Key Discussion: Xi dijadwalkan bertemu Kim dalam waktu dekat
Xi Dijadwalkan Bertemu Kim dalam Waktu Dekat
Key Discussion – Istanbul – Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, mengumumkan bahwa Presiden Xi Jinping akan bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dalam waktu dekat. Pertemuan ini dijadwalkan berlangsung selama kunjungan penting Xi ke Pyongyang, yang menjadi bagian dari upaya kedua pihak memperkuat hubungan bilateral dan mendorong kolaborasi dalam berbagai bidang. Menurut sumber tersebut, pertemuan ini diharapkan membawa kontribusi terhadap perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran di wilayah serta dunia secara keseluruhan.
Kunjungan ini menandai perjalanan Xi ke Korea Utara pertama kali dalam tujuh tahun terakhir. Hal ini diakui sebagai peningkatan hubungan diplomatik setelah era kebijakan perdamaian yang diluncurkan Kim, serta kesempatan untuk membahas isu-isu strategis bersama. Pemimpin China tersebut sebelumnya pernah mengunjungi negara tersebut pada 2019, yang merupakan kali pertama dalam 14 tahun seorang presiden Tiongkok melakukan perjalanan ke sana. Sebagai tambahan, Xi juga mengunjungi Pyongyang pada tahun 2008 saat menjabat sebagai wakil presiden, sekaligus bertemu dengan Kim Jong Il, ayah dari Kim Jong Un.
Dalam pertemuan terakhir, Kim Jong Un menyatakan komitmen untuk mengembangkan kemampuan nuklir Korea Utara dengan laju yang berkali-kali lipat. Pernyataan itu menunjukkan bahwa pihak Kim tetap mempertahankan status negara sebagai kekuatan nuklir. Kim Yo-jong, saudara perempuan Kim Jong Un yang berpengaruh, Minggu mengatakan bahwa status nuklir Korea Utara “sama sekali tidak dapat diubah” dan program senjata nuklirnya “tidak dapat dinegosiasikan, menolak upaya internasional yang bertujuan untuk denuklirisasi.” Ini mencerminkan sikap Pyongyang yang konstan dalam menjaga kemampuan nuklirnya.
Minggu, kata Mao Ning, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, pertemuan antara Xi dan Kim akan menjadi momentum penting untuk menegaskan tujuan bersama dalam menjaga kestabilan kawasan serta meningkatkan kerja sama ekonomi dan politik.
Kunjungan Xi ke Korea Utara terjadi dalam konteks perubahan dinamika regional. Pada bulan April 2024, Pyongyang dan Moskow menandatangani Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif, yang mencakup komitmen untuk kerja sama pertahanan. Perjanjian ini dianggap sebagai langkah kunci dalam memperkuat hubungan bilateral antara kedua negara, terutama dalam menghadapi tekanan internasional terhadap program nuklir Korea Utara.
Sebelumnya, Xi juga menjamu Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Beijing dalam waktu yang hampir bersamaan. Pada pertemuan dengan Trump, mereka menegaskan kembali tujuan bersama untuk mencapai denuklirisasi Korea Utara. Sementara itu, dalam pertemuan dengan Putin, fokus utama adalah tentang koordinasi dalam isu geopolitik dan pembangunan ekonomi. Beijing belum memberikan rincian lengkap mengenai pembicaraan tersebut, tetapi menyatakan bahwa negara itu sedang berupaya dengan “caranya sendiri” menuju “penyelesaian politik” masalah nuklir.
Kehadiran Xi di Pyongyang juga memicu spekulasi bahwa ia akan memainkan peran sebagai mediator antara Trump dan Kim. Meski demikian, pihak Tiongkok menekankan bahwa kebijakan luar negeri mereka tetap berfokus pada kepentingan strategis negara. Tiongkok tetap menjadi mitra ekonomi utama Korea Utara, dengan perdagangan antara keduanya mencapai 2,79 miliar dolar AS (Rp50,4 triliun) pada tahun lalu, mencerminkan kenaikan signifikan setelah masa pandemi virus corona.
Dalam upaya mengembangkan hubungan ekonomi, layanan kereta penumpang antara kedua negara telah diluncurkan kembali pada Maret 2024, menandai penangguhan selama enam tahun akibat wabah virus. Selain itu, penerbangan langsung oleh Air China antara ibu kota juga kembali beroperasi, memperkuat akses logistik antara Tiongkok dan Korea Utara. Tahun ini juga merayakan peringatan ke-65 Perjanjian Persahabatan, Kerja Sama, dan Bantuan Timbal Balik Tiongkok-Korea Utara, yang merupakan satu-satunya pakta pertahanan yang dimiliki China dengan negara manapun.
Dari data bank sentral Korea Selatan, ekonomi Korea Utara diperkirakan tumbuh sebesar 3,7 persen pada 2024, yang merupakan ekspansi terbesar dalam delapan tahun terakhir. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan ekspor, serta kemajuan di sektor konstruksi dan manufaktur. Kebijakan pemerintah Kim dalam mengurangi ketergantungan pada bantuan luar negeri terlihat dari kebijakan perekonomian yang makin mandiri. Meski Korea Utara tetap mempertahankan program nuklirnya, pertumbuhan ekonomi menunjukkan penyesuaian yang positif terhadap tekanan internasional.
Xi dan Kim terakhir kali bertemu pada September 2024, saat Kim menghadiri parade militer Tiongkok di Beijing untuk memperingati ulang tahun ke-80 Kemenangan Perang Tiongkok. Acara tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat ikatan persahabatan antara kedua pemimpin. Pertemuan ini juga menjadi pembukaan untuk membicarakan langkah-langkah ke depan, termasuk pendekatan terhadap isu nuklir dan stabilitas wilayah.
Dengan kunjungan ini, Xi diharapkan dapat memperkenalkan visi baru bagi hubungan Tiongkok-Korea Utara. Meski ada kesenjangan pandangan mengenai nuklir, pihak Tiongkok tetap menawarkan dukungan ekonomi yang signifikan. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa Tiongkok masih menjunjung tinggi kepentingan Korea Utara dalam konteks kebijakan luar negeri mereka. Pertemuan antara Xi dan Kim diharapkan menjadi langkah penting dalam mengarahkan hubungan bilateral ke arah yang lebih stabil dan berkelanjutan.