Important Visit: Florikultura RI catat potensi transaksi Rp17 miliar di Korea
Florikultura RI Catat Potensi Transaksi Rp17 Miliar di Korea Selatan
Important Visit – Kota Busan, Selatan Korea, menjadi panggung penting bagi sektor florikultura Indonesia dalam memperkenalkan produknya ke pasar internasional. Kementerian Perdagangan (Kemendag) melalui Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Busan mengungkapkan bahwa hasil pertunjukan tanaman hias dari petani Indonesia mencatatkan potensi transaksi sebesar 1,1 juta dolar AS atau setara Rp17,05 miliar dalam acara International Horticulture Goyang Korea. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, menegaskan peran penting sektor hortikultura dalam ekspor nasional.
Kemitraan Petani dan Teknologi Budidaya
Pameran tersebut diikuti oleh sebelas petani dari Asosiasi Bunga Indonesia (ASBINDO) yang menampilkan berbagai spesies tanaman unik. Selain bunga populer seperti sedap malam, krisan, seruni, dan mawar, para peserta juga memperkenalkan tanaman endemik seperti labisa, keladi (telinga gajah), serta sri rejeki. Dalam pameran, teknik kultur jaringan menjadi salah satu daya tarik utama, karena mampu menghasilkan tanaman dengan kualitas tinggi dan daya tahan lebih baik. Kehadiran teknologi ini menunjukkan komitmen Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah produk hortikultura.
“Capaian ini menunjukkan minat pasar Korea Selatan terhadap keunikan produk florikultura Indonesia. Kami optimis potensi ini bisa dikembangkan lebih lanjut,” kata Kepala ITPC Busan Husodo Kuncoro Yakti dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis.
Paviliun Indonesia di pameran tersebut bukan hanya memperlihatkan keindahan tanaman, tetapi juga menjadi ajang untuk menjajaki peluang kerja sama antarnegara. Husodo menjelaskan bahwa pihaknya terus berupaya memperkuat hubungan perdagangan dengan Korea Selatan, terutama di bidang ekspor bunga dan tanaman hias. Dengan menampilkan varietas yang jarang ditemukan di negara beriklim empat musim, Indonesia berharap dapat memperluas pangsa pasar di sana.
Strategi Pemasaran dan Peningkatan Ekspor
Sebagai bagian dari upaya promosi, Konsulat Jenderal Indonesia di Seoul serta ITPC Busan mengadakan pertemuan bisnis (business matching) antara produsen florikultura Indonesia dan importir Korea Selatan. Kegiatan ini bertujuan untuk mempermudah proses negosiasi serta mengidentifikasi peluang ekspor yang lebih luas. Peserta pertemuan juga melibatkan perusahaan-perusahaan dari Horticulture Business Trip yang diadakan oleh Perkumpulan Profesi Hortikultura Indonesia (PPHI).
Menurut data yang diungkapkan, perdagangan bilateral Indonesia dan Korea Selatan pada Januari-Maret 2026 mencapai 4,27 miliar dolar AS. Dalam periode yang sama, ekspor Indonesia ke Korea Selatan mencapai 2,34 miliar dolar AS, sedangkan impor dari Korea Selatan mencapai 1,93 miliar dolar AS. Hal ini menimbulkan surplus sebesar 411,70 juta dolar AS, yang menjadi indikator bahwa sektor hortikultura memiliki keunggulan kompetitif.
Kebudayaan Kebun Rumah Tangga di Korea Selatan
Kebudayaan berkebun di Korea Selatan belakangan ini semakin berkembang, terutama karena tren gaya hidup berkebun (home-gardening) yang mendapat sambutan positif. Istilah “pet-plant” yang populer di kalangan masyarakat lokal menggambarkan bagaimana tanaman tidak hanya dianggap sebagai hiasan, tetapi juga sebagai pendamping emosional. Fenomena ini membuka peluang bagi Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pasar yang semakin memprioritaskan tanaman eksotis dan unik.
Dalam konteks ini, produk hortikultura Indonesia seperti bunga tropis dan tanaman hias menjadi incaran kolektor di Korea Selatan. Karena negara tersebut memiliki iklim yang berbeda, sebagian besar tanaman yang diproduksi di sana kurang mampu memenuhi kebutuhan akan variasi tumbuhan yang bisa bertahan dalam kondisi beragam. Dengan ketersediaan bunga-bunga dari Indonesia, para penggemar tanaman di Korea Selatan mendapatkan pilihan yang lebih menarik.
Proyeksi Pertumbuhan Ekspor
Peluang transaksi yang mencapai 1,1 juta dolar AS di pameran Goyang Korea adalah awal dari strategi panjang untuk memperkuat ekspor florikultura ke negara tetangga. Husodo menambahkan bahwa sektor ini memiliki potensi tumbuh yang signifikan, terutama jika bisa memenuhi permintaan pasar yang terus berkembang. ITPC Busan berperan aktif dalam memfasilitasi akses ke pasar internasional, termasuk memberikan pelatihan dan informasi tentang preferensi konsumen Korea Selatan.
Di sisi lain, permintaan impor Korea Selatan dari Indonesia pada 2025 tercatat sebesar 1,1 juta dolar AS, yang menggarisbawahi kebutuhan pasar Korea terhadap produk hortikultura. Dengan pertumbuhan minat terhadap tanaman hias, eksportir Indonesia diprediksi akan lebih aktif dalam menjual produk-produknya ke sana. Langkah-langkah strategis seperti promosi melalui pameran internasional dan kerja sama langsung dengan importir menjadi kunci dalam meningkatkan volume transaksi.
Peluang Ekspor dan Persaingan Global
Dengan melihat keberhasilan pameran Goyang Korea, Kemendag dan ITPC Busan berencana memperluas kegiatan serupa di wilayah lain. Diharapkan, komunikasi yang intensif antara produsen dan pembeli akan mempercepat proses ekspor serta meningkatkan kualitas produk yang ditawarkan. Pelaku usaha Indonesia juga diingatkan untuk terus memperbaiki inovasi dan pemasaran agar tetap kompetitif di pasar global.
Pengembangan sektor florikultura tidak hanya memberi kontribusi ekonomi, tetapi juga membantu promosi budaya Indonesia di luar negeri. Dengan produk yang memiliki daya tarik visual dan nilai ekonomi tinggi, sektor ini bisa menjadi jembatan untuk membangun hubungan bilateral yang lebih kuat. Selain itu, keberhasilan ini juga menginspirasi petani lokal untuk berani memasuki pasar internasional dengan produk berkualitas.
Kesimpulan dan Harapan Masa Depan
Pameran International Horticulture Goyang Korea menjadi bukti bahwa sektor florikultura Indonesia mampu menarik perhatian pasar di Korea Selatan. Dengan konsistensi dalam pemasaran dan pengembangan teknologi budidaya, ekspor tanaman hias diperkirakan akan terus meningkat. Husodo Kuncoro Yakti menegaskan bahwa pembangunan sektor ini memerlukan dukungan dari berbagai pihak, termas