Key Issue: Masalah gigi bisa pengaruhi kesehatan jantung anak menurut dokter
Masalah Gigi Bisa Pengaruhi Kesehatan Jantung Anak Menurut Dokter
Key Issue – Di Jakarta, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Yovi Kurniawati mengungkapkan hubungan antara kondisi gigi dengan risiko gangguan kesehatan jantung pada anak. Menurut dr. Yovi Kurniawati, Sp. J.P, Subs. K.Ped.P.J.B (K), lubang pada gigi berpotensi menjadi pintu masuk bakteri ke dalam sistem sirkulasi tubuh. Bakteri ini kemudian bergerak melalui aliran darah, menyebabkan penyebaran infeksi ke organ-organ lain, termasuk jantung.
Kondisi ini bisa berakibat pada pembentukan vegetasi, yaitu kumpulan mikroba, fibrin, dan trombosit yang menempel di bagian katup jantung. Vegetasi ini terjadi akibat bakteri yang terus berkembang hingga tidak bisa dicegah. “Bakteri tersebut biasanya menempel di katup, menyebabkan kerusakan yang serius,” jelas dr. Yovi. Ia menambahkan, keluhan utama pada anak yang mengalami komplikasi ini termasuk demam tinggi, sesak napas, serta kelelahan berlebihan.
“Vegetasi ini sering kali berkembang terus-menerus hingga kuman tersebut tidak dapat diatasi,” ujarnya.
Dokter yang lulusan dari Universitas Indonesia ini menjelaskan bahwa anak-anak dengan kondisi jantung bawaan memerlukan pemeriksaan gigi lebih intensif. “Pemeriksaan ini penting untuk mengidentifikasi risiko infeksi sejak dini,” katanya. Ia menekankan bahwa anak dengan gigi yang tidak terawat, seperti yang bolong atau berlubang, harus diperiksa secara rutin untuk mencegah komplikasi berat.
Menurut dr. Yovi, perawatan vegetasi di jantung biasanya memerlukan kolaborasi antara dokter spesialis jantung dan ahli gigi. “Karena vegetasi berkaitan erat dengan infeksi, pengobatan utamanya adalah antibiotik yang diberikan selama beberapa minggu,” terangnya. Ia menjelaskan bahwa penggunaan antibiotik yang teratur dapat mengurangi risiko penyebaran kuman ke jantung, terutama pada anak yang rentan.
Data dari Kementerian Kesehatan
Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 4,8 juta anak dari 48.000 sekolah telah menjalani pemeriksaan kesehatan dalam periode Januari hingga Mei 2026. Hasil pemeriksaan ini menunjukkan bahwa sekitar 1,1 juta anak mengalami masalah gigi berlubang, 663.000 anak mengalami peningkatan tekanan darah, dan 239.000 anak mengalami penumpukan kotoran di telinga.
“Dari data tersebut, sekitar 1,1 juta anak mengalami masalah gigi berlubang, yang bisa menjadi faktor risiko utama bagi kesehatan jantung,” kata salah satu perwakilan Kementerian Kesehatan.
Angka tersebut menunjukkan bahwa masalah gigi bukan hanya mengganggu estetika atau fungsi makan, tetapi juga berpotensi memengaruhi sistem kardiovaskular. Menurut dr. Yovi, kebersihan gigi yang buruk pada anak bisa memicu infeksi endokarditis, penyakit yang menyerang katup jantung dan sering kali memerlukan penanganan medis yang kompleks. “Infeksi ini bisa menyebabkan katup jantung bocor berat, yang berdampak pada kualitas hidup anak,” tambahnya.
Untuk mencegah risiko tersebut, dr. Yovi menyarankan bahwa pemeriksaan gigi seharusnya dilakukan secara rutin, terutama pada anak dengan riwayat penyakit jantung. “Sekolah dan orang tua perlu berperan aktif dalam memastikan anak-anak menjalani kontrol gigi sebelum gejala infeksi muncul,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa deteksi dini sangat krusial untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.
Sebagai tambahan, data dari Kementerian Kesehatan juga menyoroti bahwa sejumlah besar anak mengalami penumpukan kotoran di telinga, yang bisa menjadi indikator adanya masalah perawatan gigi. “Penumpukan kotoran ini sering diakui sebagai gejala awal infeksi yang menyebar ke sistem sirkulasi,” katanya. dr. Yovi menyoroti bahwa masalah gigi tidak selalu terlihat langsung, tetapi bisa menyebabkan konsekuensi yang berdampak jangka panjang.
Menurut dokter tersebut, pemeriksaan kesehatan yang menyeluruh tidak hanya fokus pada gigi, tetapi juga mencakup berbagai aspek kesehatan anak secara umum. “Kesehatan gigi harus dianggap sebagai bagian dari kesehatan tubuh yang menyeluruh, terutama pada anak-anak,” katanya. Ia menyarankan bahwa rutinitas perawatan gigi sebaiknya dimulai sejak usia dini untuk mencegah masalah yang bisa mengancam kesehatan jantung.
dr. Yovi Kurniawati mengungkapkan bahwa peran dokter gigi sangat penting dalam memitigasi risiko komplikasi kardiovaskular. “Kerja sama antara kedua bidang ini bisa mengurangi angka kejadian infeksi yang berdampak pada jantung,” terangnya. Ia juga menekankan bahwa edukasi orang tua dan guru tentang pentingnya kebersihan gigi perlu ditingkatkan untuk mencegah masalah kesehatan yang lebih luas.