Main Agenda: Imam masjid pegang peran strategis bangun peradaban umat

Imam Masjid Jadi Penjaga Nilai Agama dan Pembangun Peradaban

Kegiatan Istigosah dan Tabligh Akbar di Makassar

Main Agenda – Di Makassar, Kementerian Agama Republik Indonesia diwakili oleh KH Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa peran imam masjid sangat vital dalam memajukan peradaban umat Islam sekaligus menjaga nilai-nilai keagamaan yang moderat. Pernyataan tersebut disampaikannya saat membuka acara Istigosah dan Tabligh Akbar yang diselenggarakan oleh Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) di Masjid Al-Markaz Al-Islami, Sulawesi Selatan, pada hari Minggu. Acara ini menjadi platform untuk memperkuat kehadiran imam sebagai pemimpin spiritual dan pengusung harmoni di tengah masyarakat.

“Imam adalah moderator atau perantara manusia dengan Tuhannya, sementara masjid menjadi titik pertemuan antara manusia dengan Sang Pencipta,” ujar KH Nasaruddin Umar dalam sambutan pembukaannya.

Dalam pidatonya, Menag RI ini menekankan bahwa imam memiliki posisi yang mulia dalam kehidupan masyarakat Muslim. Ia menjelaskan bahwa sosok imam bukan hanya seorang pemimpin salat, tetapi juga menjadi sumber inspirasi dalam menjaga hubungan spiritual antara umat dengan Tuhan. Menurutnya, peran imam mesti dihargai sebagai katalisator perubahan yang lebih luas dalam masyarakat.

KH Nasaruddin Umar juga mengutip beberapa pendapat ulama mengenai keutamaan menjadi imam. Salah satu poin yang ditekankannya adalah keistimewaan seorang imam yang konsisten memimpin ibadah selama sembilan tahun tanpa terputus. Ia menyebutkan bahwa hal ini bisa menjadi jaminan kemuliaan di sisi Allah SWT. “Karena itu, saya mengajak para imam untuk terus menjaga dedikasi dan keikhlasan dalam menjalankan tugasnya,” tambahnya.

Kegiatan yang dihadiri oleh para imam, tokoh agama, akademisi, serta masyarakat umum ini menjadi bagian dari upaya memperkuat konsolidasi peran masjid dan imam dalam membentuk masyarakat yang damai, moderat, dan berkeadilan. Menurut Menag, IPIM telah berperan penting dalam membangun jaringan dan kapasitas para imam di berbagai wilayah Indonesia. “Kita telah berhasil menumbuhkan kegiatan serupa di Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, hingga Jawa Timur,” ujarnya.

Dalam sambutannya, ia juga menyoroti pentingnya kemitraan antara organisasi seperti IPIM dengan pihak-pihak lain untuk menciptakan lingkungan yang kondusif. “Hari ini kita mengumpulkan seluruh pengurus IPIM hingga tingkat kelurahan dan desa. Kami berterima kasih kepada pengurus wilayah Sulawesi Selatan yang telah berjuang mempersiapkan acara ini dengan baik,” kata Menag.

“Kita ingin tampil sebagai pembawa pencerahan. Indonesia hadir untuk menunjukkan wajah Islam yang damai, moderat, dan penuh kasih sayang,” ucapnya.

KH Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga wadah bagi interaksi sosial dan spiritual. Ia menekankan bahwa imam masjid mesti menjadi teladan dalam menghadirkan nilai-nilai Islam yang mencerahkan. “Islam tidak boleh dipahami sebagai agama yang keras, tetapi sebagai kekuatan yang mampu membawa kedamaian dan rasa kasih kepada seluruh alam,” tegasnya.

Menurut Menag, peran imam dan masjid sangat strategis dalam menghadapi tantangan global terhadap Islam. “Indonesia memiliki tanggung jawab besar untuk memperlihatkan Islam sebagai agama yang inklusif dan penuh rahmat,” imbuhnya. Ia mengharapkan agenda pertemuan para imam yang rutin diadakan di berbagai daerah bisa memperkuat posisi Indonesia dalam pergulatan dunia Islam modern.

Dalam konteks global, KH Nasaruddin Umar menyoroti potensi Indonesia sebagai pusat peradaban Islam yang modern. Ia menilai bahwa pemahaman Islam yang tepat mampu mengubah persepsi negatif yang sering diangkat oleh pihak tertentu. “Kita ingin menunjukkan bagaimana Islam mengajarkan cinta, harmoni, dan peradaban yang melampaui batas-batas kebudayaan,” paparnya.

Kehadiran imam di berbagai tingkatan masyarakat, menurut Menag, bisa memperkuat konsistensi pesan perdamaian dan keadaban. “Dengan konsistensi, imam tidak hanya menjadi penghulu salat, tetapi juga pengayom yang mampu mengubah pola pikir dan sikap masyarakat,” ujarnya. Ia juga mengajak para imam untuk terus memperluas wawasan dan keterampilan dalam menjalankan tugasnya.

Acara Istigosah dan Tabligh Akbar yang dihadiri oleh ribuan peserta ini menunjukkan semangat kolaborasi antara lembaga-lembaga keagamaan dan masyarakat. Dengan keberadaan para imam yang kompeten, Menag optimis Indonesia bisa menjadi pusat kekuatan spiritual yang mampu membangun peradaban global yang lebih sejalan. “Kita ingin menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang mampu menggabungkan kekerasan dan kelembutan, kehati-hatian dan keberanian,” pungkasnya.

Menurutnya, kegiatan seperti ini juga menjadi sarana untuk mengupayakan moderasi beragama di tengah keberagaman budaya dan masyarakat. “Selain itu, kehadiran imam dan masjid bisa menjembatani antara agama dan kehidupan sosial, agar tidak ada kesan saling menjauh,” imbuhnya. Konsistensi dalam menjalankan tugas sebagai pemimpin ibadah, menurut KH Nasaruddin Umar, menjadi bentuk penegasan identitas keagamaan yang berakar pada nilai-nilai universal.

IPIM, sebagai organisasi yang terus bergerak di berbagai daerah, dianggap sebagai mitra penting dalam upaya menciptakan keharmonisan antarumat beragama. Kehadiran para pemimpin masjid di acara ini menunjukkan keseriusan mereka dalam menjaga keberlanjutan pesan Islam yang damai. “Kita harus terus berupaya agar Islam bisa diterima oleh semua kalangan, baik dalam konteks lokal maupun internasional,” tuturnya.

Dengan penguatan peran imam dan masjid, KH Nasaruddin Umar yakin bahwa peradaban Islam di Indonesia akan semakin muncul sebagai bentuk kekuatan yang positif. “Masa depan peradaban Islam modern harus didorong oleh kegiatan seperti ini, yang mampu menyatukan hati dan pikiran umat manusia,” pungkasnya. Pidato tersebut menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat peran keagamaan dalam pembangunan nasional dan keberagaman sosial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *