Satgas PRR percepat revitalisasi sekolah terdampak bencana di Sumatera

Satgas PRR percepat revitalisasi sekolah terdampak bencana di Sumatera

Satgas PRR percepat revitalisasi sekolah terdampak –

Jakarta — Upaya memulihkan infrastruktur pendidikan yang terkena dampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tengah diakselerasi oleh Tim Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) pascabencana Sumatera. Langkah ini bertujuan memastikan proses belajar mengajar dapat berjalan dengan aman dan efisien di wilayah yang terkena musibah. Juru Bicara Satgas PRR, Amran, menyampaikan bahwa pendidikan ditempatkan sebagai prioritas utama dalam pemulihan, karena berkaitan langsung dengan keberlanjutan pendidikan bagi siswa di daerah terparah. “Pembangunan dan perbaikan fasilitas sekolah terdampak masih terus berjalan untuk menjamin kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung,” jelas Amran dalam siaran pers di Jakarta, Sabtu.

Prioritas Pendidikan dalam Proses Pemulihan

Menurut Amran, kerusakan yang dialami sekolah akibat bencana hidrometeorologi cukup signifikan. Hal ini memaksa pihak terkait mengambil langkah cepat untuk memulihkan kondisi. “Karena kerusakan yang terjadi di lapangan sangat luas, maka kita mempercepat proses rehabilitasi agar kebutuhan masyarakat terpenuhi secepat mungkin,” ujarnya. Dalam penerapan program ini, Satgas PRR menerapkan pendekatan bertahap, mengingat keadaan kerusakan di setiap lokasi berbeda. Untuk sekolah yang rusak berat, kebijakan relokasi sementara atau pembangunan dari awal menjadi solusi yang dipilih.

“Fasilitas pendidikan terdampak memang cukup besar. Karena itu proses pembangunan dan rehabilitasi terus didorong agar penyelesaiannya bisa berlangsung cepat,” kata Amran.

Percepatan revitalisasi juga terkait dengan kemampuan lembaga pendidikan untuk beradaptasi dengan situasi darurat. Dalam beberapa kasus, sekolah sementara dibuka di lokasi lain, seperti lapangan terbuka atau tenda khusus, untuk memastikan siswa tetap dapat mengikuti pembelajaran tanpa terganggu. “Meski tidak bisa langsung kembali ke lokasi asal, tetapi kami memastikan bahwa semua anak didik tetap aktif dalam proses belajar,” tambahnya.

Kerja Sama dengan TNI Angkatan Darat

Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci sukses dalam percepatan pemulihan sekolah. Salah satu aliansi yang strategis adalah kerja sama dengan TNI Angkatan Darat (AD), yang berperan aktif dalam membangun dan merehabilitasi fasilitas pendidikan. Amran menjelaskan bahwa pendekatan ini memungkinkan alokasi sumber daya yang lebih efisien, baik dalam bantuan material maupun koordinasi lapangan. “Kami bersinergi dengan TNI AD untuk mempercepat pengerjaan, terutama di wilayah dengan tingkat kerusakan tinggi,” katanya.

Satgas PRR juga menekankan pentingnya partisipasi masyarakat lokal dalam proses revitalisasi. Sistem swakelola diterapkan pada sejumlah sekolah, di mana masyarakat dan pihak lain secara aktif terlibat dalam perbaikan. Pemulihan ini tidak hanya berfokus pada konstruksi fisik, tetapi juga pada pemulihan mental dan emosional para pelajar. “Mereka diberikan kesempatan untuk tetap berpartisipasi, sehingga rasa percaya dan keterlibatan tercipta,” tambah Amran.

Statistik Pemulihan Sekolah hingga Mei 2026

Berdasarkan data yang diperoleh Satgas PRR per 8 Mei 2026, total fasilitas pendidikan yang terdampak bencana mencapai 4.922 unit di tiga provinsi tersebut. Meski mengalami kerusakan, semua sekolah tetap beroperasi, baik melalui fasilitas asli, kelas darurat, tenda, maupun lokasi belajar sementara. “Kita memastikan tidak ada siswa yang terlantar dalam proses belajar, bahkan 100 persen aktivitas pendidikan tetap terjaga,” ujar Amran.

Dalam upaya ini, 3.002 sekolah telah menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) revitalisasi dengan total anggaran mencapai Rp2,86 triliun. Dari jumlah tersebut, 2.792 sekolah telah menerima dana tahap pertama sebesar Rp1,9 triliun. “Anggaran ini memungkinkan proses rehabilitasi berjalan lancar, termasuk pembangunan ulang untuk sekolah yang rusak parah,” katanya.

Pemulihan di Aceh menempati posisi teratas dengan 2.012 sekolah yang direvitalisasi. Anggaran untuk wilayah tersebut mencapai Rp1,98 triliun, yang digunakan untuk perbaikan infrastruktur, termasuk kelas darurat dan tenda. Di Sumatera Utara, sebanyak 658 sekolah terlibat dalam program ini dengan dana Rp600,9 miliar, sementara di Sumatera Barat, jumlahnya 332 sekolah dengan dana sebesar Rp281,7 miliar.

Peran Satgas PRR dalam Menjaga Ketersediaan Pendidikan

Amran menegaskan bahwa Satgas PRR tetap berkomitmen untuk mempercepat pemulihan. “Kami memastikan bahwa semua siswa di wilayah terdampak dapat kembali belajar secara optimal, bahkan sebelum pemulihan lengkap selesai,” katanya. Upaya ini juga melibatkan pengawasan terhadap progres pengerjaan, agar tidak ada hambatan dalam distribusi bantuan atau penggunaan dana.

Dalam konteks ini, bantuan dari pemerintah pusat dan daerah menjadi penting untuk menjamin keberlanjutan program. “Kerja sama antarlembaga, termasuk TNI AD, mempercepat penyelenggaraan pembelajaran di lingkungan yang aman,” ujar Amran. Selain itu, ada juga inisiatif untuk memperkuat kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan dalam pemulihan.

Proses revitalisasi tidak hanya memperbaiki kondisi fisik bangunan, tetapi juga melibatkan pemulihan lingkungan sekitar. Misalnya, dalam pembangunan sekolah sementara, Satgas PRR memastikan bahwa fasilitas pendukung seperti akses air bersih, toilet, dan tempat parkir juga diperbaiki. “Kami tidak hanya fokus pada ruangan belajar, tetapi juga pada lingkungan yang nyaman bagi anak-anak,” tambahnya.

Kerja sama dengan TNI AD khususnya di wilayah yang sulit dijangkau

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *