Special Plan: DKI punya Balai Budaya Condet untuk lestarikan tradisi
DKI punya Balai Budaya Condet untuk lestarikan tradisi
Jakarta menjadi tempat yang memiliki Balai Budaya Condet, sebuah ruang seni yang dirancang untuk menjaga keberlanjutan budaya dan memfasilitasi karya seniman. Rinaldi, kepala unit pengelola gedung tersebut, mengungkapkan bahwa ruang pertunjukan ini penting dalam membantu para seniman lokal mempertahankan warisan budaya mereka. “Pengembangan seni di Jakarta adalah prioritas. Saya harap Balai Budaya Condet tetap eksis sebagai wadah pertunjukan seni yang mencerminkan kebudayaan Betawi,” jelasnya dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.
Sejarah dan fasilitas gedung
Sejak didirikan sekitar tahun 1990, Balai Budaya Condet awalnya bernama Laboratorium Tari dan Karawitan Condet. Gedung yang dikelola oleh Dinas Kebudayaan DKI Jakarta ini dilengkapi berbagai fasilitas, termasuk amfiteater kapasitas 100 orang, aula ukuran 10×9 meter, ruang persiapan seniman, serta toilet. Selain itu, lokasi gedung yang dekat dengan masyarakat juga memudahkan akses untuk kegiatan seni budaya.
“Keberadaan Balai Budaya Condet berpotensi menjadi pusat budaya,” kata Octavianus Cahyono Prianto, kepala program studi pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Ia menambahkan, gedung ini memiliki peran khusus sebagai laboratorium seni, terutama dalam menjaga keberlanjutan budaya lokal yang semakin terancam.
Belakangan ini, gedung tersebut digunakan sebagai tempat pertunjukan disertasi tari bertajuk “Ampu Empuan” dengan konsep Embodied Habitus: Penciptaan Tari Berbasis Peran Ganda Perempuan Betawi, karya Lydia Devi Nurshanti, mahasiswi S3 ISI Yogyakarta. Pertunjukan ini tidak hanya menyoroti budaya Betawi dan peran perempuan dalam seni, tetapi juga menegaskan kembali identitas gedung sebagai tempat kreativitas seniman.
Rinaldi menekankan bahwa Balai Budaya Condet berperan dalam mengembangkan kesenian dan memperkuat tradisi. Sementara itu, Octavianus Cahyono Prianto berharap gedung bisa terus menjadi ruang yang membangkitkan minat generasi muda terhadap warisan budaya. “Selain sebagai laboratorium, Balai Budaya Condet juga perlu menjadi pengingat kolektif bagi masyarakat,” ujarnya.