Key Discussion: Efisiensi anggaran, atlet pelatnas akuatik dikembalikan ke klub
Langkah Efisiensi Anggaran, Atlet Pelatnas Akuatik Dikembalikan ke Klub
Key Discussion – Jakarta – Pengurus Besar cabang olahraga akuatik Indonesia (PB Akuatik) mengambil keputusan untuk mengirimkan atlet pelatnas Asian Games 2026 kembali ke klub asal masing-masing. Pernyataan ini diungkapkan setelah pembahasan anggaran yang terbatas masih dalam proses. Wakil Ketua Umum PB Akuatik, Wisnu Wardhana, mengatakan bahwa organisasi tersebut sedang menunggu konfirmasi mengenai apakah pelatnas akan terus berjalan. “Saat ini, kita masih menunggu kepastian terkait kelanjutan pelatnas. Untuk cabang olahraga renang, keadaannya belum jelas,” jelas Wisnu di Jakarta, Selasa. Ia menambahkan, pelatnas harus dipulangkan sementara karena biaya yang dikeluarkan cukup besar. “Kita perlu memastikan anggaran bisa terpenuhi, apalagi ada banyak atlet yang harus dipelihara,” ujarnya.
Program Pelatnas Dimulai Maret 2026, Anggaran Terbatas
Program pemusatan latihan nasional (pelatnas) untuk Asian Games 2026 yang akan digelar di Aichi-Nagoya baru dimulai bulan Maret 2026. Namun, sepekan lalu PB Akuatik menerima informasi dari Kementerian Pemuda dan Olahraga bahwa dana yang tersedia terbatas. Wisnu menjelaskan bahwa federasi masih berupaya agar pelatnas bisa dilanjutkan. “Setelah dana dan anggaran tersedia, kita akan segera memulai kembali pelatnas. Karena kita tidak ingin menyatakan bahwa pelatnas tetap berjalan, tetapi atlet harus berlatih mandiri,” katanya. Ia menegaskan bahwa PB Akuatik sedang mencari solusi agar atlet tetap bisa terlayani. “Kita harus memastikan mereka tetap siap untuk kompetisi pada September,” imbuh Wisnu.
12 Atlet Diterima, Jumlah Berkurang dari 24 Awal
Wisnu menyebutkan bahwa sebanyak 12 atlet telah masuk ke dalam program pelatnas. Angka ini jauh lebih rendah dari rencana awal yang mencakup 24 atlet. Penyebabnya adalah efisiensi anggaran pemerintah yang mencapai angka di atas 50 persen. “Kurangnya jumlah atlet ini memang karena batasan anggaran, tapi kita sudah memilih atlet yang memenuhi kriteria. Mereka adalah para pemenang medali sebelumnya,” terangnya. Ia menjelaskan bahwa kriteria pemilihan atlet pelatnas diatur berdasarkan parameter tertentu. “Karena itu, kita mencoba menemukan solusi agar pelatnas tetap bisa berjalan,” lanjut Wisnu.
Flairene Candrea Wonomiharjo: Kecewa dengan Keputusan Federasi
Atlet yang tergabung dalam pelatnas, Flairene Candrea Wonomiharjo, merasa sedih dengan keputusan PB Akuatik mengembalikan atlet ke klub. Ia mengungkapkan bahwa keputusan ini membuatnya terpaksa menunda fokus latihan. “Sedih banget, sempat mellow karena kebetulan kita ingin tampil di Kejurnas minggu depan. Tapi ya tetep harus semangat, harus fokus,” ujar Flairene yang sedang mengikuti Kejuaraan Nasional Akuatik Indonesia di Stadion Akuatik GBK, Jakarta, 28 April hingga 7 Mei. Ia berharap tampil baik dalam ajang tersebut untuk membuktikan bahwa pelatnas masih relevan. “Justru di Kejurnas ini, kita perlu menunjukkan performa yang maksimal agar bisa memperkuat kans untuk dilibatkan dalam pelatnas,” tuturnya.
Prestasi di SEA Games 2022 dan 2025, Tekanan untuk Tetap Berlatih
Flairene yang telah memperoleh medali emas dalam nomor 100 meter gaya punggung putri SEA Games 2022 di Vietnam serta perunggu pada ajang serupa di Thailand 2025, mengakui bahwa keputusan federasi berdampak pada persiapan ke depan. Ia menyadari bahwa anggaran menjadi faktor penting dalam keputusan tersebut. “Pemerintah memang harus bijak dalam alokasi dana, tapi kita juga berharap bisa tetap berlatih di bawah pengawasan pelatnas,” katanya. Meski demikian, Flairene yakin bahwa keputusan ini tidak menghilangkan semangat mereka untuk mencapai target prestasi. “Kalau bisa tampil baik di Kejurnas, mungkin kita bisa meyakinkan bahwa pelatnas perlu tetap berjalan,” pungkasnya.
Kebutuhan Anggaran dan Tanggung Jawab Federasi
Persoalan anggaran menjadi sentral dalam rencana pelatnas. Wisnu Wardhana mengakui bahwa dana yang dialokasikan untuk pelatnas cukup besar, sehingga perlu dikelola dengan efisien. “Kita harus mempertimbangkan prioritas, apalagi banyak cabang olahraga lain yang juga mengajukan kebutuhan anggaran,” jelasnya. Ia menambahkan, PB Akuatik sedang berusaha memastikan program pelatnas bisa berjalan sekaligus tidak mengorbankan kualitas latihan atlet. “Kita berharap dana bisa dialokasikan secara proporsional agar atlet bisa terus berkembang,” ujarnya. Wisnu juga menyebutkan bahwa ada kebutuhan untuk menyeimbangkan antara kebutuhan pelatnas dengan kontribusi dari klub-klub. “Klub juga harus tetap didukung, tapi kita perlu pastikan atlet tetap bisa berlatih dengan optimal,” imbuhnya.
Kebutuhan untuk Membuktikan Kelayakan Pelatnas
Menurut Wisnu, keputusan untuk mengembalikan atlet ke klub tidak serta merta mengakhiri pelatnas, melainkan sebagai langkah sementara. “Kalau ada anggaran, kita pasti mulai lagi. Tapi kita harus menunjukkan bahwa atlet tetap bisa berkembang meski di klub,” katanya. Ia menekankan bahwa Kejuaraan Nasional Akuatik Indonesia menjadi ajang penting untuk menilai kinerja atlet. “Kita ingin melihat apakah mereka masih bisa tampil baik di bawah pengawasan klub, sehingga kita bisa memutuskan apakah pelatnas perlu dilanjutkan,” ujarnya. Wisnu juga menyoroti bahwa keputusan ini tidak hanya memengaruhi atlet, tetapi juga menjadi pertimbangan dalam strategi pembinaan olahraga nasional.
Langkah Sejalan dengan Efisiensi Anggaran
Langkah PB Akuatik mengembalikan atlet ke klub dinilai sejalan dengan kebijakan efisiensi anggaran. Hal ini menjadi solusi untuk mengoptimalkan penggunaan dana yang terbatas. “Kita tidak ingin membuang dana yang ada, apalagi cabang olahraga lain juga membutuhkan dukungan,” kata Wisnu. Ia menambahkan bahwa efisiensi anggaran harus dilakukan secara bijak. “Kita harus menilai mana yang lebih penting, baik itu untuk pelatnas maupun untuk klub-klub yang sudah memiliki sistem latihan sendiri,” jelasnya. Wisnu juga berharap bahwa keputusan ini bisa menjadi langkah awal dalam evaluasi pembinaan prestasi. “Setelah Kejurnas, kita bisa melihat hasilnya dan menentukan apakah pelatnas perlu diadakan kembali,” katanya.
Persiapan untuk Asian Games 2026 dan Dampaknya
Keputusan mengembalikan atlet ke klub juga berdampak pada persiapan menghadapi Asian Games 2026. Wisnu Wardhana menyatakan bahwa PB Akuatik sedang berupaya agar atlet tetap bisa memperoleh fasilitas latihan yang memadai. “Kita akan melihat kebut