New Policy: Rektor UIN: Wacana penutupan prodi perlu disikapi secara konstruktif
Rektor UIN: Wacana penutupan prodi perlu disikapi secara konstruktif
New Policy – Jakarta – Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Asep Saepudin Jahar, menegaskan bahwa isu tentang penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan dunia industri harus dilihat secara konstruktif, kritis, dan seimbang. Menurutnya, sebagai lembaga pendidikan tinggi berbasis keislaman, UIN Jakarta memiliki peran strategis yang tidak hanya terfokus pada pemenuhan tuntutan pasar kerja, tetapi juga pada pengembangan ilmu pengetahuan, penguatan karakter, serta kontribusi terhadap progres peradaban bangsa. “UIN Jakarta berkomitmen untuk menjaga keselarasan antara kebutuhan lokal dan global,” ujarnya dalam pernyataan resmi di Jakarta, Kamis.
Pandangan Rektor UIN Jakarta tentang Relevansi Prodi
Asep menjelaskan bahwa relevansi suatu program studi tidak bisa diukur hanya dari tingkat keterkaitannya dengan industri, tetapi juga dari kemampuannya dalam menjawab tantangan sosial, budaya, dan keagamaan masyarakat. “Pendidikan tinggi harus mampu menjadi fondasi untuk menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan,” lanjutnya. Dalam rangka meningkatkan kualitas, UIN Jakarta telah memperkenalkan strategi evaluasi menyeluruh yang mencakup penguatan tracer study, pembaruan kurikulum berbasis kompetensi masa depan, serta kerja sama dengan berbagai sektor, termasuk dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat sipil.
“Langkah ini bertujuan agar lulusan UIN Jakarta tidak hanya memiliki kemampuan adaptif terhadap perubahan, tetapi juga tetap berpegang pada prinsip-prinsip keislaman dan kebangsaan,” tutur Asep.
Tantangan dan Solusi dalam Transformasi Prodi
Meski mengakui bahwa penutupan prodi bisa menjadi langkah efektif dalam mengoptimalkan sumber daya, Asep menilai pendekatan yang terlalu sederhana tidak cukup mendorong perubahan jangka panjang. “Transformasi, revitalisasi, serta inovasi akademik lebih efektif dalam menciptakan sistem pendidikan yang berkelanjutan,” katanya. Menurutnya, pemerintah perlu mendorong terbentuknya ekosistem yang mengintegrasikan dunia pendidikan dengan kebutuhan industri, sehingga sektor-sektor ini bisa saling mendukung dalam menciptakan sumber daya manusia berkualitas.
Dalam konteks tersebut, Mendiktisaintek Brian Yuliarto sebelumnya menyatakan bahwa prodi di perguruan tinggi akan dikembangkan berdasarkan relevansi dan kebutuhan, bukan secara langsung ditutup. Ia memberikan contoh dalam bidang teknik elektro, di mana industri kini lebih membutuhkan integrasi teknologi berbasis internet atau internet of things (IoT). “Pemerintah bersama lembaga pendidikan harus menciptakan kebijakan yang mendorong industri untuk berfokus pada produksi barang yang bernilai jangka panjang, bukan hanya profit sekarang,” ujarnya.
“Kebijakan pendidikan juga perlu diintegrasikan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, sehingga mampu menghasilkan tenaga ahli yang siap menghadapi dinamika global,” tambah Brian.
Pentingnya Keberlanjutan Disiplin Ilmu
Rektor UIN Jakarta menekankan bahwa disiplin ilmu dalam bidang keislaman dan humaniora tetap memiliki peran fundamental dalam membentuk etika, pemikiran kritis, serta kohesi sosial. “Keberadaan prodi-prodi ini adalah fondasi yang menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan kekuatan nilai-nilai keagamaan,” kata Asep. Ia menegaskan bahwa tidak semua prodi harus ditutup, karena ada beberapa yang tetap relevan dalam menghadapi perubahan dan kebutuhan masyarakat yang berkembang.
Sebagai contoh, prodi di bidang ekonomi syariah, industri halal, teknologi pendidikan, serta digitalisasi kajian Islam dinilai mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap kemajuan nasional. “UIN Jakarta mendorong model integrasi ilmu yang menggabungkan konsep keislaman dengan bidang-bidang modern, agar lulusan bisa menguasai teknologi sekaligus menjaga prinsip-prinsip agama,” ujarnya. Dengan pendekatan ini, menurut Asep, lembaga pendidikan tinggi dapat menjadi pusat pengembangan kreativitas dan inovasi yang berkelanjutan.
Kebijakan untuk Meningkatkan Daya Saing Indonesia
Asep menambahkan bahwa sinergi antara industri, inovasi, dan pendidikan merupakan kunci dalam meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat internasional. “Kebijakan pendidikan harus terintegrasi dengan kebutuhan pasar, tetapi tetap mempertimbangkan kontribusi disiplin ilmu terhadap pembentukan generasi muda yang kompeten, berakar pada nilai-nilai nasional, dan memiliki kemampuan berpikir kritis,” jelasnya. Ia menyoroti bahwa UIN Jakarta aktif berpartisipasi dalam membangun model ini, termasuk melalui kolaborasi dengan institusi swasta, pemerintah, dan organisasi internasional.
Rektor menekankan bahwa penguatan disiplin ilmu tidak bisa dipisahkan dari penerapan pendekatan terbuka dan partisipatif. “Kita perlu menciptakan lingkungan belajar yang dinamis, di mana mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga berkesempatan mengaplikasikannya dalam konteks nyata,” ujarnya. Hal ini sejalan dengan visi UIN Jakarta sebagai universitas yang menggabungkan kualitas akademik dengan kepedulian sosial dan keagamaan.
Keseimbangan Antara Kebutuhan Industri dan Nilai Budaya
Dalam wawancara terpisah, Asep juga menyampaikan bahwa prodi-prodi yang dulu dianggap relevansi rendah, seperti studi agama atau kebudayaan, tetap penting untuk mempertahankan identitas nasional dan spiritual masyarakat. “Pendidikan tidak boleh hanya mengikuti tren, tetapi juga mengakar pada nilai-nilai budaya dan keagamaan yang menjadi bagian dari identitas bangsa,” katanya. Ia mencontohkan bagaimana program studi keislaman bisa diintegrasikan dengan teknologi digital untuk menghasilkan generasi muda yang mampu mengaplikasikan ajaran Islam dalam konteks modern.
Kebijakan penutupan prodi yang terus berlangsung, menurut Asep, harus diimbangi dengan penguatan disiplin ilmu yang sesuai dengan tantangan masa depan. “Kita perlu mencari solusi yang komprehensif, bukan hanya menutup, tetapi juga mengubah cara mengajarkan dan menerapkan ilmu secara lebih efektif,” ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa UIN Jakarta akan terus berupaya mengembangkan prodi dengan pendekatan inovatif, sehingga tetap relevan dalam menjawab kebutuhan dunia dan bangsa.
Penutupan Prodi sebagai Proses, Bukan Solusi Akhir
Asep menegaskan bahwa penutupan program studi adalah bagian dari proses transformasi, bukan akhir dari pengembangan pendidikan. “Kita perlu melihat ini sebagai kesempatan untuk merevisi struktur pend