Pakar beberkan kemungkinan penyebab taksi listrik mogok di rel KA

Pakar Beberkan Kemungkinan Penyebab Taksi Listrik Mogok di Rel KA

Pakar beberkan kemungkinan penyebab taksi listrik – Sebuah insiden yang menimpa taksi listrik di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, pada Senin (27/4) menjadi sorotan publik. Kecelakaan ini melibatkan kereta api jarak jauh dan komuter, dengan 16 korban meninggal dunia serta sejumlah orang terluka. Penyebab kejadian tersebut masih menjadi perdebatan, dengan pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, memberikan beberapa analisis teknis yang mungkin berkontribusi pada kegagalan sistem taksi listrik tersebut.

Kemungkinan Gangguan pada Sistem Baterai

Menurut Yannes, salah satu faktor yang bisa memicu kecelakaan adalah masalah pada baterai dengan tegangan rendah. Ia menjelaskan bahwa baterai 12V berperan sebagai sumber energi awal untuk mengaktifkan berbagai komponen, seperti sistem komputer, relay, kontaktor, serta elemen keselamatan lainnya. “Jika tegangan baterai turun hingga di bawah ambang batas, seluruh sistem tersebut bisa mengalami gangguan,” kata dia. Selain itu, ia memperhatikan kemungkinan kesalahan dalam pembacaan arus listrik yang terjadi karena ketidakseimbangan dalam sistem manajemen baterai (BMS), yang bisa menyebabkan keputusan teknis seperti padamnya kendaraan terjadi secara mendadak.

“Secara teknis, berbagai kemungkinan yang bisa terjadi adalah baterai low voltage 12V yang jadi sumber daya awal untuk menghidupkan sistem komputer, relay dan kontaktor, sistem keselamatan, sensor, serta modul kontrol. Saat tegangannya turun terlalu rendah, seluruh sistem yang disebutkan akan terdampak,”

Getaran Sebagai Pemicu Sistem Tidak Stabil

Yannes juga menyoroti peran getaran dalam kejadian tersebut. Menurutnya, sistem sensor dan ADAS pada taksi listrik bisa terganggu akibat getaran panjang saat melintasi rel. “Getaran ini berpotensi melemahkan koneksi komponen, terutama di area yang rentan seperti transmisi mekanis dan sistem penggerak,” jelas Yannes. Jika getaran keras terjadi secara bersamaan, maka risiko komponen terlepas meningkat, yang bisa memicu mesin berhenti atau penurunan efisiensi operasional.

“Getaran panjang saat berkendara pada sistem sensor dan ADAS yang dapat mengendurkan berbagai bagian. Saat ditambahkan dengan getaran keras, berpotensi menyebabkan sambungan atau komponen terlepas, sehingga EV berhenti,”

Sistem Keamanan Otomatis Menjadi Faktor Penyumbang

Kemungkinan lain yang diajukan Yannes adalah aktivasi fitur keamanan cerdas kendaraan secara otomatis. Ia mengatakan, jika sistem mendeteksi anomali, seperti gangguan pada akselerasi atau kemudi, maka steering lock atau immobilizer bisa diaktifkan untuk mengunci seluruh operasi kendaraan. “Fitur ini dirancang untuk meminimalkan risiko, tapi dalam situasi ekstrem, bisa menjadi penyebab kejutan teknis,” imbuh Yannes.

“Ketika sistem mendeteksi anomali, fitur keamanan seperti steering lock atau immobilizer bisa aktif secara otomatis dan mengunci seluruh sistem kendaraan,”

Gangguan pada Inverter dan Konverter DC-DC

Yannes juga memaparkan bahwa kegagalan komponen utama seperti inverter atau konverter DC-DC bisa menjadi penyebab. Ia menjelaskan, jika salah satu komponen ini mengalami kerusakan, maka kendaraan bisa kehilangan daya secara tiba-tiba, menyebabkan penurunan akselerasi atau bahkan menghentikan fungsi mesin sepenuhnya. “Komponen ini sangat kritis karena memastikan aliran listrik yang stabil ke motor penggerak, sehingga gangguan pada bagian ini bisa berujung pada kecelakaan,” tutur dia.

Penyebab Mungkin Bukan Sekadar Teknis

Yannes menegaskan bahwa semua kemungkinan yang diajukan masih bersifat hipotesis dan membutuhkan investigasi lebih lanjut untuk memastikan penyebab akhir. “Masalah ini bisa berasal dari kesalahan instalasi, faktor lingkungan, atau kegagalan komponen internal yang tidak terdeteksi sebelumnya,” katanya. Selain itu, ia mengingatkan bahwa taksi listrik yang terlibat dalam kecelakaan tersebut, yaitu Green SM, sedang dalam tahap pengujian dan mungkin belum sepenuhnya stabil dalam penggunaan di jalur rel kereta api.

Menurut Humas PT Kereta Api Indonesia Daop I Jakarta, kecelakaan terjadi ketika Kereta Api Argo Bromo menabrak KRL Commuter Line yang berhenti di Stasiun Bekasi Timur. Taksi listrik tersebut sebelumnya menemper KRL di area perlintasan dekat Bulak Kapal. “Kendaraan tersebut diduga tidak mengikuti prosedur lalu lintas yang benar, sehingga terlibat dalam tabrakan,” tambah Humas KAI. Insiden ini menimbulkan pertanyaan tentang keandalan kendaraan listrik yang digunakan dalam area yang rawan seperti jalur rel.

Keselamatan dan Langkah Mitigasi yang Diperlukan

Yannes menekankan perlunya penguasaan teknologi oleh pengemudi taksi listrik. “Operator harus memahami cara kerja sistem baterai, komponen transmisi, serta mekanisme keamanan, agar bisa mengantisipasi masalah saat berkendara,” katanya. Ia juga merekomendasikan pemeriksaan terhadap sistem BMS, karena bisa menjadi penyebab kesalahan dalam penggunaan daya. “Selain itu, perlu ada kebijakan tambahan untuk memastikan kendaraan listrik tetap aman saat beroperasi di sekitar jalur rel,” tambah Yannes.

Insiden ini menjadi momentum untuk menguji kinerja teknis taksi listrik, terutama dalam kondisi ekstrem seperti perlintasan rel kereta. Meski taksi listrik dianggap lebih ramah lingkungan, kejadian ini mengingatkan bahwa keandalannya tergantung pada perawatan dan penggunaan yang tepat. Dengan adanya analisis dari pakar, diharapkan langkah-langkah mitigasi bisa dipercepat untuk mencegah insiden serupa terjadi di masa depan.

Kesimpulan dan Tantangan di Depan

Kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur mengungkapkan kompleksitas interaksi antara teknologi listrik dan lingkungan operasionalnya. Yannes menyatakan bahwa meski penyebab pasti belum diketahui, semua kemungkinan teknis yang disebutkan perlu dipertimbangkan sebagai pelajaran untuk pengembangan kendaraan listrik. “Dengan teknologi yang terus berkembang, kita harus bersiap menghadapi berbagai risiko yang mungkin muncul, terutama di situasi yang tidak terduga,” katanya.

“Gangguan komunikasi battery management system berpotensi menyebabkan kesalahan dalam pembacaan arus listrik, estimasi SOC yang salah, dan pengambilan keputusan seperti padam mendadak,”

Insiden ini juga mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap penggunaan kendaraan listrik di area perlintasan rel. Dengan peningkatan jumlah kendaraan listrik di jalan raya, risiko tabrakan dengan kereta api semakin tinggi, terutama jika tidak ada koordinasi yang memadai antara transportasi darat dan rel. Yannes berharap, dari kejadian ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *