Key Strategy: Chaidir ungkap peran strategis kerja sama internasional kepolisian
Key Strategy: Chaidir Ungkap Peran Strategis Kerja Sama Internasional Kepolisian
Key Strategy – Jakarta, 22 Maret 2023 – Inspektur Jenderal Polisi Chaidir dalam sidang promosi doktoral di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Polri menjelaskan bahwa kerja sama internasional merupakan faktor kunci dalam menangani kejahatan transnasional. Dalam risetnya, Chaidir menekankan bahwa strategi ini tidak hanya memperkuat pertahanan keamanan, tetapi juga menjadi pondasi penting dalam mencegah kejahatan yang melibatkan luar negeri. Riset berjudul “Kerja sama internasional kepolisian Indonesia dan Malaysia dalam Penanggulangan Kejahatan Terorganisir Transnasional: Pendekatan Nodal Governance” menggambarkan dinamika sinergi antara Polri dan Polisi Diraja Malaysia (PDRM) dalam menghadapi ancaman kriminal yang terus berkembang.
Kasus Nyata yang Memicu Penelitian
Chaidir, mantan Atase Polri di Malaysia, mengungkap bahwa kejahatan transnasional seperti perdagangan manusia, narkoba, terorisme, dan kejahatan siber telah menjadi tantangan utama. “Key Strategy dalam kerja sama internasional kepolisian tidak hanya tentang penangkapan, tetapi juga mengenai upaya preventif,” jelasnya. Ia mengambil dua contoh kasus untuk menunjukkan betapa pentingnya kolaborasi antar negara: pembunuhan Kim Jong-nam di Bandara Kuala Lumpur dan tragedi Kamal Khashoggi di Kedutaan Arab Saudi di Turki. Kedua insiden ini menegaskan bahwa kejahatan modern membutuhkan koordinasi global untuk bisa diatasi secara efektif.
“Kerja sama internasional kepolisian adalah bagian dari Key Strategy dalam menyusun sistem keamanan yang lebih tangguh. Tantangan utamanya terletak pada kemampuan menyesuaikan metode penyelidikan dengan perkembangan teknologi yang sangat cepat,”
ujar Chaidir dalam wawancara usai sidang.
Tantangan Struktural dalam Kolaborasi
Key Strategy dalam kerja sama internasional kepolisian juga harus menghadapi hambatan struktural, seperti perbedaan prosedur dan kapasitas kedua negara. “Pilar utama Key Strategy adalah integrasi sistem informasi dan komunikasi antar institusi,” tulisnya dalam disertasinya. Ia menyoroti bahwa saat ini Polri dan PDRM masih memerlukan harmonisasi mekanisme untuk meningkatkan kecepatan respons terhadap kejahatan lintas batas. Chaidir menambahkan bahwa psikologis personel juga memainkan peran penting, karena kepercayaan antar negara menjadi faktor penentu keberhasilan kerja sama.
Contoh nyata tantangan ini adalah penyelundupan senjata dan peredaran gelap narkoba yang melibatkan jaringan di berbagai wilayah. “Key Strategy yang baik harus mencakup koordinasi lintas batas, bukan hanya berbasis kejadian atau kejutan,” kata Chaidir. Ia menekankan bahwa teknologi digital telah mengubah cara pelaku kejahatan beroperasi, sehingga kepolisian harus terus memperluas kemampuan teknis mereka dalam kolaborasi internasional.
Konsep Nodal Governance dan Model IM-INGOF TOC
Chaidir mengusulkan model kerja sama bernama Indonesia-Malaysia Integrated Nodal Governance Framework for Transnational Organized Crime (IM-INGOF TOC) sebagai Key Strategy utama dalam penegakan hukum. Model ini dirancang untuk mengoptimalkan koordinasi antar institusi, termasuk lembaga internasional seperti Interpol. “IM-INGOF TOC menawarkan pendekatan holistik yang tidak hanya mengutamakan penindasan, tetapi juga pencegahan,” jelasnya. Ia menyoroti bahwa konsep ini memungkinkan pihak-pihak terkait untuk bekerja bersama secara lebih terpadu, terutama dalam menangani kejahatan yang melibatkan wilayah berbatasan.
Key Strategy dalam model IM-INGOF TOC mencakup pembentukan satuan tugas (satgas) permanen, pelatihan bersama, serta pengembangan platform teknologi bernama SIKAT IM. “Sistem ini memastikan bahwa setiap tindakan kepolisian memiliki basis data yang konsisten dan cepat,” tegas Chaidir. Menurutnya, penggunaan teknologi akan memperkuat efektivitas Key Strategy, karena memudahkan pengumpulan dan analisis bukti digital yang menjadi bagian integral dari investigasi modern.
Langkah Implementasi untuk Keamanan Regional
Chaidir menekankan bahwa Key Strategy kepolisian internasional harus didukung oleh langkah konkret. Karena Malaysia dan Indonesia memiliki batas darat dan laut yang panjang, kolaborasi antar negara menjadi sangat vital. “Key Strategy terbaik adalah ketika sistem keamanan dipadukan dengan kebijakan nasional yang sinergis,” katanya. Ia juga menyampaikan bahwa Polri harus mendorong transisi dari kerja sama ad-hoc ke arsitektur keamanan yang lebih terstruktur. “Dengan Key Strategy yang tepat, kita bisa mengurangi risiko kejahatan menyebar dan meningkatkan kualitas penyelidikan bersama,” tambah Chaidir.
“Key Strategy tidak bisa dipisahkan dari kebutuhan untuk beradaptasi dengan perubahan global. Kejahatan transnasional memaksa kita untuk berpikir lebih luas dan mengintegrasikan strategi lokal dengan global,”
ujar Chaidir dalam sesi diskusi akhir.