Topics Covered: Hari Buku dan penguatan literasi
Hari Buku dan Penguatan Literasi
Dalam suasana Jakarta, membaca buku diibaratkan sebagai upaya untuk mempertahankan cahaya pengetahuan yang tak pernah padam. Setiap halaman buku memberikan ruang untuk berpikir, sementara kata-kata membuka pandangan baru dan menenangkan pikiran yang sebelumnya berkecamuk. Dengan buku, dunia seolah terbuka lebar, membawa keheningan yang mengandung wawasan mendalam. Bagi Indonesia, perayaan Hari Buku Sedunia dianggap sebagai kesempatan strategis untuk memperkuat literasi melalui bahasa dan sastra.
Ada tiga aspek utama yang menonjolkan pentingnya literasi: sebagai fondasi pembentukan karakter bangsa, sebagai upaya mendistribusikan akses bacaan secara merata, serta sebagai kunci peningkatan daya saing sumber daya manusia. Hafidz Muksin, kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, menegaskan bahwa ketiga faktor ini membentuk strategi berkelanjutan dalam menjadikan literasi sebagai bagian integral dari pembangunan nasional.
“Kolaborasi antarlapisan masyarakat menjadi faktor penentu agar target penguatan literasi ini bisa tercapai secara maksimal,” ujar Hafidz Muksin.
Buku memiliki hubungan erat dengan konteks literasi dan bahasa. Dengan demikian, pengembangan buku yang mendukung proses berliterasi memerlukan ekosistem yang solid serta kemampuan dalam menggunakan bahasa secara efektif. Kebiasaan membaca dan menulis, sebagai bagian dari literasi, membutuhkan media dasar, yaitu buku. Proses ini juga mendorong pemahaman yang lebih kritis dan berkelanjutan.
Dalam era digital yang semakin cepat, buku tetap menjadi sarana utama untuk mendapatkan wawasan menyeluruh. Literasi digital, di sisi lain, berperan sebagai penunjang dalam memperkuat pemahaman tersebut. Tanpa dasar membaca yang kuat, kedalaman pemikiran mungkin tergerus, terutama di tengah arus informasi yang terus mengalir.
Badan Bahasa berkomitmen mengembangkan ekosistem perbukuan dengan berbagai inisiatif, termasuk program pengayaan bahan literasi. Program ini mencakup buku cetak dan digital, serta terjemahan buku asing dan daerah untuk menambah variasi bacaan. Buku juga diharapkan bisa menjadi alat untuk membentuk literasi inklusif dan kedaerahan, yang mendukung pendidikan berkualitas bagi seluruh lapisan masyarakat.
Langkah strategis lainnya meliputi penyediaan buku bermutu melalui sayembara penulisan, distribusi ke daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar), dan pemberdayaan komunitas literasi di berbagai wilayah. Edi Santoso, pengamat komunikasi dan ketua jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman, menilai bahwa dinamika literasi saat ini membutuhkan pendekatan yang lebih modern dan relevan dengan perubahan zaman.
“Dominasi konten digital yang mengikuti kehidupan sehari-hari generasi muda menjadi tantangan, tetapi juga peluang untuk menyelaraskan penggunaan media sosial dengan nilai mendalam buku,” kata Edi Santoso.
Dengan pendekatan partisipatif, membaca bisa dianggap sebagai bagian dari gaya hidup, bukan hanya kewajiban formal. Tujuannya adalah memastikan literasi tetap hidup dan berkembang di tingkat masyarakat. Literasi, pada akhirnya, adalah tentang menjaga harapan dan mengembangkan kemampuan berpikir yang mumpuni untuk masa depan.