New Policy: Kemendukbangga: “Tamasya” bukti keberpihakan pada pekerja perempuan

Kemendukbangga: Tamasya Menjadi Bukti Kebijakan yang Memberdayakan Pekerja Wanita

New Policy –

Jakarta – Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) melalui Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengungkapkan bahwa Program Tamasya adalah salah satu contoh keberpihakan terhadap perempuan yang bekerja. Dalam konferensi pers yang diadakan di Jakarta pada Selasa, Direktur Bina Ketahanan Keluarga Balita dan Anak dari Kemendukbangga/BKKBN, Fabiola Tazrina Tazir, menekankan bahwa keberadaan program ini selaras dengan arahan Presiden Prabowo Subianto pada peringatan Hari Buruh Internasional. Saat itu, para buruh menyampaikan aspirasi terkait kebutuhan layanan daycare. “Program ini sudah berjalan sejak tahun lalu berdasarkan inisiatif dari menteri, bertujuan untuk memperkuat dukungan terhadap perempuan yang bekerja,” jelas Fabiola. Ia menambahkan bahwa kemajuan demografi Indonesia memerlukan peran aktif perempuan dalam partisipasi kegiatan ekonomi.

Daycare Sebagai Solusi dalam Masa Bonus Demografi

Fabiola mengingatkan bahwa Indonesia saat ini berada di tengah masa bonus demografi, di mana populasi usia produktif meningkat. Untuk memanfaatkan peluang ini secara optimal, diperlukan peningkatan partisipasi perempuan dalam angkatan kerja. “Daycare menjadi solusi penting agar perempuan tetap dapat berkontribusi secara profesional tanpa mengorbankan kualitas pengasuhan anak,” tuturnya. Menurut Fabiola, pengasuhan anak tidak cukup hanya melalui penitipan di tempat daycare biasa. Ia menjelaskan bahwa Tamasya memiliki pendekatan yang lebih menyeluruh, karena tidak hanya menyediakan layanan pengasuhan, tetapi juga memberikan edukasi bagi orang tua tentang cara merawat anak secara efektif.

Pengalaman Pribadi sebagai Bukti Manfaat Tamasya

“Saya pernah menjadi pengguna layanan daycare dan merasakan manfaatnya, terutama bagi keluarga muda yang belum memiliki sistem pendukung. Empat layanan Tamasya menjadi nilai tambah dibandingkan daycare biasa,” kata Fabiola.

Kebijakan ini bertujuan untuk menjawab tantangan yang dihadapi oleh pekerja wanita, terutama dalam mengimbangi tugas pekerjaan dan tanggung jawab keluarga. Selain itu, Tamasya juga menjadi salah satu indikator penting dalam PROPER (Program Penilaian Kinerja Perusahaan), yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) sebagai inisiatif advokasi dari Kemendukbangga/BKKBN. “Kebijakan ini tetap berlanjut hingga 2026, dan beberapa kementerian lain mulai mempertimbangkan untuk mengintegrasikan Tamasya ke dalam evaluasi program masing-masing, meski belum ada regulasi resmi yang mengatur,” lanjutnya.

Dalam rangkaian evaluasi oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag), Tamasya dijadikan sebagai salah satu parameter penilaian pasar. Nopian Andusti, Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) Kemendukbangga/BKKBN, menjelaskan bahwa data terbaru dari bulan Maret 2026 menunjukkan sebanyak 12.832 Tamasya/TPA (Tempat Pengasuhan Anak) telah beroperasi. Rata-rata, setiap unit layanan ini ditemani oleh 3-4 pengasuh anak. Jumlah anak yang terdaftar dalam program tersebut mencapai 59.286 pada periode yang sama.

Harapan Meningkatkan Partisipasi Pekerja Wanita

Nopian memaparkan bahwa Tamasya dirancang untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam dunia kerja. “Dengan adanya layanan ini, perempuan tidak lagi terbatas pada peran tradisional sebagai pengasuh rumah tangga, tetapi bisa tetap produktif sambil menjaga kualitas perawatan anak,” ujarnya. Ia juga menekankan bahwa program ini tidak hanya fokus pada layanan fisik, tetapi juga menyediakan pendidikan bagi orang tua agar mereka mampu mengembangkan keterampilan dalam merawat anak.

Dalam konteks kebijakan nasional, Tamasya dianggap sebagai bagian dari upaya mendorong kesetaraan gender. Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga berupaya menumbuhkan sistem pengasuhan yang lebih inklusif, sehingga pekerja perempuan tidak lagi menghadapi dilema antara karier dan tanggung jawab keluarga. “Program ini juga memberikan peluang bagi pengasuh anak untuk berkembang sebagai profesi yang dihargai,” tambah Nopian.

Dalam jangka panjang, keberhasilan Tamasya diharapkan bisa mengurangi beban pekerja perempuan, terutama yang memiliki tanggung jawab berdual sebagai ibu dan ibu kandung. “Dengan layanan yang komprehensif, mereka bisa menjalani kehidupan yang lebih seimbang dan mengoptimalkan potensi diri,” jelasnya. Selain itu, program ini juga dianggap sebagai langkah strategis dalam mewujudkan kebijakan keluarga yang berkelanjutan, yang mencakup pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

Fabiola mengakui bahwa keberadaan Tamasya masih dalam tahap pengembangan. “Meski sudah ada penggunaan oleh sejumlah keluarga, kami terus meningkatkan kualitas layanan agar mampu mencakup lebih banyak pihak,” katanya. Ia juga menyebutkan bahwa program ini diharapkan bisa menjadi contoh bagi kementerian lain untuk mengadopsi pendekatan serupa dalam memperkuat keberpihakan pada pekerja wanita.

Dalam konteks ekonomi, Tamasya dianggap sebagai investasi jangka panjang yang membantu meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Dengan mengurangi hambatan dalam peran ibu, program ini juga berkontribusi pada peningkatan ekonomi keluarga secara keseluruhan. “Ini bukan hanya tentang memudahkan pekerjaan, tetapi juga tentang mendorong pengembangan kemampuan orang tua sebagai pengasuh yang terlatih,” tambah Fabiola.

Kolaborasi untuk Membentuk Sistem Pengasuhan yang Lebih Baik

Kemendukbangga/BKKBN terus berupaya memperluas jangkauan Tamasya dengan kolaborasi antarlembaga. “Kerja sama dengan Kementerian Perdagangan, KLH, dan instansi lain menjadi penting untuk memastikan program ini bisa berjalan secara optimal,” ujarnya. Ia juga menyoroti pentingnya pendidikan keluarga sebagai bagian dari program Tamasya, yang dirancang untuk menciptakan lingkungan pengasuhan yang lebih baik.

Kebijakan ini menjadi salah satu upaya menghadapi tantangan global, seperti masalah keseimbangan antara kerja dan kehidupan keluarga. Dengan memberikan akses ke layanan pengasuhan yang terstruktur, Tamasya diharapkan bisa membantu perempuan bekerja mengurangi tekanan psikologis dan fisik. “Kami percaya bahwa Tamasya adalah jawaban atas kebutuhan masyarakat modern, yang menginginkan kualitas hidup yang lebih baik untuk seluruh anggota keluarga,” tutup Fabiola.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *