Main Agenda: IHSG berpotensi mendatar seiring pasar cermati arah suku bunga global
Proyeksi IHSG Terkini: Stagnasi di Tengah Perhatian Pasar terhadap Kebijakan Moneter Global
Main Agenda – Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat diperkirakan akan mengalami stagnasi, karena para investor masih memantau langkah kebijakan suku bunga yang diambil oleh bank-bank sentral internasional. Pada pembukaan pasar, IHSG menguat sebesar 11,30 poin atau 0,19 persen, mencapai level 6.010,34. Namun, kelompok saham unggulan, yaitu Indeks LQ45, tercatat turun 0,71 poin atau 0,12 persen ke angka 587,04.
Analisis dari Kiwoom Sekuritas: IHSG Masih Rentan Koreksi
Menurut Liza Camelia Suryanata, yang merupakan Head of Research dari Kiwoom Sekuritas Indonesia, IHSG memiliki peluang untuk melanjutkan penguatannya, sehingga dapat menguji resistance terdekat yang berada di rentang 5.993–6.052. Jika berhasil menembus level tersebut, IHSG bisa menuju zona 6.117–6.226. Namun, jika tidak mampu memecahkan hambatan, indeks berisiko mengalami koreksi, dengan kemungkinan turun ke level 5.720. Support level utama yang mungkin akan menjadi titik penguatan selanjutnya berada di angka 5.784 dan 5.677.
“IHSG berpotensi melanjutkan penguatan untuk menguji kembali resistance terdekat di 5.993–6.052 dan berpeluang menuju area 6.117–6.226. Namun, masih rentan koreksi apabila gagal menembus resistance, dengan risiko penurunan menuju level 5.720, serta support lanjutan di 5.784 dan 5.677,” ujar Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.
Kebijakan The Fed dan Perkembangan Inflasi Mendorong Perhatian Pasar
Dari sisi global, Liza menyoroti bahwa pasar keuangan terus memantau kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) setelah bank sentral tersebut mengambil sikap lebih hawkish di bawah kepemimpinan Ketua baru Kevin Warsh. Meskipun tingkat inflasi masih tinggi, pasar mengharapkan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Juli 2026, sambil menunggu data lebih lanjut terkait perkembangan inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja.
Menurut Liza, jika inflasi inti tetap stabil di level saat ini hingga September 2026, peluang kenaikan suku bunga kembali meningkat. Hal ini bisa memengaruhi dinamika investasi, terutama dalam sektor-sektor yang sensitive terhadap perubahan biaya modal. Di sisi lain, kebijakan The Fed tetap menjadi fokus utama para investor, karena langkah mereka memiliki dampak signifikan terhadap arah pasar keuangan dunia.
Sentimen Geopolitik Berpotensi Mengganggu Stabilitas Pasar
Kemarin, sejumlah pelaku pasar memperhatikan insiden serangan terhadap kapal kargo berbendera Singapura di Selat Hormuz, dekat Oman. Dua pejabat senior Amerika Serikat (AS) menyatakan bahwa serangan tersebut dilakukan oleh Garda Revolusi Iran. Liza Camelia Suryanata mengatakan insiden ini berpotensi mengganggu jalur pelayaran energi global, serta menjadi hambatan bagi upaya perdamaian sementara antara AS dan Iran.
“Insiden itu berpotensi mengganggu stabilitas jalur pelayaran energi global, dan menjadi kemunduran bagi proses perdamaian sementara antara AS dan Iran yang sebelumnya telah membantu menurunkan harga minyak dan meredakan kekhawatiran inflasi global,” ujar Liza Camelia Suryanata.
Dari AS, data inflasi yang diterbitkan oleh Departemen Perdagangan menunjukkan bahwa indeks harga inti Personal Consumption Expenditures (PCE) pada Mei meningkat 0,3 persen (mtm) dan 3,4 persen (yoy). Meskipun hasil ini sesuai dengan ekspektasi pasar, angka tersebut masih lebih tinggi dari target inflasi The Fed, yaitu 2 persen. Kebijakan suku bunga yang dipertahankan di Juli 2026 tetap menjadi fokus utama, meski ada kemungkinan penyesuaian di masa mendatang.
Perubahan Kebijakan Domestik: Efisiensi MBG dan Penarikan Dana Himbara
Dalam hal domestik, pemerintah melakukan beberapa penyesuaian kebijakan fiskal dan program prioritas secara bersamaan. Salah satu langkah utama adalah efisiensi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang merupakan bagian dari upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Liza Camelia Suryanata menjelaskan bahwa anggaran MBG berpotensi dipangkas sekitar 15 persen, atau sekitar Rp40–50 triliun dari total Rp268 triliun. Hal ini diharapkan bisa mengurangi beban anggaran sekaligus memperketat kriteria penerimaan program tersebut.
Adapun jumlah penerima MBG akan berkurang menjadi sekitar 49 juta orang dari 62,5 juta sebelumnya. Selain itu, program penambahan dapur baru juga diputuskan untuk dihentikan sementara, sebagai bagian dari efisiensi anggaran. Kementerian Keuangan juga mulai menarik dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) dari Himbara dan Bank Indonesia (BI) secara bertahap. Dana SAL mencapai sekitar Rp420 triliun, yang sebelumnya disimpan di perbankan Himbara.
Kinerja Pasar Saham Global: Eropa Menguat, AS Variatif
Pada perdagangan Kamis (25/06), pasar saham Eropa menunjukkan kenaikan konsisten. Euro Stoxx 50 naik 0,93 persen, sementara FTSE 100 Inggris melanjutkan penguatan 0,65 persen. Di Jerman, DAX naik 1,03 persen, dan CAC 40 Prancis juga menguat 0,55 persen. Di sisi lain, bursa AS Wall Street mengalami gerakan yang beragam, dengan Indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,14 persen, sedangkan S&P 500 sedikit melemah 0,01 persen. Nasdaq Composite mencatatkan kenaikan 0,75 persen.
Penyesuaian Kebijakan: Strategi untuk Stabilkan Sistem Keuangan
Pemerintah Indonesia juga fokus pada penyesuaian kebijakan fiskal yang bertujuan menjaga keseimbangan anggaran dan stabilitas sistem keuangan. Liza Camelia Suryanata menekankan bahwa kebijakan ini adalah respons terhadap dinamika ekonomi global yang tak menunjukkan tanda-tanda kestabilan. Dengan efisiensi MBG dan penarikan SAL, pemerintah berusaha mengurangi defisit anggaran sambil tetap memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi.
Kebijakan penyesuaian ini mencakup pengurangan jumlah dapur baru yang ditambahkan ke dalam program MBG, sekaligus efisiensi dalam pengelolaan dana. Selain itu, penghentian sementara penambahan dapur baru dianggap sebagai langkah yang perlu dilakukan untuk mengoptimalkan penggunaan anggaran. Dengan adanya perubahan tersebut, pemerintah berharap dapat menciptakan efisiensi yang lebih besar dalam pemberdayaan masyarakat, khususnya dalam bidang kesehatan dan nutrisi.
Analisis Pasar Saham Asia: Nikkei dan Shanghai Mengalami Penurunan
Pada hari Jumat, bursa saham regional Asia mencatatkan kinerja yang beragam. Indeks Nikkei dari Jepang mengalami penurunan tajam sebesar 3,15 persen, mencapai 70.088,00. Sementara itu, bursa Shanghai melihat penurunan sebesar 1,22 persen ke 4.070,18. Indeks Hang Seng dari Hong Kong juga melemah 1,13 pers