New Policy: AS mulai produksi jet tempur F-35 pesanan Swiss

AS mulai produksi jet tempur F-35 pesanan Swiss

New Policy – Moskow – Amerika Serikat melanjutkan proses produksi pesawat tempur F-35 yang telah dibeli oleh Swiss, meskipun ada upaya penolakan dari sejumlah kelompok aktivis. Pernyataan ini disampaikan oleh Urs Loher, kepala pengadaan pertahanan Swiss, dalam wawancara yang dipublikasikan pada hari Senin. Meskipun kampanye penolakan sedang berlangsung, produksi telah dimulai, dan Loher menegaskan bahwa delapan unit pertama akan dikirimkan tahun depan sesuai jadwal yang sudah ditentukan.

Kampanye Penolakan dari Aktivis

Pada akhir April, harian Tribune de Geneve melaporkan bahwa para aktivis di Swiss meluncurkan petisi menentang pembelian F-35 dari AS. Kampanye ini dianggap sebagai respons terhadap keputusan pemerintah Swiss untuk menghabiskan dana besar dalam pengadaan senjata mutakhir. Kelompok penentang mengklaim bahwa biaya pembelian F-35 lebih tinggi dibandingkan kontrak awal, serta menyebut pesawat tersebut tidak cocok untuk kebutuhan militer negara tersebut. Mereka berargumen bahwa jet tempur F-35 memiliki harga yang tidak sebanding dengan manfaat yang diberikan, terutama mengingat Swiss masih memiliki pasukan jet F/A-18 yang sudah beroperasi.

“Produksi telah dimulai, bertentangan dengan klaim para penentang pembelian … Delapan pesawat pertama dijadwalkan dikirim tahun depan sesuai rencana,” kata Loher kepada Neue Zurcher Zeitung (NZZ).

Kampanye penolakan ini tidak hanya menyoroti aspek finansial, tetapi juga mengenai keputusan politik dan strategis yang diambil oleh Swiss. Sejumlah pihak berpendapat bahwa pengadaan F-35 mungkin memperkuat ketergantungan pada negara lain dalam urusan pertahanan, terutama dalam konteks ketegangan geopolitik yang semakin memanas. Meski demikian, pihak pemerintah Swiss menegaskan bahwa keputusan ini bertujuan untuk modernisasi kekuatan udara nasional, yang dianggap vital dalam situasi darurat atau konflik regional.

Kontrak dan Rencana Pengiriman

Selain itu, pemerintah Swiss telah menandatangani perjanjian dengan AS untuk membeli 30 unit F-35A, dengan rencana pengiriman mencakup periode antara 2027 hingga 2030. Pihak pemerintah menyebutkan bahwa kontrak ini melibatkan pembelian senjata canggih yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan operasional angkatan udara. Namun, aktivis menilai jumlah pesawat yang dibeli tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang, terutama dalam konteks ancaman yang berkembang.

Loher menjelaskan bahwa kebutuhan akan pesawat tempur lebih besar dari yang dianggarkan dalam kontrak awal. Menurutnya, jumlah 55 hingga 70 unit F-35 diperlukan agar Swiss dapat membangun kekuatan udara yang efektif. “Dengan angka ini, kita bisa menjamin kemampuan untuk menghadapi berbagai skenario pertahanan, baik secara regional maupun internasional,” tutur Loher. Ia menambahkan bahwa pengadaan F-35 bukan hanya investasi besar, tetapi juga langkah strategis yang akan mengurangi risiko ketergantungan pada teknologi luar negeri.

Analisis dan Perspektif Internasional

Produksi F-35 yang dimulai oleh AS mencerminkan prioritas kekuatan udara Swiss dalam menghadapi perubahan dinamika keamanan. Pesawat tempur ini, yang merupakan salah satu dari tiga varian F-35 (A, B, dan C), dirancang untuk memiliki kemampuan tempur canggih, termasuk fitur stealth dan sistem pertahanan yang modern. Kehadirannya diharapkan dapat memberikan keunggulan dalam situasi pertempuran udara atau pengintaian.

Aktivis Swiss, sementara itu, menyoroti aspek ekonomi dan lingkungan. Mereka mengkritik peningkatan biaya kontrak yang mencapai ratusan juta dolar, yang dianggap bisa dialokasikan untuk proyek nasional lainnya. Selain itu, ada kekhawatiran terkait dampak lingkungan dari produksi dan penggunaan pesawat tempur tersebut. Meski demikian, Loher menegaskan bahwa investasi dalam F-35 adalah bagian dari perencanaan jangka panjang untuk memastikan keamanan negara.

Langkah Selanjutnya untuk Kekuatan Udara Swiss

Dalam rangka memperkuat kemampuan pertahanan, Swiss juga mengusulkan untuk memperpanjang penggunaan jet F/A-18 yang sudah ada sebagai pengganti sementara. Loher menyatakan bahwa pesawat lama ini masih bisa beroperasi hingga beberapa tahun ke depan, sehingga memberikan waktu bagi pihak pemerintah untuk mengevaluasi kebutuhan jangka panjang. “F/A-18 akan tetap menjadi bagian penting dari armada hingga kita memiliki kekuatan udara yang lengkap,” katanya.

Kampanye penolakan ini juga menarik perhatian pihak internasional. Beberapa negara anggota NATO memantau langkah Swiss dalam mengadopsi teknologi militer dari AS, karena bisa menjadi indikator keputusan kebijakan pertahanan di kawasan Eropa Timur. Meski ada penolakan, produksi F-35 yang dimulai oleh AS menunjukkan komitmen AS dalam memenuhi pesanan negara-negara sekutinya. Loher menegaskan bahwa proyek ini akan terus berjalan, dan Swiss akan memastikan bahwa kebutuhan kekuatan udara terpenuhi secara optimal.

Dalam perspektif jangka panjang, pengadaan F-35 diharapkan bisa meningkatkan kapasitas pertahanan Swiss, terutama dalam kondisi darurat atau ancaman dari negara-negara tetangga. Meski ada kritik, pemerintah Swiss menilai bahwa pesawat ini adalah solusi yang paling efektif untuk menjaga kestabilan keamanan negara. Dengan produksi yang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *