Solving Problems: Kemendikdasmen: Tiga geopark Indonesia raih “Green Card” UNESCO
Kemendikdasmen: Tiga Geopark Indonesia Raih “Green Card” UNESCO
Solving Problems – Jakarta, Indonesia – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengumumkan bahwa tiga geopark di Indonesia telah berhasil meraih pengakuan internasional berupa “Green Card” dari Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO). Penghargaan ini diberikan kepada beberapa UNESCO Global Geopark (UGGp) yang telah melewati proses revalidasi. Tiga geopark yang mendapatkan status tersebut adalah Geopark Rinjani, Toba Caldera, dan Ciletuh–Pelabuhanratu. Proses revalidasi ini menunjukkan komitmen Indonesia dalam menjaga keberlanjutan pengelolaan sumber daya alam dan kebudayaan.
Keberhasilan dalam Pengelolaan Berkelanjutan
Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) Kemendikdasmen, Ananto Kusuma Seta, dalam pernyataan tertulis di Jakarta pada Kamis, menyampaikan rasa bangga terhadap pencapaian ini. “Indonesia menjadi negara dengan jumlah UGGp terbanyak ketiga di dunia, dan keberhasilan revalidasi ini membuktikan kemampuan negara dalam mengelola kawasan geopark secara holistik, sekaligus menjaga keberlanjutan pembangunan,” tutur Ananto. Ia menambahkan bahwa pengakuan UNESCO tidak hanya menyoroti nilai geologis kawasan, tetapi juga keberhasilan dalam mengintegrasikan perlindungan lingkungan dengan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat lokal.
“Sebagai negara yang memiliki jumlah UGGp terbesar di dunia, Indonesia telah menunjukkan kompetensi dalam menjaga dan memperkuat kinerja geopark untuk pembangunan berkelanjutan. Ini adalah prestasi yang patut diapresiasi, serta penghargaan untuk semua pihak yang terlibat,” kata Ananto Kusuma Seta.
Geopark UGGp merupakan area geografis yang terpadu dan unik, dengan situs geologis yang memiliki nilai internasional. Menurut Ananto, pengelolaan di kawasan ini berfokus pada tiga aspek utama: perlindungan lingkungan, pendidikan, dan pengembangan ekonomi. “UGGp tidak hanya sebagai objek wisata, tetapi juga sebagai platform untuk memperkuat kesadaran masyarakat tentang pentingnya keberlanjutan,” jelasnya. Ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya memenuhi standar UNESCO, tetapi juga menjadi contoh dalam menggabungkan pariwisata alam dengan pembangunan lokal.
Proses Revalidasi dan Kontribusi Lokal
Ketiga geopark tersebut berhasil melewati evaluasi ketat yang dilakukan UNESCO pada tahun 2025. Proses ini melibatkan penilaian terhadap keberlanjutan pengelolaan, kapasitas masyarakat setempat, dan keterlibatan pemerintah daerah. Ananto menekankan bahwa keberhasilan ini didukung oleh kerja sama yang erat antara pemerintah pusat, daerah, serta komunitas lokal. “Keterlibatan masyarakat menjadi kunci keberhasilan dalam menjaga keberlanjutan kawasan geopark,” tambahnya.
Dalam konteks global, UNESCO mengakui kontribusi Indonesia dalam menjaga keberlanjutan pengelolaan geopark. “Negara ini menjadi contoh dalam menggabungkan keindahan alam dengan upaya pelestarian dan pemberdayaan ekonomi masyarakat,” ujar Kristof Vandenberghe, Kepala Bagian Ilmu Bumi dan Geopark UNESCO. Ia juga menyoroti bahwa pengakuan ini merupakan bentuk penghargaan atas keberhasilan Indonesia dalam mengelola sumber daya alam secara bijak.
“Tantangan utama yang dilaporkan oleh para geopark adalah pendanaan dan keberlanjutan finansial, kapasitas sumber daya manusia, akses terhadap keahlian, serta kolaborasi internasional. Tantangan ini perlu diatasi secara bersama untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang,” kata Kristof Vandenberghe.
Kristof juga menegaskan bahwa UNESCO siap memberikan dukungan lebih lanjut untuk pengembangan UGGp. Dukungan tersebut mencakup pelatihan kapasitas, fasilitas kerja sama internasional, akses ke sumber pendanaan, serta panduan operasional yang lebih efektif. “Kami berharap dengan adanya “Green Card” ini, geopark dapat menjadi pusat penguasaan pengetahuan dan penyelamatan lingkungan,” ujarnya.
Nilai Geologis dan Manfaat Ekonomi
Geopark Rinjani, yang terletak di Nusa Tenggara Barat, memiliki nilai geologis unik karena menyimpan fenomena vulkanik yang sangat menarik. Sementara Geopark Toba Caldera, di Sumatra Utara, dikenal sebagai bentuk lembah kawah terbesar di dunia, dan Ciletuh–Pelabuhanratu di Jawa Barat menggabungkan keindahan pegunungan dan pantai yang menjadi daya tarik wisata. Seluruh kawasan ini tidak hanya menjadi daya tarik bagi wisatawan, tetapi juga menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat sekitar.
Proses revalidasi ini menunjukkan komitmen UNESCO terhadap pengelolaan geopark yang berkelanjutan. Dalam penilaian, UNESCO menilai bahwa pengelolaan di ketiga geopark ini telah memenuhi kriteria yang ketat, seperti partisipasi masyarakat, pendidikan lingkungan, dan pengembangan infrastruktur. Ananto menambahkan bahwa pengakuan ini tidak hanya meningkatkan reputasi Indonesia secara internasional, tetapi juga mendorong pemerintah daerah untuk lebih memperkuat kebijakan pengelolaan geopark.
Keberlanjutan Sebagai Fokus Utama
Kristof Vandenberghe juga menyoroti bahwa keberlanjutan merupakan aspek penting dalam pengelolaan geopark. “Kami memandang geopark sebagai ruang untuk menciptakan keseimbangan antara pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat,” katanya. Ia menjelaskan bahwa UGGp tidak hanya menguntungkan lingkungan, tetapi juga memperkuat ekonomi lokal melalui wisata edukatif dan ekonomi kreatif.
Konsep keberlanjutan ini terlihat jelas dalam berbagai kegiatan yang diadakan di kawasan geopark. Misalnya, di Ciletuh–Pelabuhanratu, pemerintah daerah dan masyarakat lokal bekerja sama dalam mengembangkan wisata alam yang ramah lingkungan. Sementara di Toba Caldera, proyek penelitian dan pendidikan tentang keanekaragaman hayati terus diperluas. “Ini menunjukkan bahwa geopark tidak hanya tentang destinasi wisata, tetapi juga tentang pengembangan ilmu pengetahuan dan budaya,” ujar Kristof.
Dalam pandangan Ananto, pengakuan UNESCO juga memberikan dorongan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di kawasan geopark. “Geopark dapat menjadi ruang pembelajaran yang nyata, di mana masyarakat dapat memahami nilai geologis dan ekologis yang dimilikinya,” katanya. Ia menambahkan bahwa pelatihan bagi petugas dan masyarakat lokal sangat