What Happened During: Fadli Zon serukan kebudayaan bisa menjadi kekuatan bangsa Indonesia
Fadli Zon Serukan Kebudayaan Bisa Menjadi Kekuatan Bangsa Indonesia
What Happened During – Jakarta, Rabu – Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk tetap menyadari bahwa negara ini memiliki warisan budaya yang luar biasa, yang bisa menjadi fondasi kuat bagi kemajuan bangsa. Dalam acara peringatan Hari Kebangkitan Nasional di Jakarta, ia menekankan bahwa perbedaan budaya dalam masyarakat kita justru harus dijadikan momentum untuk memperkuat persatuan, bukan penyebab perpecahan.
Momen Peringatan Hari Kebangkitan Nasional
Fadli Zon menyampaikan pesan tersebut saat menghadiri upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional di Museum Kebangkitan. Ia menggarisbawahi bahwa sejarah merupakan bagian tak terpisahkan dari masa kini hingga masa depan. “Kita harus tetap sadar bahwa bangsa kita ini adalah bangsa yang besar, bangsa yang mega diversity, dan perbedaan-perbedaan itu harus kita jadikan sumber kekuatan, bukan ancaman perpecahan,” ujarnya. Pesan ini ditujukan agar generasi muda dan seluruh elemen masyarakat tetap memahami peran sejarah dalam membangun identitas nasional.
“Kita harus tetap sadar bahwa bangsa kita ini adalah bangsa yang besar, bangsa yang mega diversity dan perbedaan-perbedaan itu harus kita jadikan sumber kekuatan bukan ancaman perpecahan,”
Dalam kesempatan itu, Fadli Zon juga mengingatkan pentingnya melanjutkan cita-cita para pendiri bangsa, perintis kemerdekaan, serta tokoh-tokoh pemikir yang telah memberikan kontribusi besar bagi perjalanan sejarah Indonesia. Ia menyoroti peran pelajar di Stovia sebagai bagian dari sejarah perjuangan bangsa, dengan mengatakan bahwa perjuangan mereka untuk merealisasikan aspirasi lebih tinggi tetap relevan dalam konteks masa kini.
Tiga Pameran yang Diresmikan
Selain memberikan pidato, Fadli Zon juga meresmikan tiga pameran yang menjadi bagian dari peringatan Hari Kebangkitan Nasional 2026. Ketiga pameran tersebut mencakup: (1) pameran lukisan berjudul Science SciaArt 8.0, (2) pameran bertajuk “Merawat Memori” yang merupakan kolaborasi Joseph L.Spartz, dan (3) aktivasi “Rebahan di Asrama Stovia” sebagai media untuk mengenang sejarah pendirian sekolah Stovia yang berperan dalam membentuk generasi muda sejak dulu.
Pameran Science SciaArt 8.0 menampilkan karya seni yang menggabungkan ilmu pengetahuan dengan seni visual, menunjukkan potensi integrasi antara teknologi dan budaya. Sementara pameran “Merawat Memori” menitikberatkan pada upaya melestarikan catatan sejarah yang terkait dengan perjuangan bangsa. Aktivasi “Rebahan di Asrama Stovia” dirancang untuk mengajak masyarakat mengeksplorasi nilai-nilai pendidikan dan perjuangan yang dijalani oleh para pelajar di masa lalu.
Keberlanjutan Kedaulatan Budaya
Dalam pidatonya, Fadli Zon menegaskan bahwa dalam era geopolitik yang dinamis, kekuatan nasional tidak hanya bergantung pada sumber daya alam atau ekonomi, tetapi juga pada kemampuan mempertahankan kedaulatan budaya. “Di tengah tantangan global, kita perlu menggali potensi kebudayaan sebagai alat untuk memperkuat kejati diri bangsa Indonesia,” tambahnya. Ia menekankan bahwa kebudayaan bukan hanya kekayaan materi, tetapi juga daya penggerak yang mampu membangun persatuan dalam keberagaman.
Fadli Zon juga memaparkan pasal terkait dalam UUD 1945 yang menjadi dasar pengembangan kebudayaan nasional. Menurutnya, pasal 32 ayat 1 mengatur bahwa negara berkewajiban memajukan kebudayaan Indonesia di tengah peradaban dunia, dengan menjamin masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai budayanya. “Dengan semangat ini, kita bisa menjadikan kebudayaan sebagai kekuatan untuk mempersatukan bangsa Indonesia menjadi jati diri dan identitas yang kuat,” jelasnya.
“Di bidang kebudayaan kita juga memajukan kebudayaan nasional kita di tengah peradaban dunia dengan semangat untuk melindungi mengembangkan memanfaatkan dan membina kebudayaan sesuai dengan pasal 32 ayat 1 Undang-undang Dasar 1945,”
Pidato Fadli Zon memotivasi masyarakat untuk tidak hanya merayakan peringatan Hari Kebangkitan Nasional, tetapi juga secara aktif menjaga semangat kebangkitan tersebut. Ia menyoroti bahwa kebudayaan dapat menjadi penggerak utama dalam menjaga keseimbangan antara modernisasi dan tradisi. “Kita harus memanfaatkan budaya sebagai alat untuk memajukan kebudayaan nasional, sekaligus sebagai bagian dari pengembangan ekonomi budaya,” katanya. Ini menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan nasional tidak bisa terlepas dari kontribusi sektor kebudayaan.
Dalam konteks saat ini, Fadli Zon menegaskan bahwa Indonesia harus tetap menjadi contoh kebangkitan nasional yang berkelanjutan. Ia menyebutkan bahwa dalam dunia yang terus berubah, bangsa Indonesia perlu menjaga konsistensi dalam mengembangkan identitas budaya yang unik. “Kedaulatan budaya adalah bagian dari kedaulatan nasional, dan kita harus bersama-sama menjaganya,” papar Fadli. Pesan ini sejalan dengan upaya menjadikan kebudayaan sebagai elemen penting dalam menopang ketahanan nasional.
Menbud juga menyoroti pentingnya edukasi dalam membentuk kesadaran masyarakat akan nilai-nilai kebudayaan. Ia menekankan bahwa pelajaran sejarah tidak hanya untuk memahami masa lalu, tetapi juga untuk memandu tindakan di masa depan. “Kita harus memahami bahwa sejarah adalah alat untuk melihat masa kini dan memprediksi masa depan,” ujarnya. Hal ini menjadi dasar bagi inisiatif-inisiatif yang dihadirkan dalam peringatan tahun ini, termasuk pameran dan aktivasi sejarah Stovia.
Peringatan Hari Kebangkitan Nasional 2026 dianggap sebagai kesempatan strategis untuk membangun semangat nasionalisme yang lebih kuat. Fadli Zon berharap bahwa inisiatif ini dapat memberikan inspirasi bagi generasi muda untuk terus berkontribusi dalam memajukan bangsa. “Kita perlu menanamkan rasa bangga terhadap warisan budaya Indonesia, agar mereka bisa menjadikannya sebagai alat untuk menciptakan masa depan yang lebih baik,” tuturnya. Dengan demikian, kebudayaan tidak hanya menjadi cerminan masa lalu, tetapi juga jembatan menuju kemajuan bangsa yang lebih solid dan berkualitas.