Bandara Frans Seda tutup akibat erupsi Lewotobi Laki-Laki
Bandara Frans Seda Maumere Tutup Akibat Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki
Kondisi Terkini Bandara dan Dampak Erupsi
Bandara Frans Seda tutup akibat erupsi – Kupang, Senin (8/6) – Penerbangan di Bandara Frans Seda Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, masih terhenti hingga hari ini sebagai dampak dari letusan Gunung Lewotobi Laki-Laki di Flores Timur. Abu vulkanik yang terus menyebar mengancam keselamatan operasional, sehingga manajemen bandara memutuskan untuk menghentikan semua aktivitas penerbangan. Erupsi ini telah mengganggu perjalanan udara sejak Jumat (5/6) lalu, dan situasi belum menunjukkan tanda-tanda membaik hingga hari ini.
“Hari ini kita masih menutup bandara sampai besok, 9 Juni,” kata Partahian Panjaitan, Kepala Unit Penyelenggara Bandara Fransiskus Xaverius Seda Maumere, kepada awak media. Ia menjelaskan, penutupan dilakukan sebagai langkah pencegahan karena abu vulkanik terus menghiasi wilayah udara bandara. Penyebaran partikel tersebut dianggap membahayakan pesawat dan penumpang, terutama jika konsentrasi abu mencapai tingkat kritis.
Penutupan Berlanjut Hingga Selasa (9/6)
Menurut Partahian, operasional bandara akan tetap dihentikan selama abu vulkanik belum benar-benar berkurang. “Kita memantau kondisi secara berkala, dan jika abu masih menghalangi, penerbangan tetap terganggu,” tambahnya. Penutupan ini memengaruhi rute antara Maumere dengan Kupang, membuat perjalanan udara antar kota terhambat. Sementara itu, pihak bandara tetap berupaya membersihkan jalur pendaratan setiap satu jam, namun efektivitasnya terbatas karena abu kembali mengalir ke arah yang sama.
Proses Pembersihan dan Perubahan Arah Angin
Situasi letusan Gunung Lewotobi Laki-Laki terus menjadi sorotan, terutama karena arah angin belum berubah. Abu yang terlempar dari puncak gunung secara konsisten mengarah ke Bandara Frans Seda, sehingga petugas harus terus-menerus menangani partikel tersebut. Meski ada upaya pembersihan, abu masih menyelimuti lapangan udara dengan ketebalan yang mengkhawatirkan. Partahian menjelaskan, kondisi ini memaksa pihak bandara mengambil langkah hati-hati untuk menghindari risiko terjebak dalam badai abu.
“Kita melakukan pembersihan setiap satu jam, tetapi abu kembali menghalangi jalur pendaratan dalam waktu singkat,” kata Partahian. Ia menambahkan, pihak bandara juga memperketat pengawasan terhadap kepadatan abu vulkanik yang mungkin mengganggu visual penerbangan. Untuk mencegah kecelakaan, semua keputusan diambil berdasarkan data dan evaluasi yang dilakukan secara terus-menerus.
Langkah Mitigasi dari Pihak Pemangku Kepentingan
Pihak Bandara Frans Seda tidak hanya mengandalkan langkah sendiri, tetapi juga berkoordinasi dengan berbagai instansi terkait. Sutrisno, Pejabat Sementara General Manager PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) Bandar Udara Internasional El Tari Kupang, menegaskan bahwa penutupan penerbangan sementara adalah bentuk mitigasi yang diambil demi menjaga keamanan. “Kita memutuskan ini setelah mempertimbangkan risiko yang berpotensi mengancam keselamatan pesawat,” katanya.
“Penutupan terjadi karena adanya konsentrasi abu vulkanik yang tinggi, dan kita harus tetap mengutamakan keselamatan penumpang,” lanjut Sutrisno. Ia menjelaskan, keputusan ini diambil setelah konsultasi dengan BMKG dan otoritas bandar udara. Selain itu, pihak maskapai juga terlibat dalam mengambil langkah-langkah bersama untuk menyesuaikan jadwal penerbangan.
Operasional Normal di Bandara El Tari Kupang
Di sisi lain, Bandar Udara Internasional El Tari Kupang tetap beroperasi secara normal. Sutrisno menyatakan, penerbangan antar kota seperti ke bandara lain tidak terganggu meski rute Maumere-Kupang harus ditutup sementara. “Aktivitas di El Tari tetap berjalan sesuai prosedur karena kondisi udara di sana tidak terpengaruh langsung oleh erupsi Lewotobi Laki-Laki,” katanya.
Koordinasi dengan BMKG dan Otoritas Bandar Udara
Pihak PT Angkasa Pura Indonesia terus memantau perkembangan erupsi dan bekerja sama dengan BMKG untuk mengetahui pola penyebaran abu. Data dari lembaga tersebut menjadi acuan utama dalam menentukan waktu pembukaan kembali. Selain itu, komunikasi intensif dilakukan dengan otoritas bandar udara lokal dan nasional guna memastikan protokol keamanan diterapkan secara konsisten. Sutrisno menekankan bahwa setiap keputusan operasional diambil dengan prinsip utama keselamatan.
Proyeksi Waktu dan Persiapan untuk Pembukaan
Saat ini, pihak manajemen sedang menunggu konsultasi lebih lanjut dari BMKG dan tim ahli. Diperkirakan, penutupan penerbangan akan berlangsung hingga Selasa (9/6), setelah beberapa hari pemantauan dan evaluasi. Partahian menyampaikan bahwa petugas bersiap untuk memberi laporan harian kepada pihak berwenang. “Kita ingin pastikan abu tidak lagi mengganggu operasional, sehingga bisa segera membuka kembali penerbangan,” katanya.
Sementara itu, penumpang yang terdampak dianjurkan untuk mengikuti informasi terkini dari maskapai atau pihak bandara. Sejumlah maskapai telah mengubah jadwal penerbangan atau mengambil rute alternatif. Kondisi ini juga memengaruhi ekonomi lokal, khususnya sektor pariwisata dan logistik, karena akses udara menjadi terbatas. Meski demikian, pihak terkait yakin situasi akan membaik seiring waktu, selama erupsi tidak berlanjut dalam skala yang lebih besar.
Keselamatan sebagai Prioritas Utama
Sutrisno mengingatkan bahwa penutupan bandara bukan hanya untuk kepentingan sesaat, tetapi sebagai langkah jangka panjang. “Kita ingin memastikan bahwa semua persyaratan keselamatan terpenuhi sebelum membuka kembali,” katanya. Dengan tetap memantau kondisi lingkungan dan memperbarui informasi ke pengguna jasa, pihak bandara berupaya memberikan layanan terbaik meski harus mengalami