Meeting Results: Pemimpin Hizbullah tuntut penarikan penuh pasukan Israel dari Lebanon

Pemimpin Hizbullah Tegaskan Harusnya Israel Mundur dari Lebanon

Meeting Results – Di Beirut, pada Selasa (23 Juni), Sekretaris Jenderal Hizbullah Naim Qassem menyatakan bahwa Israel tidak memiliki opsi selain menarik seluruh pasukannya dari Lebanon tanpa menyisakan wilayah pun. Pernyataan ini disampaikannya dalam sebuah pertemuan yang diadakan di kawasan selatan kota tersebut. Qassem menekankan pentingnya pelaksanaan penuh perjanjian gencatan senjata yang telah ditetapkan, dengan menegaskan bahwa kesepakatan tersebut harus dijalankan sepenuhnya.

Kegagalan Upaya Pemusnahan Hizbullah

Dalam wawancara dengan saluran televisi lokal Al-Manar, Qassem mengungkapkan bahwa Hizbullah dan Lebanon kini berada dalam “fase baru” yang ditandai oleh kegagalan taktik Israel untuk menghancurkan kelompok tersebut secara komprehensif. Ia menyebutkan bahwa upaya Israel yang bertujuan menghilangkan Hizbullah dari segi militer, politik, budaya, sosial, hingga akar manusianya telah gagal. Meskipun Israel telah menerapkan tekanan militer selama bertahun-tahun, Qassem menilai kelompok tersebut masih bertahan dan bahkan memperkuat posisinya.

“Tidak ada pilihan lain bagi Israel selain menarik diri dari seluruh wilayah Lebanon, karena mereka tidak mampu mempertahankan satu inci pun tanpa alasan yang sah,” ujarnya.

Qassem juga menyoroti bahwa kesuksesan Hizbullah dalam bertahan menunjukkan ketidakmampuan Israel mencapai tujuan utamanya, yaitu mengendalikan Lebanon secara lengkap. Ia menambahkan bahwa perlawanan yang dijalankan oleh Hizbullah tetap menjadi jaminan utama bagi kebebasan dan kedaulatan negara itu. Dalam konteks ini, Qassem mengecam peran aktor internasional, terutama Amerika Serikat, atas kegagalan memenuhi komitmen yang dijanjikan dalam perjanjian gencatan senjata 2024.

Dukungan Iran dan Kemitraan dengan Tentara Lebanon

Dalam pertemuan tersebut, Qassem juga memuji bantuan yang diberikan oleh Iran kepada Hizbullah dan Lebanon selama konflik. Ia menyatakan bahwa kerja sama antara kedua pihak telah menjadi faktor kunci dalam menghasilkan kemenangan terakhir atas upaya Israel. “Kerja sama Iran dengan Hizbullah dan Lebanon adalah bagian penting dari keberhasilan dalam menghadapi ancaman yang berlangsung,” tuturnya.

Menurut Qassem, dukungan dari Iran bukan hanya dalam bentuk senjata atau bantuan logistik, tetapi juga dalam strategi politik dan diplomatik. Ia menilai bahwa Iran telah menjadi pihak yang sangat vital dalam memastikan stabilitas Lebanon, terlepas dari tekanan yang terus-menerus diberikan oleh Israel. Selain itu, Qassem menyatakan bahwa keberhasilan ini adalah bukti dari keberlanjutan perjuangan Hizbullah, yang terus bergerak maju meskipun menghadapi berbagai tantangan.

Kondisi Pasca-Gencatan Senjata

Dalam menyoal langkah-langkah setelah gencatan senjata, Qassem menyerukan implementasi lima syarat utama. Syarat-syarat ini meliputi: penghentian total serangan Israel melalui udara, darat, dan laut; penarikan sepenuhnya pasukan Israel dari wilayah Lebanon; pengerahan pasukan Lebanon ke selatan untuk mengambil alih keamanan; pembebasan tahanan yang masih terjebak; serta pemulihan penduduk yang mengungsi ke daerah perbatasan.

Qassem menegaskan bahwa Hizbullah akan terus berkolaborasi dengan Tentara Lebanon di wilayah selatan, sementara menolak kehadiran Israel dalam urusan internal Lebanon atau pengaturan keamanan di masa depan. Ia memandang bahwa pasukan Israel tidak lagi diperlukan, karena Lebanon kini mampu mengatur sendiri kondisinya. “Hizbullah akan memastikan bahwa wilayah selatan dikuasai sepenuhnya oleh pasukan Lebanon, tanpa campur tangan dari Israel,” ujarnya.

Tantangan dan Kontroversi Gencatan Senjata

Dalam perjalannya, gencatan senjata antara Hizbullah dan Israel telah berlangsung selama lebih dari satu bulan. Meskipun demikian, Qassem menyebutkan bahwa dua warga Lebanon tewas akibat tembakan Israel pada hari Jumat (23/6), yang memicu tuduhan pelanggaran kesepakatan. Peristiwa ini menunjukkan bahwa perjanjian gencatan senjata masih menghadapi tantangan di lapangan, meskipun secara formal berlaku sejak 20 Juni.

Qassem mengkritik kelemahan dari pihak-pihak internasional yang tidak dapat menjaga kepatuhan terhadap perjanjian. Ia menilai bahwa upaya menepati komitmen yang dijanjikan dalam kesepakatan tersebut kurang memadai, sehingga menciptakan ketidakpastian dalam pengelolaan wilayah Lebanon. “Kegagalan negara-negara besar seperti Amerika Serikat memenuhi janji mereka berdampak langsung pada keberlanjutan perjanjian,” tambahnya.

Pemimpin Hizbullah ini juga menyoroti bahwa langkah-langkah yang diambil oleh Israel sejak awal perjanjian belum cukup untuk memastikan kemenangan. Meski tindakan militer terus dilakukan, Qassem berpendapat bahwa Israel belum mampu mengubah dinamika kekuasaan di Lebanon. Dengan mempertahankan pasukan di wilayah tertentu, ia menilai Israel masih berusaha mengendalikan situasi meski secara resmi sudah menghentikan konflik.

Sebagai tindak lanjut, Qassem menegaskan bahwa Hizbullah siap melanjutkan perjuangan mereka untuk memastikan keadilan bagi warga Lebanon. Ia menekankan bahwa kelompoknya akan terus memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan negara, dengan memastikan bahwa peran Israel dalam urusan internal Lebanon tidak akan berulang. “Hizbullah adalah garda depan dalam menegakkan hak-hak Lebanon, dan tidak akan menyerah meskipun menghadapi tekanan berkepanjangan,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *