Key Strategy: China harapkan hak negara-negara di sekitar Selat Hormuz dihormati

Key Strategy: Tiongkok Harap Hak Negara Selat Hormuz Dihormati

Key Strategy – Pemerintah Tiongkok secara resmi menyampaikan bahwa hak-hak serta kepentingan negara-negara yang berada di sekitar Selat Hormuz harus senantiasa dihormati. Langkah ini diyakini dapat membantu pemulihan pelayaran di wilayah strategis tersebut agar segera kembali ke kondisi normal. Dalam konferensi pers yang digelar di Beijing pada hari Selasa, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian, menegaskan bahwa masyarakat internasional mengharapkan penghormatan terhadap hak-hak sah negara-negara pesisir Selat Hormuz. Selain itu, pemulihan pelayaran yang aman dan normal juga menjadi prioritas utama yang diharapkan dapat terwujud.

Ketegangan yang Terus Memanas di Jalur Strategis Dunia

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran vital bagi pasokan minyak dan gas dunia. Ketegangan di wilayah ini masih terus meningkat seiring dengan perkembangan terbaru. Pada hari Minggu tanggal 12 Juli, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa mereka akan menutup kembali Selat Hormuz. Pengumuman ini disertai dengan pernyataan bahwa IRGC telah menyerang pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat yang berlokasi di Yordania, Bahrain, dan Kuwait. Serangan tersebut merupakan bentuk balasan atas serangan yang dilancarkan AS terhadap beberapa provinsi pesisir Iran sebelumnya.

Keesokan harinya, tepatnya pada hari Senin tanggal 13 Juli, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa negaranya akan melanjutkan blokade maritim terhadap Iran. Trump juga menyatakan bahwa AS akan berperan sebagai “penjaga” Selat Hormuz. Sebagai bagian dari kebijakan baru tersebut, AS akan memungut biaya sebesar 20 persen dari nilai kargo yang melintasi jalur pelayaran tersebut. Selain itu, Trump juga menginformasikan bahwa pemerintahannya akan memberlakukan kembali blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan di Iran.

Posisi Tiongkok dan Seruan Perdamaian

“China sangat prihatin atas kembali terjadinya konflik militer di kawasan Teluk. China menyerukan kepada pihak-pihak terkait untuk mengindahkan seruan kuat demi perdamaian dan stabilitas dari kawasan tersebut maupun masyarakat internasional, tetap tenang, dan menahan diri,” ujar Lin Jian.

Lin Jian juga meminta semua pihak untuk menjaga gencatan senjata yang telah dicapai dengan susah payah. Tujuannya adalah menghindari pecahnya kembali perang dan mencegah meluasnya pertempuran yang dapat menyebabkan jatuhnya lebih banyak korban sipil. Menurut Lin Jian, pihak-pihak terkait perlu bergerak ke arah yang sama dan mengupayakan penyelesaian yang tepat atas konflik yang sedang berlangsung.

Lin Jian juga menjelaskan bahwa Tiongkok akan terus bertindak berdasarkan empat usulan yang disampaikan oleh Presiden Xi Jinping. Berbagai upaya akan dilakukan untuk meredakan ketegangan dan menstabilkan situasi di Timur Tengah serta kawasan Teluk. Langkah-langkah ini mencerminkan komitmen Tiongkok dalam menjaga stabilitas regional dan global.

Perkembangan Terbaru dari AS dan Dampak Pasar

Tak lama setelah pernyataan Trump, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melalui akun X menyatakan bahwa pasukannya akan melanjutkan blokade lalu lintas maritim menuju dan keluar dari pelabuhan Iran. Blokade ini dimulai pada hari Selasa mulai pukul 16.00 waktu setempat. Pasukan AS akan memberlakukan blokade terhadap kapal yang berlayar menuju atau keluar dari pelabuhan dan wilayah pesisir Iran. Namun, CENTCOM juga menjamin kelancaran pelayaran kapal yang tidak melanggar blokade di perairan regional.

Pada hari Selasa tanggal 14 Juli, CENTCOM menyatakan bahwa mereka telah menyelesaikan gelombang baru serangan terhadap sasaran-sasaran militer Iran. Target-target tersebut meliputi Bushehr, Chabahar, Jask, Konarak, dan Bandar Abbas. Serangan ini bertujuan untuk semakin melemahkan kemampuan Iran dalam menyerang pelayaran komersial. Akibat perkembangan tersebut, harga minyak mentah Brent naik sekitar 3,5 persen menjadi hampir 79 dolar AS per barel. Kenaikan ini menempatkan harga minyak sekitar sembilan persen di atas level sebelum konflik terjadi.

Blokade sebelumnya sempat dicabut setelah Pakistan memediasi nota kesepahaman (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran pada Juni 2026. Kesepakatan itu dijadwalkan dilanjutkan dengan perjanjian final setelah sedikitnya 60 hari perundingan. Perundingan tersebut juga mencakup pembahasan mengenai program nuklir Teheran. Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporannya menyatakan bahwa pemulihan ekspor minyak dari kawasan Teluk setelah gencatan senjata awal antara Amerika Serikat dan Iran bulan lalu sempat meningkatkan pasokan minyak global. Namun, IEA memperingatkan bahwa pemulihan yang lebih luas tetap bergantung pada meredanya kembali konflik dalam waktu dekat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *