Komnas HAM Papua sesali terjadinya kericuhan di Stadion Lukas Enembe

Komnas HAM Papua Sesali Terjadinya Kericuhan di Stadion Lukas Enembe

Komnas HAM Papua sesali terjadinya kericuhan – Di Sentani, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Indonesia yang berada di Papua memberikan pernyataan resmi mengenai kekacauan yang terjadi setelah pertandingan play off promosi Liga 2 Championship antara Persipura Jayapura melawan Adhiyaksa FC di Stadion Lukas Enembe, Kabupaten Jayapura, pada Jumat (8/5). Kericuhan ini menimbulkan dampak signifikan, dan Komnas HAM menganggapnya sebagai peristiwa yang perlu dianalisis lebih lanjut.

Reaksi Komnas HAM Terhadap Kekacauan

Kepala Perwakilan Komnas HAM Papua, Frits Ramandey, mengungkapkan bahwa kejadian tersebut memicu kekecewaan dan penyesalan dari lembaga tersebut. “Kami menyayangkan terjadinya kericuhan dalam pertandingan sepak bola, sehingga hari ini kami datang ke Stadion Lukas Enembe untuk memantau dampak dari kejadian ini,” katanya. Menurut Ramandey, kejadian tersebut tidak hanya mengganggu suasana pertandingan, tetapi juga memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap olahraga.

“Yang pertama kami menyesali tragedi ini, adanya kericuhan di sepak bola sehingga kami ke Stadion Lukas Enembe hari ini untuk melakukan pemantauan terhadap efek dari kejadian ini,” kata Ramandey di Sentani, Sabtu.

Peran Polisi dalam Mengendalikan Kekacauan

Dalam pernyataannya, Ramandey juga mengapresiasi upaya aparat kepolisian yang berhasil mengendalikan massa yang berdemo anarkis setelah pertandingan. “Meski ada tabung gas air mata yang digunakan, dari berbagai video yang beredar, tindakan itu memang diperlukan untuk memastikan situasi tetap terkendali,” jelasnya. Menurutnya, polisi mengambil langkah tepat untuk menenangkan khalayak yang emosional akibat hasil pertandingan.

“Memang kami menemukan tabung gas air mata, namun ketika kami melihat dari berbagai video yang beredar, tindakan itu memang harus diambil oleh polisi,” ujarnya.

Kerusakan Fasilitas dan Dampak Kericuhan

Ramandey menyatakan bahwa kekacauan di Stadion Lukas Enembe tidak hanya menyebabkan kerusakan pada fasilitas stadion, tetapi juga mengakibatkan kehilangan kendaraan masyarakat. “Kami mencatat adanya sebanyak 30 kendaraan yang terbakar, terdiri dari 20 mobil dan 10 sepeda motor, serta beberapa fasilitas yang rusak,” terangnya. Kejadian ini menurutnya menunjukkan bahwa tanggung jawab tidak hanya ada pada penonton, tetapi juga berada di pihak penyelenggara dan operator liga.

“Ini yang akan kami dalami karena kami menemukan banyak kendaraan baik roda dua maupun roda empat yang terbakar di Stadion Lukas Enembe,” katanya lagi.

Analisis Faktor Pemicu Kericuhan

Dalam menjelaskan lebih lanjut, Ramandey menekankan bahwa kekacauan tidak bisa terjadi sendirian, dan perlu ada investigasi menyeluruh untuk mengetahui penyebab utamanya. “Kami juga akan mencari apa yang menjadi faktor pemicu terjadinya kericuhan, termasuk meminta penggunaan video assistant referee (VAR) sebagai salah satu aspek yang perlu diperiksa,” tambahnya. Dengan adanya VAR, diharapkan bisa mencegah kekacauan akibat ketidakpuasan atas keputusan wasit.

Implikasi Kericuhan pada Olahraga

Komnas HAM Papua mengingatkan bahwa kejadian ini berdampak negatif pada olahraga sebagai sarana sosial dan budaya. Kericuhan setelah pertandingan tidak hanya mengganggu sportivitas, tetapi juga mengubah suasana menjadi lebih kacau. “Kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang, karena olahraga seharusnya menjadi ruang untuk menyalurkan emosi secara sehat,” kata Ramandey. Ia menambahkan bahwa penyelidikan akan melibatkan berbagai pihak, termasuk komunitas penonton, panitia penyelenggara, dan operator liga.

Penyesalan dan Harapan untuk Perbaikan

Menurut Ramandey, kekacauan di Stadion Lukas Enembe menjadi pengingat bahwa keamanan dan ketertiban di sektor olahraga perlu ditingkatkan. “Kami menyadari bahwa kejadian ini bisa dihindari jika ada persiapan yang lebih matang, termasuk pengawasan dari pihak yang bertanggung jawab,” jelasnya. Harapan Komnas HAM adalah agar kejadian serupa tidak mengganggu kemajuan olahraga di Papua, khususnya dalam konteks kompetisi tingkat nasional.

Konteks Pertandingan dan Reaksi Massa

Pertandingan antara Persipura Jayapura dan Adhiyaksa FC merupakan laga penting dalam rangka promosi ke level yang lebih tinggi. Karena hasil pertandingan dianggap tidak adil oleh sebagian penonton, terutama setelah penggunaan VAR, kekacauan muncul. Massa yang kecewa melakukan aksi merusak fasilitas stadion dan membakar kendaraan, termasuk sepeda motor dan mobil. Aksi ini menunjukkan ketidakpuasan terhadap keputusan pengawas pertandingan.

“Kami juga akan mencari apa yang menjadi faktor pemicu terjadinya kericuhan termasuk meminta penggunaan video assistant referee (VAR) selain kekalahan dari tim Persipura Jayapura,” ujarnya.

Kesiapan dan Langkah Selanjutnya

Komnas HAM Papua menyatakan bahwa mereka akan terus melakukan investigasi hingga mendapatkan gambaran lengkap mengenai penyebab kericuhan. “Kami menilai bahwa penonton dan panitia penyelenggara harus saling bertanggung jawab, terutama dalam menjaga suasana pertandingan tetap tenang,” tambah Ramandey. Ia juga mengimbau kepada seluruh pihak untuk lebih waspada dalam menyikapi hasil pertandingan, serta menjaga keharmonisan antar penonton.

Dalam upaya memperbaiki situasi, Komnas HAM akan bekerja sama dengan pihak terkait untuk menyiapkan rekomendasi. “Kami ingin memastikan bahwa kejadian seperti ini tidak hanya menjadi tragedi, tetapi juga menjadi pelajaran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *