BPBL Batam sebut minat budidaya lobster modeling mulai meningkat

BPBL Batam Sebut Minat Budidaya Lobster Modeling Mulai Meningkat

BPBL Batam sebut minat budidaya lobster – Batam, Kepulauan Riau (Kepri) – Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam mencatat peningkatan minat masyarakat terhadap praktik budidaya lobster menggunakan sistem modeling dalam dua tahun terakhir. Kepala BPBL Batam, Ipong Adi Guna, menyatakan bahwa potensi wilayah Kepri, khususnya Batam, sangat baik untuk dikembangkan menjadi pusat budidaya lobster. Ia menekankan bahwa kualitas air laut di sana mendukung keberlanjutan usaha tersebut.

Permintaan Pasar Menjadi Pendorong Utama

Menurut Ipong, kebutuhan pasar terhadap lobster konsumsi di Batam dan sekitarnya terus meningkat. Hal ini memberikan peluang besar bagi pengembangan usaha budidaya lobster, terutama dalam sistem modeling yang dirasa lebih efisien dibandingkan metode tradisional. “Dengan sistem modeling, kita bisa mengoptimalkan pengelolaan benih lobster dari awal hingga ukuran siap konsumsi,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kegiatan budidaya lobster modeling yang dijalankan BPBL Batam telah menunjukkan hasil yang positif. Teknologi ini, kata Ipong, masih baru diterapkan, sehingga masyarakat perlu waktu untuk mengakses dan memahami manfaatnya. “Selama dua tahun terakhir, kami terus meningkatkan penelitian dan pengembangan teknik modeling untuk memastikan keberlanjutan hasilnya,” ujarnya.

Penyelundupan Benih Lobster Jadi Tantangan

Dalam hal ekonomi, nilai BBL (benih bening lobster) di tingkat nelayan penangkap mencapai Rp8.500 hingga Rp10 ribu per ekor. Di tingkat pengepul, harga naik hingga Rp12 ribu hingga Rp14 ribu per ekor, dengan tambahan biaya pengiriman. Untuk pasar luar negeri, harga BBL sebelumnya mencapai Rp20 ribu sampai Rp25 ribu per ekor.

“Permintaan dari luar negeri sangat besar, sementara penangkapan BBL dibatasi kuota oleh pemerintah, sehingga praktik penyelundupan masih sering terjadi,” kata Ipong.

Menurutnya, penyelundupan benih lobster ke luar negeri terjadi karena adanya kesenjangan antara permintaan dan pasokan. Polda Kepri, kata Ipong, sebelumnya telah berhasil menggagalkan penyelundupan 122 ribu ekor BBL yang akan dikirim ke luar negeri pada Rabu (21 Mei). Hal ini menunjukkan bahwa minat ekspor BBL masih tinggi meski regulasi telah membatasi.

Dari segi teknis, kondisi air di wilayah Kepri dan Batam dinilai layak untuk pengembangan usaha budidaya lobster. “Kualitas perairan di sini cukup stabil dan memenuhi standar pertumbuhan lobster,” kata Ipong saat dihubungi di Batam, Sabtu. Ia menjelaskan bahwa BPBL Batam telah melakukan upaya teknis untuk mengembangkan model budidaya lobster yang terukur dan dapat diakses oleh masyarakat luas.

Upaya Peningkatan Kapasitas Budidaya

Di wilayah kerja BPBL Batam, terdapat 13 pembudidaya lobster yang telah terdaftar dan terverifikasi. Namun, mayoritas usaha modeling budidaya lobster masih didominasi oleh institusi tersebut, karena teknologi ini masih relatif baru. “Usaha modeling ini baru berjalan selama dua tahun, jadi masih banyak masyarakat yang belum terlibat,” ujarnya.

Ipong juga menyebut bahwa sebagian besar masyarakat di Kepri dan Batam masih mengandalkan metode tradisional dalam pembesaran lobster. Mereka menggunakan benih yang diperoleh dari tangkapan alam, bukan hasil modeling yang lebih terkontrol. “Masyarakat umumnya belum paham manfaat sistem modeling dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas lobster,” katanya.

