Special Plan: Sinematografer Australia saran asah kemampuan visual lewat fotografi
Sinematografer Australia Beri Saran: Latih Kemampuan Visual dengan Fotografi
Special Plan – Dalam sebuah acara yang diadakan di Jakarta, Andrew Commis, seorang sinematografer asal Australia, menekankan bahwa para pemula yang ingin membangun keterampilan dalam film harus terus-menerus berlatih dan memulai dari fotografi untuk mengasah pemahaman tentang komposisi, warna, dan pencahayaan. Acara tersebut bertajuk “Masterclass: Storytelling through Lens” dan diselenggarakan oleh Kedubes Australia melalui Festival Sinema Australia-Indonesia (FSAI), Jumat lalu. Commis mengatakan bahwa proses pembelajaran dalam sinematografi tidak bisa instan, melainkan membutuhkan kesabaran dan komitmen serupa seperti mempelajari keterampilan lain.
Langkah Praktis untuk Membangun Kemampuan Visual
“Saran saya, jika Anda tertarik atau ingin mengeksplorasi bidang ini, ambillah kamera. Bisa saja ponsel, tidak harus alat profesional yang mahal,” ujarnya dalam wawancara. Commis menekankan bahwa kunci utama dalam memperbaiki kemampuan visual adalah mengulang pengalaman di berbagai lingkungan, sehingga pembuat film dapat mengamati bagaimana warna dan cahaya berinteraksi secara alami. “Anda akan mulai menyadari pola-pola visual yang menarik, serta cara menyampaikan cerita melalui pengaturan gambar,” tambahnya.
“Kemampuan visual tidak terbentuk secara tiba-tiba. Ini adalah hasil dari berulang kali mencoba, salah, dan kemudian belajar dari kesalahan itu sendiri. Seperti mengasah keterampilan musik, Anda harus terus berlatih hingga menemukan gaya yang cocok,” kata Commis.
Menurut Commis, pengalaman berfotografi membantu pengamat mengembangkan sensitivitas terhadap detail yang sering terlewat dalam pembuatan film. Ia menyarankan para pemula untuk menggali pengetahuan tentang struktur komposisi, dinamika cahaya, dan peran warna dalam menyampaikan emosi. “Dengan memotret di tempat yang berbeda, seperti jalan raya, pasar, atau hutan, Anda akan melatih mata untuk memperhatikan seluk-beluk visual yang bisa diaplikasikan dalam sinematografi,” jelasnya.
Proses Belajar yang Berkelanjutan
Commis menegaskan bahwa keberhasilan dalam sinematografi bergantung pada proses belajar yang terus-menerus. Ia mengibaratkan pemahaman visual seperti membaca buku: semakin sering mengulang materi, semakin dalam pemahaman yang terbentuk. “Saya mengajak mereka untuk melihat kembali hasil karya mereka di kondisi yang berbeda, lalu bertanya: ‘Apa yang bisa diperbaiki? Apa yang membuatnya menarik?’,” ujarnya. Proses ini, menurutnya, mendorong kreativitas dan kepercayaan diri dalam menghasilkan karya visual yang berkualitas.
Dalam dunia sinematografi, Commis juga menyoroti pentingnya jaringan profesional. Ia mengatakan bahwa kolaborasi dengan rekan sejawat atau seniman lain bisa memperkaya perspektif dan keterampilan. “Jaringan yang kuat membuat Anda lebih mudah menemukan teman yang bisa membantu mengembangkan ide-ide kreatif,” tukasnya. Selain itu, ia menyarankan pemula untuk terbuka terhadap masukan dan kritik, karena itu menjadi bagian dari perjalanan belajar.
Awal Karier yang Dimulai dari Fotografi
Sebelum menekuni bidang sinematografi, Commis memiliki ketertarikan besar terhadap fotografi sejak usia muda. Pengalaman memotret, mencuci film, hingga mencetak foto membantu ia memahami dasar-dasar visual yang menjadi fondasi dalam memproduksi film. “Fotografi mengajarkan saya cara menangkap perhatian penonton dengan satu gambar, dan sinematografi memperluasnya menjadi cerita yang bergerak,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa keduanya memiliki hubungan erat, karena sinematografi sebenarnya adalah ekstensi dari fotografi dengan elemen gerakan dan waktu.
Commis juga menjelaskan bahwa perjalanan belajar tidak hanya berhenti pada teknik, tetapi juga melibatkan pengamatan terhadap seni pengambilan gambar. Ia mengatakan bahwa seseorang harus bisa merasakan hubungan antara objek, latar, dan cahaya, serta bagaimana kombinasi tersebut menciptakan atmosfer yang sesuai dengan narasi. “Saya sering mengatakan bahwa seorang sinematografer harus seperti seorang pengamat yang peka, karena setiap detil bisa memengaruhi persepsi penonton,” jelasnya.
Profesi dan Penghargaan yang Mengiringi Karier
Sebagai sinematografer ternama, Andrew Commis ACS telah menggarap berbagai proyek yang mendapat perhatian internasional. Film-filmnya pernah ditampilkan di festival utama seperti Cannes, Venice, Berlin, Sundance, dan Toronto, menunjukkan reputasi yang diakui secara global. Selain itu, ia memenangkan penghargaan Australian Film Institute (AFI) untuk kategori Sinematografi Terbaik dalam film dokumenter, yang membuktikan kualitas karyanya dalam genre ini.
Commis juga aktif dalam industri media, dengan peran sebagai produser dan anggota juri untuk beberapa acara bergengsi seperti Academy Awards dan Emmy Awards. Ia menyelesaikan pendidikan di Australian Film Television & Radio School di Sydney, lalu melanjutkan studi dengan gelar master di bidang sinematografi. “Dari sana, saya menemukan cara untuk menggabungkan teknik profesional dengan keunikan kreatif yang sesuai dengan proyek masing-masing,” katanya.
Dalam beberapa tahun terakhir, Commis terus mengasah kemampuannya dengan memproduksi film fitur ke-15. Proyek ini, yang sebagian besar difilmkan di Antartika, memberikan tantangan baru dalam menghadapi kondisi lingkungan ekstrem. “Antartika adalah tempat yang unik karena cahaya dan warna berbeda secara signifikan dari tempat lain. Itu memaksa saya untuk menemukan solusi kreatif dalam komposisi,” tambahnya. Proses ini, menurutnya, adalah bagian dari perjalanan untuk memahami bagaimana sinematografi dapat mengeksplorasi dunia dengan cara yang berbeda.
Kedubes Australia melalui FSAI merasa bangga menyelenggarakan acara seperti “Masterclass: Storytelling through Lens,” karena memberikan wawasan praktis bagi para calon sinematografer. Commis, dengan pengalaman dan kredensial yang luas, menjadi contoh bahwa pemahaman visual bisa dibangun melalui proses yang terstruktur dan konsisten. “Jadi, jika Anda ingin menjadi sinematografer yang baik, mulailah dari fotografi. Ini adalah langkah awal yang paling efektif,” tutupnya.