Special Plan: Warga Palestina rayakan Idul Adha di tengah pembatasan Israel
Warga Palestina rayakan Idul Adha di tengah pembatasan Israel
Special Plan – Di tengah pembatasan ketat yang diterapkan pasukan Israel, sejumlah kecil warga Palestina melaksanakan ibadah shalat Idul Adha di Masjid Ibrahimi, Hebron, Tepi Barat yang diduduki, Rabu (15/8) lalu. Sejumlah jamaah terpaksa menunggu lama sebelum dapat masuk ke masjid, dengan gerbang yang ditutup dan proses pemeriksaan ketat. Menurut koresponden Anadolu, beberapa orang diharuskan berpindah ke masjid lain karena gangguan dari kegiatan pemeriksaan. Granat kejut juga ditembakkan oleh pasukan Israel di dekat lokasi ibadah, menyebabkan rasa cemas di antara sekitar 300 jamaah yang hadir.
“Idul Adha adalah hari raya yang paling penting bagi umat Muslim, tetapi pasukan pendudukan tetap menghambat akses ke Masjid Ibrahimi,” ungkap Gubernur Hebron, Khaled Dudin, kepada Anadolu. Menurutnya, jumlah jamaah pada perayaan tahun ini hanya mencapai 30 persen dari jumlah biasa, dan situasi tersebut dianggap sebagai bentuk teror keagamaan yang memperkuat tekanan terhadap komunitas Muslim.
Masjid Ibrahimi, yang berada di Kota Tua Hebron, merupakan salah satu tempat suci terpenting dalam Islam. Wilayah tersebut saat ini sepenuhnya dikendalikan oleh Israel, dengan sekitar 400 penduduk Israel tinggal di bawah perlindungan 1.500 tentara. Sejak 1994, area masjid dibagi secara proporsional, yakni 63 persen untuk warga Yahudi dan 37 persen untuk Muslim, setelah terjadi pembunuhan massal oleh seorang pemukim yang menewaskan 29 jamaah Palestina. Kejadian ini memicu perubahan akses yang ketat terhadap masjid, khususnya selama hari raya besar seperti Idul Adha.
Pada tahun ini, warga Palestina di Tepi Barat tetap berusaha merayakan Idul Adha meskipun terus-menerus terkena tekanan militer. Sebagai bentuk perlawanan, mereka mempertahankan kehadiran di masjid meski harus menghadapi rintangan. Dudin menegaskan bahwa upaya untuk tetap hadir di sana adalah bagian dari komitmen untuk melindungi bangunan bersejarah yang berusia lebih dari 4.000 tahun. “Kita harus tetap berdiri teguh, bahkan dalam kondisi sulit,” ujarnya.
Situasi di Kota Betlehem
Dalam upaya untuk merayakan Idul Adha, warga Palestina di Kota Betlehem, Tepi Barat selatan, memilih Lapangan Manger sebagai lokasi ibadah. Mufti Betlehem, Sheikh Abdul Majid Amarna, menyampaikan pesan perayaan tersebut saat shalat berjalan. “Pesan Idul Adha tahun ini menekankan bahwa bangsa Palestina tidak dapat dipaksa atau dikendalikan oleh pihak lain, meski ada upaya dari musuh-musuhnya,” katanya. Amarna juga menyoroti pengorbanan besar yang telah dilakukan oleh rakyat Palestina, termasuk dalam kondisi blokade dan serangan militer yang berkelanjutan.
Meskipun akses ke Masjid Ibrahimi terbatas, jamaah di Betlehem tetap berupaya merayakan hari raya dengan semangat. Kehadiran mereka di Lapangan Manger menunjukkan ketahanan spiritual dalam menghadapi tantangan fisik. Pemerintah Palestina mencatat bahwa sejak perang militer Israel di Gaza yang dimulai pada Oktober 2023, Tepi Barat menjadi saksi bisu peningkatan serangan. Angka-angka resmi menunjukkan bahwa sekitar 1.200 warga Palestina tewas, lebih dari 12.600 terluka, dan 33.000 orang menjadi pengungsi selama perang tersebut.
Perayaan dalam Kondisi Kritis
Kebijakan pembatasan dan pengepungan terus berlangsung di Tepi Barat, memengaruhi kehidupan sehari-hari warga Palestina. Meski demikian, Idul Adha tetap menjadi momen penting yang memperkuat semangat perjuangan mereka. Perayaan tahun ini dianggap sebagai simbol keteguhan dalam menghadapi tekanan. “Warga Palestina tetap mempertahankan tradisi dan keyakinan mereka, bahkan dalam situasi yang paling berat,” tambah Amarna.
Dalam konteks lebih luas, Idul Adha menjadi momen untuk menegaskan identitas budaya dan agama. Di Masjid Ibrahimi, meski jumlah jamaah terbatas, upacara shalat tetap berjalan sesuai dengan protokol yang diterapkan. Pembatasan tersebut juga memaksa jamaah beradaptasi, seperti menggunakan jalur alternatif atau merayakan di tempat lain. Namun, kehadiran mereka di masjid tetap menjadi tanda pengorbanan yang besar.
Perayaan Idul Adha juga menyoroti peran historis Masjid Ibrahimi dalam kehidupan umat Muslim. Sebelum dibagi oleh Israel pada 1994, masjid sempurna menjadi pusat ibadah dan budaya bagi warga Palestina. Kini, meski hanya sebagian kecil yang dapat mengaksesnya, nilai spiritual masjid tetap tak tergantikan. Dudin menegaskan bahwa pasukan Israel terus berusaha mengendalikan masjid, tetapi rakyat Palestina tetap berusaha mengambil alih peran sejarahnya.
Di sisi lain, tekanan militer terus meningkat setelah perang di Gaza. Pemerintah Palestina melaporkan bahwa kebijakan pembatasan tidak hanya membatasi akses ke tempat suci tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi dan sosial. Meski begitu, perayaan Idul Adha tetap berlangsung sebagai bentuk peneguhan iman dan persatuan. “Meski serangan terus berlangsung, rakyat Palestina tetap bisa berkumpul untuk memperingati hari besar yang penuh makna,” jelas Amarna.
Perayaan ini juga menjadi ajang untuk menyampaikan pesan kebangsaan. Kehadiran jamaah di bawah kondisi pemeriksaan dan pembatasan menunjukkan keteguhan mereka menghadapi serangan. “Idul Adha adalah bukti bahwa kehidupan spiritual tetap hidup meskipun tekanan fisik terus menerus,” kata Dudin. Dengan demikian, perayaan tersebut bukan hanya tentang ritual, tetapi juga tentang perlawanan terhadap kekuasaan penduduk.
Kebijakan pembatasan dan eskalasi militer yang berkelanjutan telah mengubah cara umat Muslim merayakan hari besar. Di Masjid Ibrahimi, jamaah harus beradaptasi dengan protokol ketat, termasuk mematuhi perintah tentara untuk menghindari gangguan. Namun, semangat untuk merayakan tetap terjaga, dan kehadiran di masjid dianggap sebagai bentuk perlawanan yang penuh makna. “Idul Adha memberi kita kekuatan untuk terus berjuang,” tambah Dudin.
Dengan latar belakang sejarah yang panjang, Masjid Ibrahimi tetap menjadi simbol perlawanan Palestina. Dari tahun ke tahun, akses ke masjid terus dibatasi, tetapi jamaah tetap berusaha menghadirkan semangat kebangsaan. Perayaan Idul Adha di Hebron dan Betlehem menjadi bagian dari upaya untuk menjaga identitas budaya dalam tengah krisis yang berkelanjutan. “Warga Palestina tidak akan menyerah, bahkan dalam situasi yang paling berat,” pungkas Amarna.