Main Agenda: Menkeu AS Bessent isyaratkan Trump akan “tekan” Xi soal Iran
Menteri Keuangan AS Bessent Isyaratkan Trump Akan Tekan Xi Soal Iran
Main Agenda – Beijing menjadi tempat pertemuan penting antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam upaya menyelesaikan situasi krisis di Timur Tengah. Menurut Menteri Keuangan AS Scott Bessent, Trump berencana meminta Xi untuk lebih menekan Iran agar membuka kembali Selat Hormuz, jalur laut kritis yang menjadi pintu utama bagi eksportasi minyak global. Pernyataan ini diungkapkan dalam wawancara dengan Fox News, menjelaskan bahwa pertemuan tersebut akan dilakukan akhir pekan depan, di mana Trump dan Xi akan membahas perang Iran yang semakin memanas.
Kontak Diplomatik dan Isyarat Tekanan
Saat ini, Trump dan Xi telah melakukan komunikasi melalui panggilan telepon serta surat edaran, sebagaimana dilaporkan RIA Novosti. Bessent mengatakan bahwa keputusan Trump untuk menekan Iran secara diplomatik merupakan bagian dari strategi untuk mengurangi tekanan pada Selat Hormuz, yang saat ini efektif ditutup oleh Iran. “Mari kita lihat mereka meningkatkan upaya diplomasi dan membuat Iran membuka selat tersebut,” kata Bessent dalam wawancara tersebut, menekankan pentingnya kerja sama internasional untuk menstabilkan pelayaran komersial.
“Kami memiliki stabilitas yang baik dalam hubungan ini dan itu berasal dari rasa saling menghormati antara kedua pemimpin,” ucap Bessent.
Bessent juga menyebutkan bahwa Tiongkok adalah mitra penting dalam ekonomi Iran, dengan membeli 90 persen dari eksportasi energi negara tersebut. Meski demikian, ia menyoroti bahwa Beijing secara aktif mendanai kegiatan terorisme yang dianggap merugikan keamanan internasional. Dalam konteks ini, Bessent menyerukan Tiongkok untuk ikut serta dalam operasi AS yang bertujuan memulihkan akses ke Selat Hormuz, yang selama ini dikuasai oleh Iran.
Kontrol AS dan Serangan Iran
Selat Hormuz telah diblokir oleh Iran sejak konflik antara AS dan Israel memicu ketegangan di wilayah tersebut pada akhir Februari lalu. Pernyataan Bessent disampaikan sehari setelah Trump mengumumkan inisiatif baru bernama Project Freedom, yang bertujuan memandu kapal-kapal komersial melewati jalur laut sempit tersebut. Dalam operasi ini, AS berharap mengurangi pengaruh Iran atas pelayaran global dan menegaskan dominasi negara-negara besar dalam keamanan laut.
Menurut laporan militer AS, dua kapal dagang berbendera Amerika Serikat berhasil melewati jalur laut antara Teluk Persia dan Teluk Oman. Namun, Iran membantah klaim tersebut, menyatakan bahwa tidak ada kapal yang berhasil menyeberangi titik sempit itu tanpa izin. Presiden Trump juga menyebutkan bahwa Iran telah menembaki kapal kargo Korea Selatan serta target lain yang tidak terkait langsung dengan operasi maritim AS.
“Mungkin sudah saatnya Korea Selatan datang dan bergabung dalam misi ini,” kata Trump, menambahkan bahwa AS telah menghancurkan tujuh kapal kecil milik Iran.
Krisis Selat Hormuz memicu peningkatan konflik di Timur Tengah, dengan Iran meluncurkan serangan rudal dan drone pertamanya sejak gencatan senjata antara AS dan Iran diberlakukan sekitar sebulan lalu. Aksi ini memperlihatkan ketegangan yang semakin menggelora, terutama setelah Trump mengumumkan operasi maritim untuk melindungi kapal komersial yang terdampar. Bessent menegaskan bahwa AS ingin mempertahankan hubungan stabil dengan Beijing, meskipun masih ada isu perdagangan yang belum terselesaikan.
Perjalanan Trump ke Tiongkok dan Perubahan Sikap
Sebelumnya, Trump menunda kunjungannya ke Tiongkok—yang merupakan kunjungan pertama presiden menjabat dalam lebih dari delapan tahun—dari jadwal 31 Maret hingga 2 April. Pertemuan akhir pekan depan ini dianggap lebih penting sebagai upaya memperkuat hubungan bilateral, terutama setelah sikap Trump terhadap Tiongkok berubah lebih baik sejak pertemuan Oktober 2025 di Korea Selatan. Dalam sebuah acara di Gedung Putih, Trump menyatakan bahwa pertemuan dengan Xi akan menjadi langkah strategis untuk menjaga kerja sama ekonomi dan politik.
Tiongkok, yang merupakan mitra dagang utama AS, juga menjadi pusat perhatian karena pengaruhnya terhadap kebijakan Iran. Bessent menyoroti bahwa Trump mengharapkan Xi untuk bergabung dalam operasi internasional melawan Iran, mengingat pengaruh Tiongkok dalam perekonomian negara tersebut. “Kita perlu memastikan bahwa kedua negara berkolaborasi untuk menstabilkan jalur laut vital ini,” tambahnya, menggambarkan kebutuhan kemitraan antara AS dan Tiongkok dalam menghadapi ancaman keamanan global.
Strategi Diplomasi dan Konteks Global
Proyek Project Freedom mencerminkan upaya AS untuk memperkuat dominasi dalam keamanan laut, terutama di tengah ketegangan dengan Iran. Bessent menambahkan bahwa Trump memandang Tiongkok sebagai mitra penting dalam memastikan stabilitas regional, meskipun hubungan bilateral masih dihiasi dengan persaingan dalam sejumlah isu. “Kedua negara memiliki persaingan yang bersahabat,” ujar Bessent, menegaskan bahwa sikap Trump terhadap Tiongkok sekarang lebih terbuka dan kooperatif.
Kontrol Selat Hormuz oleh Iran telah menjadi isu utama dalam pertemuan Trump dan Xi. Dalam konteks ini, AS berharap bahwa Tiongkok akan mengambil peran aktif dalam operasi internasional untuk membuka akses ke laut tersebut. Bessent menekankan bahwa Tiongkok memiliki kepentingan ekonomi besar di Timur Tengah, sehingga mengajukan tekanan kepada Iran bisa menjadi strategi untuk memastikan kestabilan pasokan energi global.
Sejak Trump mengumumkan operasi Project Freedom, pertempuran di Timur Tengah semakin intens. Serangan rudal dan drone yang diluncurkan oleh Iran menunjukkan bahwa negara tersebut tidak hanya mengejar keuntungan politik, tetapi juga menguji kemampuan AS dalam menjaga keamanan laut. Dalam pernyataan terbarunya, Trump menyebutkan bahwa operasi ini menunjukkan posisi AS sebagai pemimpin dalam kecerdasan buatan dan pertahanan maritim.
Konteks Diplomasi dan Harapan Kemitraan
Bessent juga mengingatkan bahwa Tiongkok memiliki peran penting dalam ekonomi Iran, termasuk mendanai program terorisme yang dianggap merugikan negara-negara lain. Dengan demikian, tekanan dari AS ke Tiongkok bisa memperkuat posisi Beijing dalam menghadapi tekanan internasional. “Kita perlu menegaskan bahwa Tiongkok akan menjadi bagian dari solusi ini,” jelas Bessent, menggambarkan harapan bahwa Beijing akan berpartisipasi dalam upaya stabilisasi Selat Hormuz.
Dalam pertemuan minggu depan, Trump berharap mendiskusikan isu Iran dengan Xi sebagai bagian dari peningkatan kerja sama antara kedua negara. Meskipun masih ada pertanyaan mengenai peran Tiongkok dalam konflik Iran, Bessent percaya bahwa kebijakan Trump akan menekankan koordinasi dengan Beijing. “Kunjungan ini sangat penting untuk menegaskan komitmen AS terhadap kestabilan energi global,” ujarnya, menggambarkan bahwa isu Selat Hormuz adalah fokus utama dalam pertemuan tersebut.
Dengan keputusan Trump untuk menekan Iran melalui Xi, AS mencoba menjaga keseimbangan antara kekuatan militer dan diplomasi. Bessent menyatakan bahwa upaya ini akan memperkuat posisi AS dalam menghadapi ancaman dari Iran, sekaligus memastikan bahwa Tiongkok turut berpartisipasi dalam mengatasi krisis regional. “Ini adalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa kemitraan antara AS dan Tiongkok bisa menjadi jalan keluar dari situasi yang tidak stabil,” pungkas Bessent, memberikan gambaran bahwa pertemuan tersebut akan menjadi titik balik dalam hub