Topics Covered: KAI perkuat elektrifikasi kereta dukung mobilitas urban modern
KAI Tingkatkan Elektrifikasi Kereta untuk Mendukung Mobilitas Kota Modern
Topics Covered – Jakarta – PT Kereta Api Indonesia (KAI) tengah giat menambah daya listrik pada jalur kereta api sebagai langkah strategis untuk mendukung pengembangan transportasi perkotaan yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan dapat diandalkan. Tujuan utama dari inisiatif ini adalah memastikan operasional kereta api listrik (KRL) tetap stabil, sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin tinggi dalam mobilitas urban. “Kenaikan penggunaan layanan kereta api dalam beberapa tahun terakhir membawa dampak signifikan pada infrastruktur listrik, terutama di wilayah metropolitan,” ujar Anne Purba, Wakil Direktur Komunikasi Korporat KAI, dalam siaran pers di Jakarta, Sabtu (12/07).
Ekspansi Mobilitas Mengubah Dinamika Transportasi
Berdasarkan data riset transportasi perkotaan, jumlah perjalanan kereta api listrik mengalami lonjakan besar dalam dekade terakhir. Dari 257 juta perjalanan pada 2015, angka tersebut meningkat hingga 401 juta perjalanan di 2025. Lonjakan ini mencerminkan pertumbuhan pesat permintaan transportasi oleh masyarakat perkotaan, yang mencapai lebih dari 140 juta perjalanan tambahan dalam waktu tersebut. Situasi ini semakin memburuk setelah pandemi, dengan peningkatan penggunaan mencapai 50 persen pada 2022 dan kembali naik 31 persen di tahun 2023.
“Termasuk mendukung sistem persinyalan, serta memastikan perjalanan KRL tetap berjalan aman dan andal di lintas dengan trafik yang semakin padat,” ujar Anne Purba.
Kenaikan tersebut berdampak pada frekuensi operasional kereta api. Dalam 10 tahun terakhir, perjalanan harian KRL naik dari 881 menjadi 1.063 perjalanan per hari. Di antara jalur-jalur utama, Bogor Line menjadi yang paling sibuk dengan frekuensi 299 perjalanan per hari, diikuti Bekasi Line (232 perjalanan) dan Serpong Line (204 perjalanan). Angka-angka ini menunjukkan bahwa kebutuhan daya listrik pada sistem transportasi perkotaan terus meningkat, seiring kepadatan lalu lintas di area-area strategis.
Elektrifikasi Sebagai Pilar Kinerja Transportasi Modern
Menurut Anne Purba, elektrifikasi perkeretaapian memiliki peran kritis dalam memastikan kinerja layanan transportasi perkotaan tetap optimal. “KRL menjadi salah satu elemen utama dalam pengaturan mobilitas modern, dan stabilitas daya listrik menjadi kunci untuk menjaga keandalannya,” jelasnya. Pertumbuhan jumlah perjalanan yang pesat memaksa KAI memperkuat pasokan daya di berbagai jalur, terutama di kawasan dengan intensitas kegiatan tinggi. Dengan peningkatan volume operasional, sistem sinyal dan keandalan operasional perlu didukung oleh infrastruktur listrik yang lebih canggih.
KAI bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan, terus meningkatkan kualitas elektrifikasi untuk memenuhi target keberlanjutan layanan. Peningkatan frekuensi perjalanan memerlukan daya yang stabil, karena kepadatan trafor di kawasan perkotaan menuntut perangkat keras seperti gardu listrik dan sistem persinyalan yang selalu siap beroperasi. “Ketika mobilitas urban meningkat sangat cepat, infrastruktur daya perlu diperkuat agar operasional tetap stabil dan risiko gangguan perjalanan dapat diminimalkan,” tambah Anne.
Perbandingan Mobilitas di Wilayah Jabodetabek dan Lainnya
Dalam konteks regional, Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) menunjukkan kecenderungan yang berbeda dibandingkan kota-kota lain di Asia Tenggara. Menurut data riset, jumlah pengguna kereta api di wilayah ini mencapai 349,3 juta perjalanan pada 2025, jauh lebih besar dari Bandung (18,7 juta), Surabaya (16 juta), dan Yogyakarta (10,1 juta). Perbedaan ini menegaskan bahwa kebutuhan transportasi di Jabodetabek sangat beragam dan memerlukan pendekatan spesifik untuk memenuhi kepadatan pengguna.
Penelitian yang dilakukan oleh KAI dan DJKA juga menunjukkan bahwa elektifikasi perkeretaapian bukan hanya tentang meningkatkan jumlah perjalanan, tetapi juga tentang meningkatkan kualitas dan efisiensi layanan. Penyediaan daya listrik yang memadai adalah faktor utama dalam menjaga kapasitas operasional dan mengurangi risiko hambatan di jalur-jalur dengan kepadatan tinggi. Anne Purba menekankan bahwa peningkatan kepadatan headway (jarak antarperjalanan) mengharuskan sistem elektrifikasi yang lebih kuat, karena kebutuhan keandalan operasional semakin tinggi.
Inisiatif Integrasi untuk Kinerja Transportasi yang Terpadu
Terlepas dari fokus pada elektrifikasi, KAI juga menjalankan beberapa inisiatif lain untuk memperkuat sistem transportasi perkotaan. Beberapa di antaranya adalah revitalisasi stasiun, pengintegrasian antarmoda, dan digitalisasi layanan. “Kerja sama antara DJKA dan operator perkeretaapian bertujuan menciptakan sistem yang terpadu, mulai dari stasiun hingga jalur-jalur utama,” papar Anne. Tujuan dari inisiatif ini adalah mengurangi kemacetan dan meningkatkan efisiensi, sekaligus menghubungkan berbagai moda transportasi seperti bus dan angkutan umum.
Revitalisasi stasiun menjadi salah satu langkah kunci dalam menyediakan layanan yang lebih nyaman dan terjangkau. Selain itu, pengembangan pusat-pusat mobilitas baru di kawasan metropolitan diharapkan mampu mengakomodasi kebutuhan transportasi yang terus bertambah. “Elektrifikasi menjadi bagian penting dalam memastikan semua komponen sistem transportasi dapat beroperasi secara harmonis,” imbuh Anne. Penguatan infrastruktur listrik diharapkan juga mendukung peningkatan konektivitas antarwilayah, sehingga mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.
Perspektif Keberlanjutan dalam Mobilitas Urban
Perkembangan elektrifikasi perkeretaapian tidak hanya terkait dengan meningkatkan jumlah perjalanan, tetapi juga dengan menciptakan layanan yang lebih ramah lingkungan. Dengan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, KAI berkontribusi pada penurunan emisi karbon di kawasan perkotaan. “Penggunaan energi terbarukan di kereta api berpotensi menjadi solusi berkelanjutan untuk transportasi urban,” jelas Anne. Ia menambahkan bahwa langkah ini sejalan dengan kebijakan nasional untuk mengurangi polusi udara dan mempromosikan ekonomi hijau.
KAI juga menggandeng berbagai pemangku kepentingan untuk mendorong transformasi layanan kereta api. Selain memperkuat elektrifikasi, pihaknya fokus pada pengembangan kawasan strategis dan integrasi teknologi digital. “Kerja sama antara pemerintah dan operator perkeretaapian menjadi penopang utama dalam menciptakan sistem transportasi yang modern dan tangguh,” tegas Anne. Dengan kombinasi antara pasokan daya yang memadai, digitalisasi, dan integrasi antarmoda, KAI optimis mampu menjaw