Topics Covered: Menpora ingatkan jangan ada pembajakan atlet untuk PON 2028
Menpora Peringatkan Agar Tidak Ada Pembajakan Atlet untuk PON 2028
Topics Covered – Jakarta, Senin – Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, memberikan himbauan penting kepada para pelaku olahraga di berbagai daerah agar tidak melakukan praktik pembajakan atlet. Ia menegaskan bahwa PON 2028 tidak boleh menjadi ajang yang hanya mengandalkan perekrutan atlet dari wilayah lain untuk meningkatkan peluang kemenangan kontingen tertentu. “PON 2028 harus menjadi wadah yang adil bagi seluruh daerah di Indonesia untuk menampilkan keunggulan atlet yang telah dibina secara lokal,” ujarnya dalam wawancara dengan media setelah rapat persiapan PON 2026 di ibukota.
PON Sebagai Momentum Pengembangan Atlet Lokal
Erick Thohir menekankan bahwa penyelenggaraan PON adalah kesempatan strategis bagi setiap daerah untuk memperlihatkan hasil dari program pembinaan olahraga yang telah dijalankan. Menurutnya, jika terjadi pembajakan atlet, maka potensi olahraga dari daerah-daerah lain akan terabaikan. “PON bukan hanya ajang kompetisi, tapi juga sarana untuk menilai kemampuan atlet dari setiap wilayah,” tutur Menpora. Ia berharap semua daerah bisa merasa nyaman dan memiliki rasa percaya diri dalam menampilkan atlet yang mereka latih.
“Jangan sampai PON 2028 menjadi ajang yang menarik atlet dari daerah satu ke daerah lain, sehingga pengembangan atlet lokal justru terganggu,” kata Erick Thohir.
Menpora juga menyoroti pentingnya koordinasi antara berbagai pihak, terutama dengan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), agar tidak ada kesalahpahaman dalam proses persiapan. Ia menyebutkan bahwa rapat konsolidasi dengan KONI akan dilakukan segera untuk menyelaraskan rencana dan menghindari tumpang tindih. “Kita perlu memastikan bahwa semua cabang olahraga yang dipertandingkan memiliki anggaran yang memadai,” tambahnya.
Dalam upaya memperkuat persiapan PON 2028, Erick Thohir mengingatkan bahwa seluruh daerah harus fokus pada pembinaan atlet yang sesuai dengan kekhasan olahraga mereka. Ia menekankan bahwa pendekatan ini akan menghasilkan atlet yang lebih tangguh dan mampu mengikuti persaingan tingkat nasional. “Setiap daerah memiliki keunikan, jadi kita harus memanfaatkan potensi tersebut secara optimal,” ujarnya.
Peran KONI dalam Pengelolaan Anggaran
Menpora mengatakan bahwa KONI akan diminta untuk melibatkan diri dalam mengatur penggunaan dana dan menentukan cabang olahraga yang akan dipertandingkan. “Kita perlu memastikan bahwa semua cabang olahraga yang dipilih memiliki basis yang kuat dan dapat diakses oleh atlet dari berbagai daerah,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa koordinasi ini penting untuk menjaga keberlanjutan kegiatan olahraga di tingkat nasional.
“Jangan sampai kita semua setuju untuk mempertandingkan suatu cabang, tapi anggarannya tidak siap. Kita harus melakukan pengelolaan yang efektif dan efisien,” kata Erick Thohir.
Menpora juga menyampaikan bahwa pemerintah telah memberikan arahan jelas terkait pembangunan arena PON 2028. Ia menegaskan bahwa tidak akan ada arena baru yang dibangun selama penyelenggaraan tersebut. “Kita ingin menghindari pemborosan anggaran dan fokus pada peningkatan kualitas atlet serta infrastruktur yang sudah ada,” ujarnya.
Dalam kesimpulannya, Erick Thohir berharap PON 2028 dapat berjalan lancar dan sukses secara utuh, baik dalam hal prestasi maupun administrasi. Ia menyatakan bahwa keberhasilan acara ini bergantung pada kolaborasi yang baik antara pemerintah pusat, KONI, serta pihak daerah. “Kita perlu mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bekerja sama dengan semangat gotong royong,” pungkas Menpora.
PON 2028 akan digelar di tiga provinsi, yaitu Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan DKI Jakarta sebagai penyangga. Menpora menekankan bahwa pengelolaan anggaran harus lebih terarah dan tidak terbuang percuma. “Kita tidak boleh terjebak dalam cara kerja yang tidak efisien seperti di masa lalu,” ujarnya.
“PON adalah momentum untuk menilai kemampuan atlet dari setiap daerah. Jadi, kita harus memastikan bahwa setiap atlet yang mewakili daerahnya memiliki peluang yang sama,” kata Erick Thohir.
Menpora juga mengajak para pengurus olahraga di daerah untuk terus berinovasi dalam pembinaan. Ia menyarankan bahwa setiap daerah dapat menyesuaikan strategi berdasarkan kekhasan olahraga dan fasilitas pendukung yang dimiliki. “Dengan cara ini, kita bisa menciptakan atlet yang berkualitas dan memiliki daya saing tinggi,” katanya.
Dalam jangka panjang, kebijakan pembinaan yang lokal akan membantu mengurangi ketergantungan pada pembajakan atlet. Menpora menuturkan bahwa atlet yang dihasilkan dari daerah mereka sendiri akan lebih memahami kondisi lokal dan memiliki komitmen yang lebih kuat. “Kita perlu membangun atlet yang tidak hanya mampu menang di tingkat nasional, tapi juga mampu mewakili Indonesia di kancah internasional,” tambahnya.
Selain itu, Menpora meminta agar semua pihak bersama-sama mengawasi perekrutan atlet agar tidak ada praktik yang memperkaya daerah tertentu sementara daerah lain terabaikan. Ia menegaskan bahwa ini adalah bentuk kesetaraan yang harus dijaga dalam dunia olahraga. “Jika kita tidak mengatasi masalah pembajakan, maka PON 2028 bisa menjadi alat untuk memperlebar perbedaan antara daerah satu dengan daerah lain,” ujarnya.
Menpora berharap PON 2028 menjadi tolak ukur keberhasilan pembinaan olahraga di berbagai daerah. Ia menilai bahwa keberhasilan ini akan terwujud jika semua pihak memahami tujuan dan berkomitmen untuk mencapainya. “Kita harus memastikan bahwa PON tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tapi juga jembatan untuk membangun potensi atlet di setiap wilayah,” pungkas Erick Thohir.