Rencana Khusus: Mengenal Propaganda, Istilah yang Dikenal Sejak Era Paus Gregorius XV
Mengenal Propaganda, Istilah yang Dikenal Sejak Era Paus Gregorius XV
Di tengah gencarnya pembahasan tentang pengaruh informasi luar negeri, istilah propaganda kembali menjadi perbincangan publik. Pemerintah mengusulkan pembuatan RUU yang memperkuat upaya mengatasi disinformasi dan agitasi asing. Menurut pihak berwenang, kebijakan ini bertujuan melindungi kepentingan bangsa dari manipulasi informasi dari luar. Namun, konsep propaganda sudah ada sejak ratusan tahun lalu.
Akarnya dari Usaha Penyebaran Agama
Nama “propaganda” berasal dari upaya awal untuk menyebar agama Katolik Roma. Pada 6 Januari 1622, Paus Gregorius XV memperkenalkan lembaga resmi bernama
Sacra Congregatio de Propaganda Fide
atau yang dikenal sebagai Perhimpunan Suci untuk Penyebaran Agama. Lembaga ini didirikan sebagai alat untuk memperkuat keyakinan Kristen di berbagai wilayah, terutama ketika banyak kelompok bermigrasi dari gereja Katolik.
Konsep dan Teknik Penggunaan Propaganda
Menurut Moeryanto Ginting Munthe, seorang dosen di Fakultas Komunikasi Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Jakarta, propaganda adalah bentuk persuasi yang bertujuan memengaruhi seseorang agar mengikuti arahan tertentu. Teknik ini menggunakan berbagai cara seperti ajakan, himbauan, atau iming-iming, sehingga mendorong komunikan untuk bertindak secara sukarela.
Propaganda tidak selalu terkait dengan konflik militer. Menurut Ginting, kegiatan ini bisa digunakan dalam situasi apapun untuk menjangkau audiens dan membentuk opini. Keterlibatan aktor dalam propaganda juga dikelompokkan berdasarkan tingkat transparansi: propaganda putih, abu-abu, dan hitam. Setiap kategori memiliki tujuan dan cara penyampaian yang berbeda.
Klasifikasi Propaganda Berdasarkan Warna
Intelijen mengklasifikasikan propaganda ke dalam tiga jenis utama:
1. Propaganda Putih: Sumber informasi terbuka dan jelas, seperti siaran resmi pemerintah atau pernyataan lembaga publik. Pesan disampaikan dengan fakta yang jelas, tetapi ditampilkan dari sudut pandang yang menguntungkan pihak pengirim.
2. Propaganda Abu-abu: Sumber informasi dirahasiakan atau diberi identitas yang ambigu. Publik kesulitan memverifikasi keaslian berita, sehingga bisa terpengaruh tanpa menyadari bahwa informasi tersebut disisipkan oleh pihak tertentu.
3. Propaganda Hitam: Sumber informasi dipalsukan agar terlihat berasal dari lawan atau pihak netral. Tujuannya adalah merusak reputasi, memecah belah, atau mempermalukan lawan dari dalam.
Contoh dalam Konflik Global
Kasus Ambalat antara Indonesia dan Malaysia menunjukkan bagaimana propaganda digunakan untuk memenangkan dukungan publik. Setelah klaim Malaysia atas wilayah tersebut, kedua belah pihak mengambil langkah untuk memengaruhi opini masyarakat. Ginting menjelaskan bahwa kegiatan ini bisa mencakup perang informasi, perang fakta, hingga perang urat syaraf.
Contoh lain adalah serangan AS ke Irak pada 2003. Peristiwa ini bukan hanya perang fisik, tetapi juga melibatkan perang argumentasi dan propaganda. Dalam konteks ini, propaganda digunakan untuk membenarkan alasan invasi dan memperkuat kepercayaan masyarakat internasional terhadap tindakan militer.
Propaganda sebagai Alat Komunikasi
Seiring berkembangnya ilmu komunikasi, propaganda menjadi alat strategis untuk mencapai tujuan tertentu. Silvia Nurhaliza Faridah dalam jurnalnya menyoroti bagaimana konsep ini muncul dalam persaingan ekonomi, seperti upaya China dalam memengaruhi pandangan publik selama konflik dagang dengan Amerika Serikat. Hal ini menunjukkan bahwa propaganda tidak terbatas pada isu politik atau militer, tetapi bisa diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan.