Key Strategy: G7 luncurkan aliansi mineral kritis, kurangi ketergantungan ke China
G7 Luncurkan Aliansi Mineral Kritis untuk Kurangi Ketergantungan pada China
Key Strategy dalam Keberlanjutan Ekonomi Global
Key Strategy menjadi fokus utama dalam deklarasi baru oleh G7, yang meluncurkan aliansi mineral kritis sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada China. Dalam pertemuan di London, para pemimpin kelompok negara tersebut menegaskan pentingnya keberagaman sumber daya strategis untuk mendukung sektor digital dan energi hijau. Aliansi ini bertujuan memastikan stabilitas rantai pasok global, sekaligus mengurangi risiko geopolitik akibat dominasi China dalam produksi mineral vital.
Target Produksi Mineral dalam 10 Tahun
Aliansi Ketahanan dan Produksi Mineral Kritis diharapkan menjadi pilar dalam mengamankan pasokan bahan baku. Para menteri G7 menargetkan penurunan ketergantungan pada negara-negara ekspor di luar China hingga di bawah 60 persen pada tahun 2030. Tujuan jangka pendek mereka adalah mencapai angka 50 persen secepat mungkin. Untuk mempercepat progres, langkah ini mencakup pengembangan strategi spesifik bagi mineral kritis lainnya sebelum akhir tahun ini.
Dengan melibatkan negara-negara seperti Australia, Chili, Indonesia, dan Kongo, G7 berharap memperkuat ekosistem produksi domestik. Hal ini penting karena China masih mendominasi pemurnian dan pemrosesan 90 persen tanah jarang, serta 80 persen grafit berkualitas untuk baterai. Mereka menegaskan bahwa Key Strategy ini tidak hanya mengurangi risiko ketidakstabilan ekonomi, tetapi juga memastikan keberlanjutan industri di masa depan.
Inisiatif untuk Membangun Rantai Pasok Alternatif
Pengurangan ketergantungan pada China juga melibatkan pembentukan jaring pengaman ekonomi. Berbagai instrumen seperti subsidi selisih harga, pengadaan bersama, dan penentuan harga minimum diperkenalkan untuk melindungi industri dari fluktuasi pasar. Selain itu, G7 berkomitmen menetapkan standar ketertelusuran baru, yang akan dimulai dengan dua mineral percontohan: litium dan nikel.
Key Strategy ini memberikan peluang untuk mengoptimalkan efisiensi rantai pasok global. Dengan menggandeng mitra-mitra ekspor mineral, G7 ingin mempercepat pengolahan bahan baku dan mengurangi ketergantungan pada infrastruktur China. Contohnya, Australia yang dominan dalam ekspor litium, Chili sebagai produsen tembaga, serta Indonesia dan Kongo sebagai sumber nikel dan kobalt akan dipersatukan dalam kebijakan yang lebih terpadu.
Langkah Kebijakan untuk Memperkuat Kemandirian
Pengurangan ketergantungan pada China juga memerlukan perubahan dalam kebijakan ekonomi. G7 mengusulkan investasi besar-besaran ke sektor mineral kritis, termasuk 195 proyek yang telah diumumkan sejak awal 2026. Dana sebesar 64 miliar Euro akan digunakan untuk mempercepat produksi dan pengolahan, sekaligus mendukung Key Strategy dalam menghadapi era transisi energi dan digitalisasi yang semakin cepat.
Deklarasi bersama menyoroti pentingnya kolaborasi antarnegara untuk mencapai tujuan ini. Amerika Serikat dan Kanada, yang masih kurang dalam produksi pemurnian, serta Uni Eropa dengan kebijakan lingkungan ketat, akan diuntungkan dari kebijakan ini. Key Strategy G7 juga bertujuan memastikan mineral-mineral tersebut dihasilkan secara ramah lingkungan dan transparan, sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan.
Perkembangan Rantai Pasok dan Kontribusi Global
Melalui Key Strategy ini, G7 berharap memperkuat kemandirian negara-negara Barat. Aliansi ini dianggap sebagai bagian dari upaya global untuk meredistribusi kekuatan ekonomi dan mengurangi risiko krisis akibat kebijakan China. Dengan menetapkan standar ketertelusuran, G7 berkomitmen memastikan transparansi dalam produksi dan distribusi mineral kritis, yang menjadi fondasi utama dari inisiatif ini.