Kota Bandung perkuat citra pariwisata di Bandara Husein Sastranegara

2 hours ago  ·  4 min read
By Matthew Brown - pemandanganindah.com
khrisna-edit-1788172700-84fa53b7b9

Bandara Husein Sastranegara Jadi Etalase Identitas Wisata Bandung

Pemandanganindah.com – Seiring kembalinya jadwal penerbangan komersial yang melayani rute domestik, Kota Bandung kini memanfaatkan momentum tersebut untuk membangun ulang persepsi wisatawan terhadap kota ini. Langkah itu tidak lagi terbatas pada promosi digital atau kampanye media sosial, melainkan hadir secara fisik di titik pertama yang disentuh oleh setiap penumpang yang mendarat di Jawa Barat. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung menempatkan Bandara Internasional Husein Sastranegara sebagai ruang representasi utama, di mana identitas budaya dan daya tarik wisata kota diperkenalkan sebelum penumpang bahkan menginjakkan kaki di luar terminal.

Keputusan ini berangkat dari pemahaman bahwa bandara bukan sekadar infrastruktur transportasi, melainkan gerbang naratif. Setiap elemen visual, setiap kata yang terpampang di dinding, dan setiap karya seni yang dipajang membentuk kesan pertama yang menetap dalam ingatan pengunjung. Dengan posisi geografis yang menjadikan Bandung salah satu destinasi utama di Pulau Jawa, penguatan citra di titik masuk menjadi prioritas strategis bagi pemerintah kota.

Kolaborasi Tiga Pilar: Pemerintah, Pengelola Bandara, dan Sektor Swasta

Adi Junjunan Mustafa, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, menjelaskan bahwa penguatan branding ini tidak dijalankan secara sepihak oleh satu instansi. Mekanisme kerja melibatkan koordinasi lintas pihak, mencakup Pemerintah Kota Bandung, manajemen bandara, serta pelaku usaha swasta yang memiliki kepentingan pada ekosistem pariwisata lokal.

“Pemerintah Kota Bandung kolaborasi dengan bandara, ada pihak swasta juga. Kita dari kami cukup intensif untuk me-branding Kota Bandung. Tentunya ini belum tuntas, terus akan kita makin matangkan.”

Pernyataan tersebut disampaikan Adi di Bandung pada Senin. Ia menegaskan bahwa proses branding bersifat iteratif; elemen-elemen visual dan pesan yang sudah terpasang merupakan tahap awal, bukan titik akhir. Pengembangan lanjutan akan terus dilakukan agar representasi kota semakin komprehensif dan konsisten di seluruh area bandara.

Layar LED Sepuluh Meter dan Ungkapan Khas Sunda

Salah satu elemen paling mencolok yang kini hadir di area tunggu penumpang adalah layar LED dengan panjang sekitar sepuluh meter. Layar tersebut memutar pesan-pesan bernuansa lokal, termasuk ungkapan khas berbahasa Sunda seperti “wilujeng landing” dan “sampurasoon.” Pemilihan diksi ini bukan sekadar dekorasi linguistik, melainkan upaya menanamkan identitas kultural sejak detik pertama kedatangan. Penumpang yang baru turun dari pesawat langsung disambut oleh bahasa dan simbol yang secara eksplisit mengaitkan pengalaman mereka dengan karakter khas Bandung.

Di sekitar area tersebut juga terpasang ornamen dan visual yang merepresentasikan berbagai aspek pariwisata kota, mulai dari ikon kuliner, lanskap budaya, hingga elemen arsitektur yang menjadi penanda kota. Penataan ruang ini dirancang agar setiap sudut terminal menyampaikan narasi yang koheren tentang Bandung sebagai destinasi, bukan sekadar transit.

“Yang menjadi ikon itu di sana sudah ada tempat duduk kemudian ada kabin. Itu khas. Apalagi dengan LED yang panjang sampai 10 meter dan menampilkan kata-kata yang Bandung.”

Karya Seni Difabel: Pesan Inklusivitas di Ruang Publik

Di antara elemen visual yang dipajang, terdapat karya seni yang dibuat oleh Muhammad Syafiq, seorang penyandang disabilitas yang akrab disapa Oki. Kehadiran karya ini di ruang publik setinggi bandara membawa dimensi tambahan pada narasi branding: Bandung tidak hanya mempromosikan dirinya sebagai kota wisata, tetapi juga sebagai kota yang membuka ruang bagi setiap warga untuk berkontribusi tanpa memandang keterbatasan fisik.

Adi menekankan bahwa nilai karya tersebut melampaui aspek estetika semata. Ia membawa pesan bahwa inklusivitas bukan slogan kebijakan, melainkan praktik nyata yang termanifestasi dalam ruang-ruang publik. Dengan menempatkan karya Oki di titik yang dilihat ribuan penumpang setiap hari, pemerintah kota mengirimkan sinyal bahwa kontribusi kreatif tidak memiliki prasyarat kemampuan fisik.

“Dibuatnya juga oleh difabel. Kalau buat Pak Wali, Bandung itu kota inklusif, kota yang sangat terbuka. Siapa pun bisa memberikan kontribusi buat Kota Bandung.”

Implikasi bagi Pemulihan Sektor Pariwisata

Langkah branding di bandara ini perlu dibaca dalam konteks pemulihan ekonomi pariwisata pascapandemi. Ketika volume penumpang komersial kembali meningkat, persaingan antar-kota destinasi menjadi semakin ketat. Kota yang mampu membangun pengenalan identitas secara konsisten di titik-titik kontak awal—termasuk bandara—memiliki keunggulan psikologis dalam membentuk preferensi wisatawan. Penumpang yang tiba dengan kesan positif yang kuat cenderung memilih untuk memperpanjang kunjungan, menjelajah lebih jauh, dan merekomendasikan pengalaman tersebut kepada jaringan sosial mereka.

Bagi Bandung, yang selama beberapa dekade telah membangun reputasi sebagai kota kreatif, pusat kuliner, dan destinasi belanja, penguatan citra di bandara berfungsi sebagai pengingat bahwa reputasi tersebut harus terus diperbarui dan diperluas. Kolaborasi lintas sektor yang diinisiasi Disbudpar menunjukkan bahwa pembangunan citra kota bukan lagi ranah satu dinas, melainkan proyek kolektif yang menuntut sinergi antara regulasi, infrastruktur, dan kreativitas warga. Dengan pendekatan yang terstruktur dan berkelanjutan, Bandara Husein Sastranegara bertransformasi dari sekadar simpul transportasi menjadi etalase pertama yang memperkenalkan siapa Bandung sesungguhnya kepada dunia.

Frequently Asked Questions

What is Kota Bandung perkuat citra pariwisata di Bandara?

Kota Bandung perkuat citra pariwisata di Bandara is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kota Bandung perkuat citra pariwisata di Bandara matter?

Kota Bandung perkuat citra pariwisata di Bandara matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

More from this category