Topics Covered: Hari Kebaya Nasional, perempuan diajak lestarikan warisan budaya
Momentum Pelestarian Kebaya: Perempuan Indonesia Bergerak Bersama
Topics Covered – Jakarta menjadi saksi sejarah dalam rangkaian persiapan peringatan Hari Kebaya Nasional yang ketiga kalinya. Dalam pertemuan yang diselenggarakan pada hari Selasa, Lana T. Koentjoro sebagai Ketua Umum DPP Perempuan Indonesia Maju menyampaikan ajakan kuat kepada seluruh organisasi perempuan serta komunitas budaya di tanah air. Ajakan tersebut berfokus pada penguatan semangat kebersamaan untuk menjaga kebaya sebagai salah satu identitas bangsa yang tak tergantikan.
Menurut pandangan Lana, keberhasilan dalam melestarikan warisan budaya tidak bisa ditopang oleh satu pihak saja. Proses ini memerlukan keterlibatan aktif dari seluruh elemen masyarakat, dengan penekanan khusus pada peran perempuan Indonesia yang sangat vital dalam menjaga dan meneruskan nilai-nilai luhur budaya kepada generasi mendatang. Kebersamaan inilah yang menjadi kekuatan utama kita untuk terus menjaga dan melestarikan budaya, khususnya kebaya. Ini bukan hanya kegiatan satu organisasi, tetapi gerakan bersama seluruh perempuan Indonesia,” kata Lana T. Koentjoro dalam rapat persiapan Hari Kebaya Nasional ke-3 di Jakarta, Selasa.
Sejarah Panjang Gerakan Kebaya
Momentum tahunan yang dirayakan ini tidak sekadar menjadi perayaan penggunaan kebaya semata. Lebih dari itu, Hari Kebaya Nasional telah berkembang menjadi gerakan kolektif untuk memperkuat kesadaran masyarakat terhadap nilai sejarah, filosofi, dan identitas budaya yang melekat erat pada kebaya sebagai warisan bangsa yang harus dijaga.
Lana menjelaskan bahwa gerakan kebaya yang saat ini berkembang pesat merupakan hasil dari perjalanan panjang yang dilalui berbagai organisasi perempuan dan komunitas budaya. Sejak awal, mereka telah berkomitmen penuh untuk menjaga keberadaan kebaya sebagai simbol budaya nasional yang representatif. “Perjuangan panjang Tim Nasional Kebaya Indonesia dalam melestarikan kebaya sebagai identitas budaya bangsa membuahkan hasil bersejarah,” kata Lana.
Dua Pencapaian Bersejarah di Bawah Kepemimpinan Lana
Di bawah kepemimpinan Lana T. Koentjoro, pihaknya berhasil mewujudkan dua pencapaian penting yang menjadi tonggak sejarah dalam pelestarian kebaya. Pencapaian pertama adalah penetapan Hari Kebaya Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023 yang diperingati setiap 24 Juli. Pencapaian kedua adalah pengakuan Kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) UNESCO pada 4 Desember 2024, yang menjadi bukti pengakuan internasional terhadap nilai budaya Indonesia.
Ia pun berharap Hari Kebaya Nasional ke-3 dapat menjadi momentum yang memperkuat kecintaan masyarakat terhadap budaya nasional sekaligus memperluas ruang partisipasi perempuan Indonesia dalam pelestarian budaya. Dengan adanya pengakuan UNESCO, diharapkan lebih banyak pihak yang terlibat aktif dalam menjaga warisan budaya ini.
Rangkaian Kegiatan dan Unsur Budaya Pendukung
Rangkaian Hari Kebaya Nasional tahun ini akan mengangkat berbagai unsur budaya pendukung yang saling melengkapi. Unsur-unsur tersebut meliputi batik, wastra nusantara, sanggul, serta aksesori tradisional Indonesia yang memiliki nilai estetika dan makna filosofis tinggi. “Padanannya sudah jelas, kebaya, batik, wastra nusantara, sanggul, aksesoris, dan berbagai karya budaya lainnya. Semua itu menjadi bagian yang ingin kita angkat bersama,” ujar Lana T. Koentjoro.
Rangkaian kegiatan Hari Kebaya Nasional tahun ini akan dilaksanakan melalui konsep daring (online) dan luring (offline), dengan puncak kegiatan dijadwalkan berlangsung di Hall Ballroom Senayan City, Jakarta, pada 24 Juli 2026. Konsep hybrid ini memungkinkan partisipasi yang lebih luas dari berbagai kalangan masyarakat tanpa terbatas oleh jarak geografis.
Kehadiran Tokoh-Tokoh Penting dalam Rapat Persiapan
Rapat persiapan Hari Kebaya Nasional turut dihadiri oleh berbagai tokoh penting dari organisasi perempuan dan komunitas budaya. Kehadiran mereka menunjukkan konsolidasi kekuatan dalam gerakan pelestarian kebaya. Para hadirin antara lain Ketua Umum Kowani Nannie Hadi Tjahjanto, Dewi Motik selaku Ketua Umum Kowani periode 2009 – 2014, Sinta Umar selaku Ketua Umum Komunitas Pertiwi, Miranti Sirad Ginanjar selaku Ketua I Komunitas Pertiwi, Pia Megananda selaku Ketua Umum KB Wirawati Catur Panca, dan Ana Mariana selaku Ibu Tenun Nasional.
Kehadiran para tokoh ini mencerminkan betapa pentingnya kolaborasi antar-organisasi dalam mewujudkan visi pelestarian kebaya sebagai warisan budaya yang harus dijaga oleh seluruh generasi Indonesia. Dengan dukungan dan partisipasi aktif dari berbagai pihak, diharapkan gerakan kebaya dapat terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi masyarakat Indonesia secara keseluruhan.