ini juga akan mengurangi kebutuhan lahan TPA sekitar 80% secara signifikan. “Ini adalah langkah awal untuk menciptakan ekosistem sampah yang ramah lingkungan,” ujar Pandu. Dari segi energi, proyek ini akan menghasilkan listrik yang bisa disuplai ke sekitar 100.000 rumah warga Bali.
Dampak Ekonomi dan Pendidikan
Proyek PSEL Bali tidak hanya memberi manfaat lingkungan, tapi juga ekonomi. Pandu menyebutkan bahwa proyek ini diperkirakan menciptakan 1.200 lapangan kerja hijau, serta memberi ruang bagi pertumbuhan bisnis lokal. “Kami ingin menunjukkan bahwa sampah bisa diubah menjadi kekayaan, bukan hanya masalah,” ujarnya. Selain itu, proyek ini juga diharapkan menjadi pusat pendidikan dan kunjungan, menunjukkan bahwa teknologi dapat digunakan dalam konteks sosial dan budaya.
Menyambut kesuksesan proyek ini, Rosan berharap masyarakat tidak hanya menunggu, tapi juga turut mengapresiasi upaya yang dilakukan. “PSEL Bali akan mengubah persepsi masyarakat terhadap sampah, karena kita bisa melihatnya sebagai bagian dari solusi berkelanjutan,” katanya. Ia menegaskan bahwa teknologi yang dipilih telah diperiksa secara rinci dan bisa dipercaya. “Kita ingin menciptakan contoh yang bisa menjadi inspirasi untuk daerah lain,” ujarnya.
Danantara Indonesia juga merujuk pada standar lingkungan Europe Industrial Emission Directive (EU IED) dalam merancang proyek ini. “Standar tersebut memberikan pedoman yang ketat, sehingga hasilnya bisa diukur secara akurat,” jelas Pandu. Proses ini tidak hanya menekankan keberlanjutan lingkungan, tapi juga menjamin keberhasilan ekonomi dan sosial. “Kami percaya bahwa PSEL Bali akan menjadi bagian dari transformasi daerah yang lebih hijau,” katanya.
Pembangunan PSEL Bali juga menjadi wujud komitmen perusahaan dalam mendukung pengurangan emisi karbon. Diperkirakan, proyek ini akan mengurangi 640.000 ton CO2 per tahun, yang setara dengan kebijakan pengurangan emisi dari beberapa negara industri besar. “Ini bukan hanya proyek teknis, tapi juga semangat untuk menjaga keberlanjutan,” ucap Rosan. Ia berharap dengan PSEL, Bali bisa menjadi model yang bisa diikuti oleh daerah lain di Indonesia.
Perspektif Masa Depan
Dari perspektif jangka panjang, Rosan menegaskan bahwa PSEL Bali akan menjadi bagian dari ekosistem yang lebih baik. “Kita tidak hanya memperbaiki lingkungan, tapi juga menciptakan keuntungan ekonomi dan pemanfaatan sumber daya secara efisien,” katanya. Proyek ini juga diharapkan memberi kesempatan bagi warga untuk melibatkan diri dalam proses pengolahan sampah. “Kami ingin menciptakan kesadaran masyarakat bahwa sampah bisa menjadi energi, bukan hanya limbah,” ujarnya.
Pandu menambahkan bahwa PSEL Bali akan beroperasi secara terpadu dengan kebijakan pemerintah daerah. “Kemitraan dengan berbagai pihak memastikan bahwa proyek ini bisa berjalan optimal,” katanya. Dengan target operasional awal 2028, proyek ini akan menjadi batu loncatan bagi transformasi sampah di Bali. “Kami percaya ini akan menjadi bagian dari solusi untuk masalah lingkungan di masa depan,” pungkas Pandu.
Rosan menegaskan bahwa teknologi yang digunakan adalah hasil pengembangan dari pengalaman internasional. “Kita tidak menyalin langsung, tapi mengadaptasi sesuai kebutuhan Bali,” ujarnya. Proyek ini juga diharapkan mendorong inovasi teknologi lokal dalam pengolahan sampah. “Dengan melihat keberhasilan di luar negeri, kami yakin teknologi ini bisa berjalan baik di sini,” lanjutnya.
Sementara itu, pandangan Rosan tentang PSEL Bali terus berkembang. “Kita ingin mengubah sampah menjadi energi, dan sekaligus menjadi tempat belajar bagi masyarakat,” katanya. Ia menambahkan bahwa desain P