Important Visit: Jatiluwih rangkai festival dengan lari untuk perkuat citra pariwisata
Jatiluwih rangkai festival dengan lari untuk perkuat citra pariwisata
Important Visit – Tahun ini, pengelola Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih menggabungkan acara Jatiluwih Festival dengan lomba lari santai Bali Tourism Run sebagai upaya memperkuat citra destinasi pariwisata. Penyelenggaraan festival ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa kawasan Jatiluwih kini kembali stabil setelah melalui fase konflik yang mengganggu. “Salah satu tujuan kami adalah memperkuat citra agar peserta tahu Jatiluwih saat ini aman-aman saja,” ujar Manager Operasional DTW Jatiluwih John Ketut Purna di Denpasar, Rabu.
Konflik yang terjadi sebelumnya melibatkan pelanggaran tata ruang, di mana sejumlah usaha pariwisata di area subak yang masuk dalam Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO diberi status penghentian sementara oleh pemerintah. Hal ini memicu perlawanan dari masyarakat dengan pemasangan pagar seng di sekitar area tersebut. Pemerintah dan pengelola akhirnya mencapai kesepakatan untuk menyelesaikan masalah ini, sehingga festival kembali digelar sebagai bentuk pemulihan citra dan daya tarik wisatawan.
“Saat ada kasus pemasangan seng, kunjungan Jatiluwih turun drastis. Akhirnya, yang dirugikan adalah masyarakat sendiri,” tambah John.
Jatiluwih Festival, yang akan berlangsung pada 20-21 Juni 2026, merupakan langkah strategis untuk menarik minat wisatawan setelah konflik tata ruang mereda. Acara ini dirancang agar peserta bisa merasakan langsung keindahan dan nilai budaya kawasan tersebut. Selain itu, kegiatan lari santai menjadi bagian integral dari festival, dengan kemitraan antara DTW Jatiluwih, Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita), dan Pemerintah Provinsi Bali.
Pemilihan lomba lari santai di Jatiluwih didasari oleh keinginan untuk menampilkan keunikan kawasan secara lebih menarik. John menyatakan, ajang lari ini memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk menjelajahi hamparan sawah berundak yang menjadi ikon Jatiluwih. Dengan melibatkan peserta secara langsung, kegiatan tersebut diharapkan bisa memperkuat kesan bahwa destinasi ini tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan dan budaya.
Festival Jatiluwih akan dimulai pada hari pertama dengan serangkaian pertunjukan hiburan yang melibatkan tradisi lokal. Selain itu, pengunjung juga diberikan pengalaman langsung bertani di sawah, khususnya dalam kegiatan memanen. Momentum ini justru sejalan dengan musim panen, sehingga dapat menciptakan suasana yang lebih hidup dan autentik. Sementara itu, hari kedua festival ditargetkan menarik 2.000 peserta lari santai yang akan berpartisipasi dalam perjalanan menyusuri subak khas Jatiluwih.
Dalam kegiatan lari santai, peserta akan diajak berjalan atau berlari sepanjang jalur sawah yang sudah diperbaiki dan disediakan secara khusus. Keberhasilan acara ini diharapkan bisa menggerakkan minat wisatawan untuk datang ke Jatiluwih, terutama setelah masa konflik yang mengakibatkan penurunan jumlah pengunjung. Selain itu, lomba lari ini menjadi sarana promosi yang efektif, menggabungkan atraksi alam dengan aktivitas sosial yang menarik.
Kegiatan Jatiluwih Festival juga dirancang untuk menyeimbangkan antara pariwisata dan keberlanjutan lingkungan. John menyebutkan, kehadiran peserta lari santai tidak hanya memberi dampak positif bagi perekonomian lokal, tetapi juga memperkuat kesan bahwa masyarakat Jatiluwih kompak dalam menjaga kelestarian alam dan budaya. “Festival ini merupakan bentuk komitmen kita untuk tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan wisata dan konservasi,” tuturnya.
Kemitraan dengan Asita dan Pemprov Bali menjadi faktor penting dalam penyelenggaraan acara ini. Kolaborasi tersebut memastikan adanya peningkatan promosi destinasi serta penyesuaian program yang lebih menarik bagi berbagai kalangan wisatawan. John menekankan bahwa festival ini bukan sekadar ajang hiburan, tetapi juga menjadi sarana edukasi tentang pentingnya menjaga lingkungan dan menghargai tradisi yang ada.
Selain lomba lari santai, Jatiluwih Festival juga menyediakan berbagai atraksi lain, seperti seni pertunjukan tradisional dan wisata budaya yang dipadukan dengan pengalaman langsung bertani. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkaya pengalaman wisatawan, sehingga mereka bisa menggali lebih dalam nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi daya tarik utama kawasan ini. “Kami ingin peserta merasakan bahwa Jatiluwih bukan hanya memiliki keindahan alam, tetapi juga warisan budaya yang dijaga dengan baik,” jelas John.
Dengan menarik 2.000 peserta pada hari kedua, lomba lari santai diharapkan bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Jalur lari akan disusun secara menarik, melewati hamparan sawah yang sedang dalam musim panen, memberi kesan visual yang spektakuler. Selain itu, peserta juga akan diajak mengenali keunikan subak Jatiluwih, termasuk sejarah dan peran pentingnya dalam sistem pertanian tradisional Bali.
John menambahkan, kegiatan lari ini merupakan bagian dari upaya membangun kembali citra Jatiluwih sebagai destinasi wisata yang layak dikunjungi. “Dengan melibatkan peserta secara langsung, kami percaya kegiatan ini akan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pariwisata berkelanjutan,” katanya. Harapan tersebut juga didukung oleh peran aktif Pemprov Bali yang memberikan dukungan logistik dan promosi.
Jatiluwih Festival menjadi contoh bagus bagaimana kawasan wisata dapat memperbaiki citra dengan menggabungkan kegiatan yang menarik dan bermakna. Kesuksesan acara ini diharapkan bisa menjadi awal dari peningkatan kunjungan wisatawan secara signifikan, sekaligus menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian. Selain itu, event ini juga memperkuat kerja sama antara pengelola, masyarakat, dan pemerintah dalam mengembangkan pariwisata lokal.