Menurutnya, penggunaan benih hasil modeling bisa mempercepat pertumbuhan lobster serta mengurangi risiko kehilangan benih akibat perubahan lingkungan. “Jika benih yang diproduksi secara teratur, maka kita bisa mengurangi ketergantungan pada sumber daya alam,” tambah Ipong. Selain itu, sistem modeling juga memungkinkan pemeliharaan lobster lebih terstruktur, sehingga hasil panen lebih konsisten.

Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan

Sebagai bagian dari upaya pengelolaan sumber daya laut yang lebih baik, Pemerintah melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 5 Tahun 2026, telah menetapkan bahwa BBL hanya diperuntukkan untuk kegiatan budidaya di dalam negeri. Regulasi ini bertujuan memastikan keberlanjutan sumber daya lobster di Indonesia, sekaligus mencegah ekspor benih yang berlebihan.

“Permintaan dari luar negeri sangat besar, sementara penangkapan BBL dibatasi kuota oleh pemerintah, sehingga praktik penyelundupan masih sering terjadi,” kata Ipong.

Meski demikian, Ipong yakin bahwa peraturan ini justru mendorong masyarakat lokal untuk meningkatkan keahlian dalam budidaya lobster. “Dengan batasan ekspor, kita bisa fokus pada penguasaan teknologi di dalam negeri,” ujarnya.

BPBL Batam terus berupaya memperluas wawasan masyarakat tentang budidaya lobster modeling. Selain itu, institusi ini juga menjalin kerja sama dengan dinas terkait untuk memperbarui data pemeliharaan benih lobster di daerah Kepri dan Batam. “Koordinasi dengan pihak terkait sangat penting agar kita bisa mengawasi penggunaan BBL secara efektif,” katanya.

Dari sisi teknis, sistem modeling lobster berupa pengelolaan benih dari awal hingga usia konsumsi dinilai lebih efektif dibandingkan metode tradisional. Hal ini tidak hanya meningkatkan hasil produksi tetapi juga mengurangi risiko kehabisan benih di tengah meningkatnya permintaan. “Kami terus melakukan pelatihan dan sosialisasi teknologi ini agar masyarakat bisa menerapkannya secara mandiri,” jelas Ipong.

Potensi Peningkatan Produksi

Ipong optimis bahwa dengan terus meningkatkan kapasitas budidaya lobster, Indonesia bisa memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus ekspor. “Jika usaha budidaya lobster terus ditingkatkan, maka kapasitas produksi kita akan semakin besar,” katanya. Ia juga menekankan bahwa keberhasilan ini bergantung pada partisipasi masyarakat dan dukungan pemerintah daerah.

Sebagai bagian dari upaya pengembangan ekonomi, budidaya lobster modeling dilihat sebagai solusi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. “BBL yang diproduksi secara teratur bisa menjadi aset berharga bagi para pembudidaya,” ujarnya. Ia juga menyebutkan bahwa pendapatan dari budidaya lobster lebih menjanjikan dibandingkan kegiatan perikanan konvensional, terutama jika diikuti dengan pengelolaan yang baik.

Dalam jangka panjang, Ipong berharap bahwa budidaya lobster modeling bisa menjadi pilar utama sektor perikanan di Kepri. “Kami ingin masyarakat lebih banyak yang menerapkan sistem ini untuk memperkuat keberlanjutan industri,” katanya. Peningkatan minat ini juga diharapkan dapat menekan praktik penyelundupan BBL yang selama ini terjadi karena kurangnya keahlian teknis di masyarakat.

Kepala BPBL Batam menambahkan bahwa BPBL Batam akan terus berupaya memperluas jaringan pengusaha budidaya lobster. “Kami berharap bisa membentuk komunitas yang mandiri dalam pengelolaan benih lobster,” ujarnya. Ia juga meminta masyarakat lebih aktif dalam mengikuti pelatihan yang disediakan BPBL Batam. “Dengan pengetahuan yang cukup, mereka bisa menjadi pelaku utama pertumbuhan usaha ini,” katanya.

Dengan segala upaya yang telah dilakukan, Ipong meyakinkan bahwa bud

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *