Visit Agenda: Umat Hindu masih ramaikan Pura Jagatnatha di malam Galungan
Umat Hindu Masih Ramaikan Pura Jagatnatha di Malam Galungan
Visit Agenda – Denpasar, pada malam Hari Raya Galungan, pengunjung masih membanjiri Pura Agung Jagatnatha di Denpasar. Sejak pagi hari, banyak masyarakat yang datang untuk melakukan persembahyangan, tetapi jumlah pengunjung semakin meningkat setelah pukul 8 malam, demikian kata Pemangku sekaligus Pemimpin Pura Agung Jagatnatha Denpasar, Ida Bagus Saskara. Ia menjelaskan bahwa kehadiran umat Hindu di pura tersebut menjadi tradisi yang rutin dilakukan, terutama untuk memperingati hari raya yang merupakan momen penting dalam kalender keagamaan Bali.
Tradisi yang Dimainkan
Mengenai urutan kunjungan ke berbagai pura, Tuaji Mangku, panggilan akrab Ida Bagus Saskara, menyampaikan bahwa kebiasaan ini selalu diikuti. Sebelum tiba di Pura Agung Jagatnatha, umat Hindu biasanya melakukan persembahyangan di pura-pura lain terlebih dahulu. Bagi warga Denpasar yang tinggal di kota tersebut atau tidak terlalu aktif melakukan persembahyangan keliling, mereka memilih datang ke Jagatnatha pada siang hari. Namun, bagi yang memiliki banyak pura keluarga atau harus pulang ke kampung halaman, kehadiran di malam hari lebih umum.
“Di Hari Raya Galungan, masyarakat umumnya terlebih dahulu melakukan persembahyangan di rumah pribadi untuk memuja para leluhur, lalu menuju Pura Kawitan sebagai pusat pemujaan, setelah itu baru ke Pura Kahyangan Tiga sebagai tempat suci wajib di desa adat, dan akhirnya ke Jagatnatha sebagai Pura Kahyangan Jagat,” ujar Tuaji Mangku.
Ia menambahkan bahwa ada kelompok umat yang setelah menyelesaikan persembahyangan di Kahyangan Tiga kembali ke kampung halaman, seperti Gianyar, Klungkung, atau Tabanan. Mereka biasanya kembali ke Denpasar di sore hari karena besok harus kembali beraktivitas, sehingga persembahyangan di Jagatnatha dilakukan pada malam hari. “Ini adalah tradisi yang sudah melekat, bahkan terkadang mereka berkumpul bersama teman-teman banjar di malam hari,” tambahnya.
Kehadiran Remaja dan Anak-Anak
Malam Galungan juga menjadi momen yang menarik perhatian remaja dan anak-anak. Mereka sering berkeliling untuk melibatkan diri dalam tradisi Ngelawang atau menonton pertunjukan Barong Bangkung. Aktivitas ini memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk merasakan nuansa keagamaan yang unik, sekaligus memperkaya pemahaman mereka tentang budaya Bali. “Suasana malam hari sangat hidup, karena banyak remaja dan anak yang menghadiri acara ini,” jelas Tuaji Mangku.
Dalam perayaan Galungan, jumlah pengunjung yang hadir di Pura Jagatnatha mencapai ribuan orang. “Biasanya, keramaian ini terasa hingga pukul 12 malam, setelah itu jumlah pemedek mulai berkurang secara perlahan,” katanya. Ia menegaskan bahwa suasana di malam hari tidak pernah sepi, terutama karena kehadiran para pengunjung yang bermacam usia dan latar belakang.
Kepentingan Spiritual
Menurut Tuaji Mangku, antusiasme umat Hindu dalam memperingati Galungan berdasarkan pemaknaan yang mendalam. Hari Raya ini dianggap sebagai momentum untuk menegaskan kemenangan kebaikan atau dharma melawan adharma. “Galungan bukan hanya hari raya biasa, tetapi juga kesempatan untuk memohon keberkahan dari para leluhur,” katanya.
Ia menyoroti bahwa pilihan pura yang didatangi umat Hindu tidak sembarang. Setiap tempat ibadah memiliki peran dan makna tersendiri, sesuai dengan sumber sastra Lontar Sundarigama yang dibuat oleh Ida Betara Danghyang Nirartha. “Pura Jagatnatha adalah salah satu dari tiga kahyangan utama dalam kepercayaan Hindu Bali,” tuturnya. “Di sini, umat memohon kerahayuan, kerahajeng-an, dan keharmonisan dari leluhur, lalu mengakhiri dengan doa di Pura Kahyangan Jagat agar diberi keberkahan dalam kehidupan sehari-hari.”
Dalam perayaan Galungan, tiga pemangku agama bergantian memimpin persembahyangan. Mereka adalah Tuaji Mangku Ida Bagus Saskara, Jro Mangku Pande Nyoman Dharma, dan Jro Mangku Nyoman Sudarma. Tugas mereka melibatkan pengelolaan acara serta memastikan kegiatan berjalan lancar sesuai adat istiadat. “Ketiga pemangku ini memegang peran penting dalam mengkoordinasikan ritual dan menjaga kekonsistenan tradisi,” ujar Tuaji Mangku.
Salah satu pemedek yang hadir, Nyoman Ayu Trisna (26), mengatakan bahwa ia terbiasa melakukan persembahyangan di malam hari. “Malam hari adalah waktu yang paling tepat untuk berkumpul dengan teman-teman banjar, karena pagi dan siang saya habiskan bersama keluarga, sementara sore hari biasanya istirahat,” katanya. Ia juga menyebutkan bahwa kehadiran di Jagatnatha pada malam hari membuatnya bisa menikmati kegiatan yang lebih santai, sekaligus bersiap untuk pulang sambil makan bersama.
Dalam konteks kehidupan sosial, Galungan dianggap sebagai sarana memperkuat ikatan komunitas. Pura Jagatnatha menjadi pusat kegiatan yang menggabungkan ritual spiritual dan interaksi antarumat. “Momen ini memberikan ruang bagi kita untuk saling berbagi dan merayakan kebersamaan, sambil tetap menghormati tradisi,” katanya. Ia menambahkan bahwa kehadiran masyarakat di pura juga mencerminkan rasa syukur terhadap kehidupan yang dijalani, sekaligus doa untuk keselamatan dan keberkahan di masa depan.
Selain itu, Galungan juga menjadi hari untuk mengingat kembali nilai-nilai kebaikan dan keseimbangan. “Kita menggali makna kemenangan dharma, agar dapat menjadi inspirasi dalam hidup sehari-hari,” kata Tuaji Mangku. Ia menekankan bahwa perayaan ini tidak hanya tentang kegiatan fisik, tetapi juga peningkatan kesadaran akan pentingnya menjaga harmoni antara manusia dan alam semesta.
Sebagai bagian dari tradisi Bali yang kaya, Galungan tetap menjadi hari yang sangat dinantikan oleh umat Hindu. Dengan kehadiran masyarakat yang memadati Pura Jagatnatha, suasana malam hari di Denpasar terasa semakin hangat dan penuh makna. “Galungan adalah simbol keberlanjutan budaya dan spiritualitas,” tuturnya. “Melalui persembahyangan di Jagatnatha, kita berharap mendapatkan keberkahan yang mampu menopang kehidupan di jagat ini.”