New Policy: Menpar tinjau kesiapan revalidasi UNESCO di Geopark Raja Ampat

Menpar Tinjau Kesiapan Revalidasi UNESCO di Geopark Raja Ampat

New Policy – Di Jakarta, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana melakukan inspeksi terhadap kebersiapan proses revalidasi status UNESCO Global Geopark (UGGp) Raja Ampat, termasuk peningkatan sistem pengelolaan destinasi wisata kelas dunia. Dalam pernyataannya yang dikonfirmasi Selasa, ia menyatakan bahwa mempertahankan status geopark internasional memerlukan tata kelola yang solid, upaya konservasi yang nyata, serta peran aktif masyarakat setempat.

Revalidasi sebagai Komitmen Jangka Panjang

Kunjungan Menpar ke lokasi Geosite Piaynemo, Selasa (12/5/2026), menjadi momen penting untuk mengevaluasi langkah-langkah pengelolaan kawasan yang akan diujicobakan oleh tim asesor UNESCO pada bulan Agustus 2026. Proses ini dianggap sebagai penilaian menyeluruh guna menentukan apakah Raja Ampat masih memenuhi kriteria keberlanjutan sebagai geopark global. Menurut Widiyanti, revalidasi bukan sekadar pengakuan internasional, tetapi juga penghargaan terhadap upaya konstan dalam menjaga kelestarian lingkungan dan keseimbangan ekosistem.

“Status UNESCO Global Geopark bukan hanya pengakuan, tetapi juga komitmen untuk memastikan keberlanjutan kawasan melalui perlindungan lingkungan, manajemen yang matang, serta kolaborasi masyarakat lokal,” ujarnya.

Kesiapan Geosite Piaynemo dan Pengelolaan Lahan Wisata

Dalam pengunjungan ke Piaynemo, Widiyanti menekankan perlunya harmonisasi antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Ia menyoroti bahwa keberhasilan pengelolaan destinasi pariwisata harus diukur berdasarkan dampak jangka panjang terhadap kehidupan alam dan budaya setempat. “Kami perlu memastikan bahwa setiap aktivitas wisata tidak merusak ekosistem, tetapi justru memperkuat warisan alam yang menjadi ciri khas Raja Ampat,” katanya.

Eksplorasi Desa Wisata Arborek sebagai Model Ekowisata

Selama kunjungan, Menpar juga mengunjungi Desa Wisata Arborek yang mendapatkan penghargaan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021. Lokasi ini dianggap sebagai contoh nyata pengembangan ekowisata yang mampu menggabungkan pertumbuhan ekonomi masyarakat dengan penjagaan budaya dan keanekaragaman hayati laut. “Desa Arborek membuktikan bahwa pariwisata tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga menjaga kehidupan sejarah dan lingkungan,” tambahnya.

“Di Arborek, kita melihat bagaimana masyarakat dapat mengelola sumber daya alam secara bijak sambil merawat budaya leluhur mereka. Keberhasilan ini harus menjadi inspirasi untuk desa-desa lain yang ingin mengembangkan pariwisata berkelanjutan,” kata Widiyanti.

Konservasi Hiu Zebra dan Simbol Harapan

Pada akhir kunjungan di Pulau Kri, Distrik Meos Mansar, Menpar menyaksikan program konservasi hiu di Sorido Bay Resort. Ia memberikan nama “Putri” kepada salah satu telur hiu zebra yang sedang dalam masa inkubasi dan akan segera menetas. Nama ini dianggap sebagai simbol semangat optimis terhadap kehidupan laut yang lestari di perairan Raja Ampat. “Putri” menjadi representasi dari upaya kolektif untuk menjaga keberlanjutan ekosistem laut, yang akan memberikan manfaat bagi generasi mendatang,” jelasnya.

Peran Masyarakat dalam Keberlanjutan Destinasi Wisata

Widiyanti menekankan bahwa keberlanjutan Raja Ampat sebagai destinasi wisata unggulan dunia bergantung pada keterlibatan masyarakat. Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan, termasuk pengelola wisata, pengusaha lokal, dan pengunjung, untuk memiliki rasa tanggung jawab bersama. “Setiap individu memiliki peran dalam menjaga keindahan alam dan budaya yang menjadi daya tarik utama Raja Ampat,” tambahnya.

Konservasi sebagai Pilar Utama

Pada kunjungan tersebut, Menpar menyoroti pentingnya konservasi ekosistem laut sebagai pilar utama keberlanjutan destinasi. Ia menekankan bahwa pengelolaan kawasan harus mencakup perlindungan terhadap spesies langka, peningkatan area konservasi, serta edukasi terhadap pengunjung untuk mengurangi dampak negatif. “Kami perlu membangun kesadaran bahwa pariwisata adalah jembatan antara pemanfaatan sumber daya dan perlindungan lingkungan,” ujarnya.

Langkah Strategis untuk Masa Depan

Menpar juga mengungkapkan rencana strategis yang akan diterapkan untuk memperkuat kesiapan revalidasi. Beberapa langkah antara lain termasuk penguatan sistem pengelolaan wisata berbasis komunitas, penerapan teknologi ramah lingkungan, serta kolaborasi dengan lembaga internasional untuk memperoleh standar pengelolaan terbaik. “Kita perlu melibatkan semua pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga masyarakat, untuk menciptakan ekosistem pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan,” katanya.

Keselarasan Ekonomi dan Budaya

Raja Ampat, yang terkenal dengan keindahan alamnya, juga menjadi contoh bagaimana pariwisata dapat berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat. Dengan pengelolaan yang baik, destinasi ini tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga mendorong pengembangan ekonomi lokal melalui aktivitas seperti perikanan berkelanjutan, pertanian organik, dan penginapan ramah lingkungan. Widiyanti menilai bahwa keberhasilan tersebut memperkuat argumen bahwa kepariwisataan dan kelestarian lingkungan bisa berjalan seiring.

Harapan untuk Masa Depan Raja Ampat

Pada akhir kunjungan, Menpar menegaskan bahwa Raja Ampat adalah salah satu destinasi yang membutuhkan perhatian khusus dalam penguatan keberlanjutan. Ia menyampaikan bahwa tugas bersama adalah memastikan keindahan alam dan budaya tetap terjaga sepanjang waktu. “Keberhasilan Raja Ampat tidak hanya menjadi kebanggaan nasional, tetapi juga menjadi contoh bagi dunia tentang pariwisata yang seimbang dengan lingkungan,” ujarnya.

Penutup: Kemitraan untuk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *