Kemenkes: Belum ada bukti penularan hantavirus ke manusia di RI

Kemenkes: Belum ada bukti penularan hantavirus ke manusia di RI

Kemenkes – Dalam wawancara di Jakarta, Senin (2 Mei 2026), Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni menjelaskan bahwa hantavirus belum diketahui menyebar ke manusia di Indonesia sejak ditemukan di wilayah negara ini pada tahun 1991. Ia menegaskan bahwa kasus yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius termasuk tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yang berbeda dengan jenis hantavirus yang dikenal di Tanah Air.

Kasus Hantavirus di Luar Negeri dan Perbedaannya dengan Indonesia

HPS, menurut Andi Saguni, umumnya ditemukan di Amerika Selatan, sedangkan di Indonesia belum ada catatan penularan virus tersebut pada manusia maupun tikus. Sementara itu, kasus hantavirus yang terjadi di Tanah Air tergolong tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yang telah dikenal sejak 1991. Strain yang dominan di wilayah Indonesia adalah Seoul virus, yang berbeda dengan strain Andes virus yang menyebabkan HPS di kapal MV Hondius.

“HPS lebih sering ditemukan di daerah seperti Amerika Selatan, sementara di Indonesia belum pernah dilaporkan kasus pada manusia maupun tikus. Tipe HFRS yang ada di sini, di sisi lain, sudah dikenal sejak 1991 dan terbukti menyebar secara alami melalui interaksi manusia dengan tikus atau celurut,” kata Andi Saguni.

Kemenkes mengatakan bahwa meskipun strain Andes virus dapat menular antar-manusia melalui kontak erat dan lama, hal ini belum terbukti terjadi di Indonesia. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa HFRS, yang lebih umum di Asia, Tengah, dan Timur Tengah, tidak memiliki bukti penularan langsung dari manusia ke manusia. Sebaliknya, virus ini menyebar melalui kontak dengan cairan tubuh tikus atau celurut, seperti urin, feses, dan debu yang terkontaminasi.

Penelitian dan Penyebaran Hantavirus di Indonesia

Menurut data yang dirilis Kemenkes, hingga 2026, terdapat 23 kasus HFRS yang tercatat di Indonesia, tanpa temuan HPS. Penelitian Rikhus Vektora juga menemukan keberadaan virus hantavirus di 29 provinsi, menunjukkan bahwa tikus dan celurut menjadi vektor utama penyebarannya. Namun, belum ada bukti bahwa virus ini menyebar ke manusia melalui jalur antar-manusia di negara ini.

Andi Saguni menambahkan bahwa faktor risiko utama infeksi hantavirus mencakup interaksi langsung dengan hewan pembawa, seperti tikus atau celurut, serta lingkungan yang rentan terhadap penyebaran cairan kontaminan. Kelompok yang paling rentan meliputi petugas sampah, petani, pekerja bangunan, dan orang yang tinggal di daerah rawan banjir. Aktivitas luar ruang seperti berkemah atau berjalan di lingkungan terbuka juga bisa meningkatkan risiko tertular.

Sebagai informasi tambahan, virus hantavirus dapat menyebar melalui pernapasan, kontak kulit, atau makanan yang terkontaminasi. Hal ini memperjelas bahwa penularan dari manusia ke manusia masih merupakan masalah yang belum terbukti terjadi di Indonesia. Meski demikian, Kemenkes tetap memantau kejadian ini secara ketat, terutama setelah adanya laporan dari negara lain yang mengindikasikan adanya penyebaran hantavirus di luar wilayah Indonesia.

Klaster Penularan di Kapal Pesiar MV Hondius

Kemenkes mengungkapkan bahwa klaster SARI di kapal pesiar MV Hondius berbendera Belanda menunjukkan adanya kejadian hantavirus yang berpotensi menyebar antar-manusia. Otoritas kesehatan Inggris melaporkan bahwa pada 2 Mei 2026, terjadi klaster kasus SARI yang disebabkan oleh strain Andes virus. Hingga 10 Mei 2026, total delapan pasien tercatat, termasuk enam kasus konfirmasi dan dua pasien yang diduga mungkin terpapar. Dari jumlah tersebut, tiga orang meninggal, sehingga angka kematian (CFR) mencapai 37,5 persen.

Kapal MV Hondius membawa 149 penumpang dari 23 negara berbeda, namun tidak ada warga negara Indonesia yang terlibat dalam klaster ini. Kemenkes menyebutkan bahwa setelah mengetahui adanya kasus, mereka menerima notifikasi dari International Health Regulation National Focal Point Inggris terkait satu kontak erat yang berdomisili di Jakarta Pusat. Individu ini sempat berada dalam satu penerbangan dengan pasien kedua yang meninggal.

Dalam pemeriksaan, hasil tes PCR pada warga negara asing (WNA) laki-laki berinisial KE, yang tinggal di Jakarta Pusat, menunjukkan bahwa ia tidak terinfeksi virus hantavirus. Meskipun demikian, Kemenkes tetap memantau keberadaannya secara berkala. Petugas di Puskesmas Kecamatan Senen juga terlibat dalam pemantauan pasien yang pernah berinteraksi dengan korban infeksi.

Pemantauan dan Penanganan Kasus

Andi Saguni menegaskan bahwa meskipun tidak ada bukti penularan hantavirus antar-manusia di Indonesia, Kemenkes tetap melakukan tindakan pencegahan. Pasien yang terpapar virus saat ini berada di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, dan tim medis terus memantau kondisi mereka. Ia juga menyoroti pentingnya penelitian lebih lanjut untuk memastikan tidak ada kejadian penularan baru yang mungkin terlewat.

Pemerintah mengungkapkan bahwa hantavirus, meskipun belum menyebar ke manusia di Indonesia, tetap menjadi ancaman kesehatan yang perlu diwaspadai. Pemantauan aktif di tempat-tempat rawan, seperti kawasan banjir atau lingkungan dengan kepadatan tikus, menjadi langkah penting dalam upaya mencegah penyebaran. Selain itu, Kemenkes juga mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan kebersihan lingkungan dan menghindari kontak langsung dengan tikus atau celurut, terutama di area yang ser

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *