WHO tegaskan tak ada pembatasan perjalanan terkait Hantavirus

WHO tegaskan tak ada pembatasan perjalanan terkait Hantavirus

WHO tegaskan tak ada pembatasan perjalanan – Moskow, 12 Mei 2024 – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan penegasan bahwa tidak ada risiko penyebaran luas Hantavirus yang memerlukan pembatasan perjalanan antar negara. Pernyataan ini dikeluarkan oleh Kepala Kantor WHO Eropa, Hans Kluge, melalui platform X, menjelaskan bahwa virus tersebut biasanya menyebar melalui kontak dengan lingkungan yang tercemar, seperti urine atau feses hewan pengerat yang terinfeksi. Kluge menekankan bahwa meski ada kasus yang memicu kekhawatiran, penularan antar manusia tidak terjadi secara mudah.

Kontak Lingkungan sebagai Pendorong Utama Penyebaran

Pernyataan Hans Kluge menyoroti bahwa Hantavirus lebih sering terkait dengan paparan lingkungan ketimbuk transmisi langsung dari orang ke orang. Ia menjelaskan, virus ini terutama menyebar melalui serangga seperti tikus atau gua, yang bisa menginfeksi manusia saat mereka berinteraksi dengan bahan-bahan yang terkontaminasi. “Kasus infeksi umumnya muncul karena kontak dengan lingkungan yang tercemar, termasuk binatang pengerat yang mengandung virus,” katanya. Menurut klareng, wabah Hantavirus memerlukan pengendalian yang berfokus pada kebersihan lingkungan dan pencegahan paparan, bukan pembatasan perjalanan.

“Risiko bagi masyarakat luas tetap rendah. Tidak ada alasan untuk panik atau mengambil langkah-langkah yang ekstrem seperti membatasi perjalanan,” kata Hans Kluge.

Sebelumnya, berita media menyebutkan bahwa tiga korban meninggal dunia ditemukan di kapal MV Hondius yang melakukan perjalanan dari Argentina ke Tanjung Verde. Kasus ini dikaitkan dengan dugaan wabah Hantavirus, yang memicu perhatian internasional terutama karena perjalanan internasional menjadi faktor risiko dalam penyebaran penyakit. Meski demikian, WHO menegaskan bahwa virus ini tidak menyebar secara cepat melalui udara atau kontak langsung antar individu.

Kondisi Pasien dan Karakteristik Virus

Hantavirus adalah keluarga virus yang bisa menyebabkan berbagai penyakit, seperti Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau Hantavirus Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HHFNS). Keduanya memiliki gejala yang berbeda, tetapi umumnya menyebabkan gangguan paru-paru atau ginjal yang serius. Pasien terinfeksi mungkin mengalami demam tinggi, kelelahan, mual, dan sesak napas, dengan tingkat kematian yang bisa mencapai 15-25% tergantung pada jenis virus dan kondisi penderita.

Dalam konteks MV Hondius, wabah yang terjadi di kapal tersebut menunjukkan bagaimana lingkungan tertutup seperti kapal bisa menjadi tempat penyebaran virus jika kondisi kebersihan tidak terjaga. Penyakit ini biasanya menyebar melalui udara yang terkontaminasi partikel dari kotoran hewan pengerat, yang bisa dihirup oleh manusia. Karena itu, pencegahan melalui penutupan area dengan kotoran dan penggunaan masker menjadi penting, terutama di tempat-tempat dengan kerumunan.

WHO: Penularan Antarmanusia Tidak Dominan

Kluge menegaskan bahwa virus Hantavirus tidak seperti virus flu atau coronavirus, yang bisa menyebar dengan cepat melalui udara. Menurutnya, penyebaran Hantavirus memerlukan kondisi tertentu, seperti kotoran hewan pengerat yang menguap ke udara dalam ruang tertutup. “Kasus penularan antar manusia hanya terjadi dalam situasi yang sangat langka, dan tidak menjadi kebiasaan,” tambahnya. Oleh karena itu, WHO menyarankan bahwa pembatasan perjalanan tidak diperlukan kecuali ada bukti kuat penyebaran melalui kontak langsung.

Kepala kantor WHO Eropa juga menyebutkan bahwa keberadaan virus ini sudah dikenal sejak lama, terutama di daerah-daerah dengan populasi hewan pengerat yang tinggi. Di beberapa negara seperti Asia Tenggara, Eropa, dan Amerika Selatan, wabah Hantavirus sering terjadi selama musim hujan atau di daerah terpencil. Namun, upaya pengendalian yang tepat, seperti pembersihan rutin dan penggunaan alat pelindung, bisa meminimalkan risiko tersebut.

Menanggapi laporan tiga kematian di kapal MV Hondius, WHO memberikan penjelasan bahwa wabah seperti ini tidak selalu menunjukkan penyebaran yang masif. Menurut Kluge, kejadian tersebut lebih sering terjadi karena kondisi tertentu di kapal, seperti kelembapan tinggi yang mempercepat proliferasi virus atau kurangnya kebersihan. Ia mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, tetapi tidak perlu memperbesar reaksi berlebihan.

Kebijakan pembatasan perjalanan yang dianggap perlu oleh pemerintah negara tertentu, seperti Argentina atau negara-negara lain yang dilalui kapal tersebut, bisa disesuaikan dengan analisis WHO. Dengan memahami pola penyebaran virus, para pejabat kesehatan dapat mengambil keputusan yang lebih bijak, tanpa mengganggu alur perdagangan atau mobilitas masyarakat. Kluge menyampaikan bahwa Hantavirus memerlukan pendekatan khusus, terutama di lingkungan yang rawan infeksi, tetapi tidak menciptakan kecemasan yang berlebihan.

Kondisi di Tanjung Verde dan Langkah Mitigasi

Pemerintah Tanjung Verde telah mengambil langkah-langkah pencegahan setelah menerima laporan kasus Hantavirus di kapal MV Hondius. Dengan bantuan WHO, mereka melakukan investigasi untuk memastikan bahwa virus tidak menyebar ke daerah pesisir tersebut. Meski begitu, WHO menegaskan bahwa masyarakat di Tanjung Verde tidak perlu menghentikan aktivitas sehari-hari karena risiko tetap rendah.

Kluge menambahkan bahwa penyebaran Hantavirus bisa diatasi dengan cara sederhana, seperti menjaga kebersihan lingkungan, memastikan ventilasi yang baik, dan meminimalkan kontak langsung dengan hewan pengerat. Ia juga meminta para ahli kesehatan setempat untuk terus memantau situasi dan memberikan informasi yang jelas kepada publik. “Kami percaya bahwa dengan edukasi dan pengawasan yang tepat, wabah Hantavirus tidak akan menyebabkan krisis kesehatan global,” ujarnya.

Dengan penegasan ini, WHO berharap masyarakat tidak terlalu khawatir terhadap perjalanan internasional, terutama di tengah pandemi yang masih berlangsung. Mereka menekankan bahwa Hantavirus bukanlah ancaman yang mengharuskan isolasi massal, tetapi lebih baik diatasi melalui kehati-hatian dan peningkatan kesadaran akan risiko lingkungan. Kluge menutup pernyataannya dengan mengingatkan bahwa penyebaran penyakit tergantung pada interaksi manusia dengan lingkungan, bukan hanya faktor geografis atau keberadaan virus itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *