Risiko Likuefaksi Pasca Gempa 7,7 di NTT: Analisis Awal Badan Geologi
Pemandanganindah.com – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 dengan kedalaman hiposenter 15 kilometer yang melanda Nusa Tenggara Timur telah memicu berbagai bahaya ikutan yang memerlukan perhatian serius dari para ahli geologi. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) segera melakukan identifikasi menyeluruh terhadap potensi dampak lanjutan yang dapat terjadi di wilayah terdampak.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyampaikan bahwa timnya telah mengumpulkan berbagai indikasi dari lapangan melalui foto-foto dokumentasi yang menunjukkan kerusakan struktural. Retakan pada dinding bangunan, kerusakan komponen struktural, hingga keruntuhan parsial pada beberapa bangunan menjadi bukti visual kuat akan intensitas guncangan. Selain itu, terdapat laporan unik mengenai keluarnya air dari dalam tanah yang terjadi beberapa saat setelah gempa utama.
Identifikasi Bahaya Ikutan dan Potensi Likuefaksi
Dalam konferensi pers di Bandung pada hari Sabtu, Lana menjelaskan bahwa selain guncangan langsung yang dirasakan masyarakat, terdapat beberapa ancaman tambahan yang perlu diwaspadai. Ancaman tersebut mencakup potensi tsunami, gerakan tanah, retakan permukaan tanah, serta indikasi awal terjadinya likuefaksi.
“Selain dampak langsung berupa guncangan, kami juga mengidentifikasi adanya beberapa bahaya ikutan, di antaranya adalah tsunami, gerakan tanah, retakan tanah, serta indikasi likuefaksi,” kata Lana.
Di wilayah Waekokak-Mbay, fenomena keluarnya air dari dalam tanah menjadi perhatian khusus. Sementara itu, di Bonea, Selayar, teramati adanya tsunami kecil yang terjadi sebagai dampak dari guncangan gempa. Fenomena keluarnya air dari tanah ini, menurut analisis awal, dapat dikaitkan dengan likuefaksi dalam bentuk sand boil atau semburan air berpasir dan berlumpur.
Analisis Cepat dan Prediksi Dampak Wilayah
Badan Geologi segera melakukan analisis cepat untuk mengevaluasi kemungkinan terjadinya likuefaksi di berbagai lokasi. Hasil awal menunjukkan bahwa peluang likuefaksi sangat bergantung pada hubungan antara jarak dari sumber gempa dan kekuatan gempanya. Wilayah yang berada lebih dekat dengan sumber gempa diperkirakan akan mengalami dampak yang lebih signifikan.
Area dataran aluvium, termasuk sebagian wilayah Nagekeo, menjadi salah satu zona yang paling rentan terhadap fenomena likuefaksi. Dataran aluvium merupakan wilayah yang terbentuk dari endapan material sedimen yang relatif longgar, sehingga lebih mudah mengalami perubahan sifat mekanis saat terkena guncangan gempa. Dalam kondisi likuefaksi, tanah yang biasanya padat dapat berubah menjadi seperti cairan, menyebabkan penurunan atau pergeseran struktur bangunan di atasnya.
“Perlu saya tekankan bahwa analisis ini merupakan analisis cepat dan menjadi dasar untuk menentukan lokasi yang perlu diprioritaskan dalam verifikasi lapangan,” katanya.
Perbandingan dengan Kejadian Likuefaksi Palu
Lana juga memberikan penjelasan mengenai karakteristik likuefaksi yang teramati saat ini. Berdasarkan indikasi awal, dampak terhadap tanah pondasi diperkirakan berada pada tingkat rendah hingga sedang. Hal ini berbeda dengan kejadian likuefaksi tipe Palu yang terjadi pada tahun 2018, di mana fenomena tersebut dapat bergerak jauh dan menyebabkan kerusakan yang lebih luas.
Likuefaksi tipe Palu dikenal dengan kemampuannya menciptakan aliran tanah yang bergerak seperti gelombang, merusak infrastruktur dalam radius yang lebih besar. Sementara itu, fenomena yang teramati di NTT saat ini tampaknya lebih terbatas dan tidak menunjukkan karakter pergerakan jauh seperti kasus Palu.
“Namun demikian, kesimpulan final tetap membutuhkan identifikasi dan pemeriksaan langsung di lapangan,” ucapnya.
Tindak Lanjut dan Rekomendasi untuk Masyarakat
Sebagai tindak lanjut, Badan Geologi Kementerian ESDM akan mengirimkan Tim Penyelidikan Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi ke lokasi terdampak. Tim ini akan melakukan kajian cepat untuk memverifikasi kondisi lapangan, memperdalam analisis, serta menyusun rekomendasi teknis mitigasi yang sesuai dengan kondisi setempat.
Hasil penyelidikan tersebut selanjutnya akan disampaikan kepada pemerintah daerah dan para pemangku kebijakan sebagai dasar dalam penanganan darurat maupun langkah mitigasi selanjutnya. Hal ini penting untuk memastikan bahwa respons terhadap bencana dilakukan secara terkoordinasi dan efektif.
Badan Geologi juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan mengikuti arahan BPBD serta pemerintah daerah. Masyarakat diminta untuk mewaspadai gempa susulan dan tidak mempercayai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu, masyarakat perlu memeriksa kondisi bangunan sebelum kembali menggunakannya, mematuhi rambu dan jalur evakuasi, serta menghindari daerah tebing yang berpotensi longsor, terutama saat hujan.
“Ke depan, penerapan kaidah bangunan tahan gempa harus menjadi bagian penting dari upaya mitigasi di wilayah rawan,” tuturnya.
Nusa Tenggara Timur merupakan wilayah yang secara geografis berada di zona seismik aktif. Gempa-gempa sebelumnya di wilayah ini telah menunjukkan bahwa masyarakat perlu selalu waspada terhadap potensi bencana geologi. Dengan adanya analisis cepat dan verifikasi lapangan yang akan dilakukan, diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai risiko yang dihadapi masyarakat NTT pasca gempa 7,7 ini.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Badan Geologi?
Badan Geologi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Badan Geologi matter?
Badan Geologi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

