Kementan: Kemarau pengaruhi musim tanam padi di Provinsi Bengkulu
Kemarau Berkepanjangan Menggeser Jadwal Tanam Padi di Bengkulu
Dampak El Niño Terhadap Musim Tanam
Kementan – Pejabat Kementerian Pertanian (Kementan) mengonfirmasi bahwa musim tanam padi di sepuluh kabupaten dan kota di Provinsi Bengkulu mengalami perubahan jadwal. Pergeseran ini terjadi sebagai respons terhadap musim kemarau yang melanda wilayah tersebut dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini memaksa para petani dan pemerintah daerah untuk menyesuaikan strategi pertanian mereka.
Andi Muhammad Idil Fitri, yang menjabat sebagai Kepala Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura di bawah Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan, sekaligus Penjabat Swasembada Pangan Provinsi Bengkulu, menyampaikan informasi ini di Rejang Lebong pada hari Kamis. Ia menjelaskan bahwa dampak fenomena El Niño telah mengubah pola iklim yang sebelumnya dapat diprediksi oleh para petani lokal.
“Musim tanam April-September atau Apsep ini pasti ada pergeseran, karena tidak bisa mengikuti iklim yang dulu. Puncak musim kekeringan ini diperkirakan akan terjadi pada September nanti,” kata Andi.
Target Produksi dan Luas Tanam 2026
Untuk tahun 2026, Provinsi Bengkulu menargetkan luas tanam padi mencapai 104.604 hektare. Target produksi gabah kering giling (GKG) ditetapkan sebesar 350 ribu ton. Angka-angka ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam meningkatkan ketahanan pangan nasional melalui program swasembada pangan.
Musim kemarau yang dipengaruhi oleh fenomena El Niño telah secara signifikan mengubah jadwal tanam Apsep. Namun, para ahli pertanian optimis bahwa wilayah Bengkulu akan memasuki musim hujan pada musim tanam Oktober-Maret (Okmar). Kondisi ini memberikan kesempatan bagi petani untuk melakukan penanaman ulang di lahan-lahan yang sempat terdampak kekeringan.
“Diupayakan untuk lahan yang memiliki sistem pengairan memadai pada Juli ini harus sudah melakukan penanaman. Kami terus mendorong selain dua musim tanam tadi ada musim tanam ketiga,” tegasnya.
Bantuan Pemerintah untuk Petani Bengkulu
Guna mendukung keberhasilan program swasembada pangan serta pencapaian target luas tanam dan produksi, pemerintah pusat melalui Kementan telah mengalokasikan berbagai bantuan untuk kelompok tani di Provinsi Bengkulu. Kabupaten Rejang Lebong menjadi salah satu daerah prioritas yang menerima bantuan tersebut.
Bantuan yang telah diusulkan melalui sistem Calon Petani Calon Lahan (CPCL) mencakup beberapa komponen penting. Pertama, benih padi reguler untuk lahan seluas 32.000 hektare. Kedua, optimalisasi lahan (oplah) untuk 3.000 hektare. Ketiga, CPCL untuk tanaman kopi dengan luas tanam mencapai 300 hektare. Komposisi bantuan ini dirancang untuk memaksimalkan produktivitas lahan pertanian yang ada.
Selain bantuan benih dan optimalisasi lahan, Kementan juga mengalokasikan program pembangunan infrastruktur pengairan. Sebanyak enam unit bantuan irigasi perpipaan (irpip) telah disiapkan untuk mendukung sistem pengairan di wilayah Bengkulu. Infrastruktur ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap curah hujan dan meningkatkan efisiensi penggunaan air.
Perencanaan Infrastruktur Jangka Panjang
Tahap pertama pembangunan irigasi tersier akan menjangkau sepuluh lokasi di Provinsi Bengkulu. Lokasi-lokasi ini dipilih berdasarkan potensi pertanian dan kebutuhan mendesak akan sistem pengairan yang lebih baik. Sementara itu, usulan untuk tahap kedua saat ini masih dalam proses verifikasi oleh tim teknis Kementan.
Upaya peningkatan infrastruktur pengairan ini sejalan dengan strategi jangka panjang pemerintah untuk membangun ketahanan pangan nasional. Dengan adanya sistem irigasi yang memadai, petani di Bengkulu diharapkan dapat melakukan tiga kali penanaman dalam satu tahun, bukan hanya dua kali seperti sebelumnya. Hal ini akan meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani secara signifikan.
Kondisi cuaca yang tidak menentu akibat perubahan iklim global menuntut adaptasi cepat dari seluruh pemangku kepentingan. Pemerintah daerah, petani, dan lembaga terkait terus berkoordinasi untuk memastikan bahwa program pertanian di Bengkulu dapat berjalan optimal meskipun menghadapi tantangan musim kemarau yang berkepanjangan.