Special Plan: DKI kucurkan Rp1,9 triliun untuk menata kawasan kumuh sejak 2018
DKI Jakarta Berkomitmen Peningkatan Kualitas Permukiman dengan Alokasi Dana Rp1,9 Triliun
Special Plan – Dalam upaya memperbaiki kondisi wilayah kumuh, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menyalurkan dana sebesar Rp1,9 triliun sejak tahun 2018 hingga 2025. Angka ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam memberikan solusi terhadap masalah permukiman yang tidak memadai. Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) DKI Jakarta, Kelik Indriyanto, menyampaikan bahwa anggaran tersebut terus dialokasikan secara rutin untuk penataan kawasan yang kurang layak huni. “Anggaran penataan kawasan kumuh selama periode 2018 sampai 2025 sekitar Rp1,9 triliun. Dengan rata-rata dana yang dikeluarkan setiap tahun mencapai Rp200 miliar,” ujarnya saat memberikan penjelasan di Jakarta Pusat, Jumat lalu.
Hasil Pendataan dan Penurunan RW Kumuh
Berdasarkan data terbaru dari Pemprov DKI Jakarta yang bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah RW kumuh di Jakarta mengalami penurunan signifikan. Dari 445 RW yang dikategorikan kumuh pada 2017, kini angka tersebut berkurang menjadi 211. “Penurunan ini mencapai 52,58 persen, yang menjadi capaian penting dalam perbaikan kualitas permukiman warga,” jelas Kelik. Data tersebut menunjukkan progres yang nyata, meski masih ada tantangan dalam menekan jumlah RW yang berkategori kumuh.
“Program akan kita lanjutkan, dengan hasil yang dari BPS ini, kita akan benar-benar mengobati sesuai titik pusat yang memang kumuh. Jadi kita akan bersama-sama dengan BPS DKI, sama yang menurunkan detailnya RT-nya dimana yang kumuh, karena menurut BPS kalau ada satu RT yang kumuh, maka disebut RW kumuh,”
Perubahan ini tercapai melalui berbagai program yang dirancang oleh DPRKP DKI Jakarta. Beberapa di antaranya mencakup peningkatan infrastruktur, perbaikan akses ke layanan publik, serta pengelolaan sampah yang lebih efektif. Kelik menekankan bahwa anggaran ini tidak hanya diberikan secara bertahap, tetapi juga digunakan untuk memastikan keberlanjutan program penataan. “Kita sudah menyusun skema kerja yang terstruktur, agar setiap dana yang dikeluarkan memberikan dampak maksimal,” tambahnya.
Wilayah Prioritas dalam Penanganan Kawasan Kumuh
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, menegaskan bahwa penanganan wilayah kumuh akan lebih difokuskan pada daerah dengan kepadatan penduduk tinggi. Wilayah seperti Jakarta Barat dan Jakarta Utara menjadi prioritas, mengingat tingkat kompleksitas permukiman di sana cukup tinggi. “Kita ingin memastikan bahwa dana yang diberikan benar-benar sampai ke wilayah yang paling membutuhkan,” kata gubernur dalam pernyataannya.
Salah satu contoh wilayah yang mendapat perhatian khusus adalah Tambora. Daerah ini dianggap memiliki tantangan tersendiri dalam mengatasi masalah kumuh, baik dari segi fisik maupun sosial. Kelik menjelaskan bahwa pemilihan Tambora sebagai fokus penanganan disebabkan oleh kebutuhan intervensi yang lebih dalam, terutama dalam memperbaiki kawasan yang terlalu padat dan kurang terlayani. “Kita harus memahami kebutuhan masyarakat di sana sebelum merancang solusi,” tambahnya.
Sebagai hasil dari upaya penataan, kini tidak ada RW kumuh berkategori berat di ibu kota. Kelik mengakui bahwa meskipun tidak semua wilayah berhasil ditingkatkan, jumlah RW kumuh berkategori sedang dan ringan telah berkurang. “Kategori yang tersisa adalah kumuh sedang, kumuh ringan, hingga kumuh sangat ringan. Ini menunjukkan bahwa kita sudah berhasil mengurangi tingkat kumuh yang paling parah,” jelasnya.
Perencanaan ke Depan dan Kolaborasi dengan BPS
Kelik juga menyampaikan rencana pemerintah untuk terus melanjutkan program penataan kawasan kumuh. “Ditargetkan, ada 50 RW kumuh yang akan ditangani hingga akhir tahun depan,” katanya. Langkah ini diharapkan dapat memberikan dampak lebih luas, terutama pada masyarakat yang tinggal di wilayah yang kurang memadai. Untuk memastikan keberhasilan program tersebut, pihaknya akan terus bekerja sama dengan BPS DKI Jakarta.
Kolaborasi dengan BPS dianggap penting untuk memperoleh data yang akurat dan terkini. “BPS memberikan detail per RT, sehingga kita bisa mengetahui lokasi mana yang membutuhkan penanganan lebih lanjut,” jelas Kelik. Dengan data tersebut, pemerintah dapat menyusun strategi yang lebih tepat sasaran, baik dalam penyaluran dana maupun dalam pelaksanaan proyek fisik. Ini juga membantu menghindari pengulangan upaya yang tidak efektif.
Secara keseluruhan, program penataan kawasan kumuh DKI Jakarta telah membuktikan bahwa pengelolaan permukiman bisa dilakukan secara bertahap namun konsisten. Angka penurunan RW kumuh dari 445 menjadi 211 menunjukkan bahwa upaya tersebut memberikan hasil yang signifikan. Namun, Kelik mengingatkan bahwa masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama di daerah dengan masalah struktur permukiman yang kompleks. “Kita harus terus berupaya, karena kawasan kumuh tidak bisa diatasi dalam waktu singkat,” katanya.
Dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk BPS, DKI Jakarta optimis bisa mencapai target penataan kawasan kumuh yang telah ditetapkan. Selain itu, program ini juga diharapkan bisa menjadi contoh bagi kota-kota lain di Indonesia dalam upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Kelik menegaskan bahwa pemerintah akan terus berkomitmen dalam hal ini, baik dalam hal anggaran maupun penguatan kelembagaan. “Kita akan menggandeng BPS dalam mengawasi dan memperbaiki keadaan RW kumuh, agar tidak ada penurunan yang tidak signifikan,” tutupnya.